LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

8 Kecamatan di Wonogiri dilanda kemarau, 60 ribu warga kekurangan air bersih

8 Kecamatan di Wonogiri dilanda kemarau, 60 ribu warga kekurangan air bersih. Berbagai upaya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Selain dropping air, upaya lain dengan pembangunan bak penampungan serta mengangkat air dari gua bawah tanah.

2017-08-23 21:36:00
Musim kemarau
Advertisement

Delapan kecamatan di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, kekeringan akibat musim kemarau. Delapan kecamatan tersebut yakni, Pracimantoro, Paranggupito, Giritontro, Nguntoronadi, Giriwoyo, Eromoko, Manyaran, dan Selogiri.

Sedikitnya 60 ribu warga yang berdomisili di delapan kecamatan tersebut terancam tak mendapatkan pasokan air bersih. Berbagai upaya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Selain dropping air, upaya lain dengan pembangunan bak penampungan serta mengangkat air dari gua bawah tanah.

Bupati Wonogiri Joko Sutopo mengatakan, dibutuhkan anggaran besar untuk mengatasi krisis air bersih bagi warganya. Upaya dropping saat ini dianggap tak relevan lagi. Dibutuhkan solusi permanen agar kekeringan tak terjadi lagi di masa mendatang.

"Tahun ini kami mengalokasikan anggaran sebesar Rp 2 miliar untuk mengatasi kekurangan air bersih. Anggaran tersebut untuk mengangkat air dari gua bawah tanah di Kecamatan Paranggupito, bukan untuk dropping air," ujar Jekek, sapaan akrab bupati, Rabu (23/8).

Jekek mengatakan, anggaran tersebut Rp 1,8 miliar digunakan untuk mengangkat air, sisanya membangun infrastruktur seperti jalan dan bak penampungan.

"Dropping air bersih sekarang ini sudah tidak relevan lagi. Yang kita butuhkan solusi yang permanen," kata dia.

Jekek menambahkan, masalah krisis air di Wonogiri bisa dicarikan solusi. Sebab, di wilayah selatan Kota Gaplek tersebut banyak terdapat saluran air bawah tanah (luweng) yang bisa dimanfaatkan. Minimnya anggaran, lanjut Jekek, menjadi kendala utama.

"Dananya sangat besar untuk mengangkat air luweng ke atas. Kemudian baru kita salurkan ke permukiman. Kalau ditaksir ya sampai Rp 165 miliar," kata Jekek.

Menurut Bupati, saat ini terdapat 180 luweng di empat kecamatan di Wonogiri, yaitu di Giriwoyo, Giritontro, Paranggupito, dan Pracimantoro. Ia memperkirakan, rata-rata saluran air bawah tanah itu memiliki debit antara 500 hingga 800 liter perdetik.

Jekek menambahkan, pihaknya berencana mengajukan bantuan dana ke pemerintah pusat untuk rencana kelanjutan proyek pengolahan sumber air bawah, terutama Luweng Banyutowo di Paranggupito. Proyek tersebut dibangun pada 2013, namun macet karena membutuhkan dana besar.

"Tahun ini Pemkab mulai menyusun pengajuan dana ke Pemerintah Pusat. Krisis air bersih di Wonogiri harus diselesaikan secara permanen agar tidak terus terulang setiap tahun,” tegas Jekek.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto, mengungkapkan kebutuhan air bersih 38 desa di 8 kecamatan yang terkena dampak bencana kekeringan sekitar 488 tangki air atau senilai Rp 81 juta per hari.

Pihaknya bersama PMI, swasta, TNI dan Polri, mulai awal Agustus sudah melakukan droping air bersih hingga Oktober nanti.

Baca juga:
Kekeringan, warga Cibarusah pakai air sungai buat mandi & minum
30 Desa di lerang Gunung Merapi krisis air bersih
Kemarau, ribuan desa di Jateng terancam kekeringan
Penampakan Waduk Ria Rio dilanda kekeringan
Musim kemarau, Warga Gunung Kidul cari air sampai Jawa Tengah
7 Waduk di Sragen kering, ribuan hektar sawah terancam gagal panen
Menggali sungai tandus demi melepas haus

(mdk/gil)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.