Anak Penyintas Bencana Agam Bangkit dari Trauma dengan Voli di Bekas Lahan Banjir
Sekelompok Anak Penyintas Bencana Agam di Palembayan berupaya bangkit dari trauma pascabanjir bandang dengan bermain voli di bekas lahan bencana, menunjukkan semangat pantang menyerah.
Di tengah upaya pemulihan pascabencana, sekelompok anak penyintas di Sawah Laweh, Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menemukan cara unik untuk mengatasi trauma. Mereka mengisi waktu sore hari dengan bermain bola voli di lapangan tanah sederhana, bekas lokasi banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada 27 November 2025. Aktivitas ini menjadi simbol kebangkitan dan semangat di tengah duka yang masih membekas.
Dengan tawa dan senda gurau, anak-anak berusia 10 hingga 20 tahun ini melompat dan berinteraksi, seolah melupakan kejadian mengerikan yang menimpa mereka. Sementara itu, di sisi lain, para petugas dari TNI, Polri, Basarnas, BPBD, serta relawan masih berjibaku melakukan pemulihan infrastruktur dan membantu warga terdampak. Kontras antara kegembiraan anak-anak dan kerja keras petugas menunjukkan dinamika pemulihan pascabencana.
Inisiatif bermain voli ini tidak hanya sekadar mengisi waktu luang, tetapi juga menjadi terapi psikologis yang efektif bagi para Anak Penyintas Bencana Agam. Olahraga ini membantu mereka mengembalikan semangat dan menghilangkan bayang-bayang traumatis akibat kehilangan rumah dan bahkan anggota keluarga. Lokasi bermain yang merupakan bekas permukiman mereka menambahkan dimensi emosional pada kegiatan ini.
Voli: Upaya Pemulihan Trauma Anak Penyintas Bencana Agam
Kesya, salah seorang anak penyintas di Palembayan, menjelaskan bahwa olahraga ini memanfaatkan lokasi bekas bencana banjir bandang yang melanda daerah itu. "Lokasi ini sebelumnya banyak bangunan rumah dan setelah bencana rumah habis dibawa arus banjir bandang, sehingga kami manfaatkan untuk main bola voli setiap sore," katanya. Ini menunjukkan adaptasi dan kreativitas warga dalam menghadapi kondisi pascabencana.
Kegiatan olahraga voli ini telah dimulai sejak satu minggu lalu dan rutin dilakukan setiap sore, sekitar pukul 16.00 WIB hingga 18.00 WIB. Inisiatif positif ini muncul setelah pemilik lahan memberikan izin kepada pemuda di Sawah Laweh, Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia. Bahkan, pemilik lahan tersebut turut mendukung dengan memberikan biaya untuk membeli bola dan net pembatas.
Alvan Nova Rezi, anak penyintas lainnya, menambahkan bahwa olahraga ini dilakukan untuk mengisi waktu agar tidak bosan dan menjadi upaya menghilangkan traumatis. "Aktivitas tidak ada semenjak tinggal di lokasi pengungsian di SDN 05 Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan," ujarnya. Hal ini menggarisbawahi pentingnya kegiatan positif bagi Anak Penyintas Bencana Agam yang kehilangan rutinitas normal.
Banyak dari peserta voli ini adalah warga Sawah Laweh yang kehilangan orang tua atau adik akibat banjir bandang. Mereka saat ini tinggal di posko pengungsian, dan kegiatan voli ini menjadi pelipur lara di tengah kesedihan. Olahraga terbukti menjadi medium efektif untuk membangun kembali ikatan sosial dan mentalitas positif di antara para penyintas.
Skala Bencana dan Dampak Psikologis pada Anak Penyintas Bencana Agam
Bencana banjir bandang yang terjadi pada 27 November 2025, merupakan peristiwa tragis yang meninggalkan duka mendalam bagi warga Palembayan, Agam. Alvan Nova Rezi sendiri mengakui bahwa banjir bandang tersebut mengakibatkan orang tua laki-laki dan adiknya meninggal dunia, bersama dengan 135 warga lainnya di Kecamatan Palembayan. Rumahnya yang berjarak sekitar 135 kilometer dari ibu kota Kabupaten Agam di Lubuk Basung, juga hancur total dibawa arus banjir bandang.
"Saat kejadian saya sedang berada di Palembang dan langsung pulang ke kampung setelah mendapatkan informasi keluarganya menjadi korban," kenang Alvan. Pengalaman kehilangan dan kehancuran ini tentu meninggalkan bekas luka mendalam, terutama bagi anak-anak. Kondisi ini memperkuat urgensi adanya program pemulihan trauma yang terintegrasi.
Data menunjukkan bahwa bencana banjir bandang, tanah longsor, dan banjir yang melanda Agam pada 27 November 2025, menyebabkan dampak yang sangat besar. Sebanyak 166 orang meninggal dunia dan 36 orang dinyatakan hilang. Selain itu, 2.284 unit rumah rusak, 121 unit sekolah terdampak, serta fasilitas lainnya mengalami kerusakan parah.
Total kerugian akibat bencana yang melanda 16 kecamatan tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp6,51 triliun. Angka ini menggambarkan betapa masifnya dampak bencana terhadap infrastruktur dan perekonomian daerah. Di tengah skala kerusakan yang besar ini, kegiatan seperti bermain voli menjadi secercah harapan bagi Anak Penyintas Bencana Agam untuk bangkit.
Sumber: AntaraNews