Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kemarau, ribuan desa di Jateng terancam kekeringan

Kemarau, ribuan desa di Jateng terancam kekeringan Ilustrasi kekeringan. ©2012 Shutterstock/Leigh Prather

Merdeka.com - Musim kemarau yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir menyebabkan sejumlah daerah di Jawa Tengah mengalami kekeringan. Krisis air bersih bahkan sudah terjadi di beberapa desa di wilayah Jateng. Droping air bersih pun dilakukan untuk meringankan beban rakyat.

Berdasarkan data Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, hingga saat ini sedikitnya ada 10 daerah yang mulai melakukan droping air bersih. Di antaranya Kabupaten Banjarnegara, Wonosobo, Banyumas, Blora, Klaten dan Wonogiri. Bahkan droping air sudah dilakukan di 46 desa dari 22 kecamatan.

"Ada 1.235 desa di 266 kecamatan di Jawa Tengah yang rawan terjadi kekeringan. Sementara 1,4 jiwa atau empat persen warga Jateng akan terdampak kekeringan tersebut," ujar Kepala Pelaksana Harian (Kalahar) BPBD Jateng Sarwa Pramana, di Solo, Kamis (10/8).

Sarwa mengatakan, berdasarkan perkuraan BMKG bulan ini belum merupakan puncak kemarau, karena masih terjadi hujan. Menurut dia, tahun ini ada kemarau basah yang dimulai Juli sampai Oktober.

Dikatakan Sarwa, jumlah terdampak krjeringan itu masih kecil jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Jateng yang mencapai 35 juta jiwa. Namun status siaga darurat kekeringan penting untuk segera ditetapkan.

"Ini penting untuk mengantisipasi terjadinya krisis air bersih dan dampak lainnya seperti kebakaran hutan. Seluruh wilayah Jateng sudah kita dorong untuk tanggap darurat. Karena ini sudah ada beberapa kabupaten yang sudah siaga darurat," tandasnya.

Sarwa menambahkan, untuk droping air bersih Pemprov Jateng menyediakan anggaran Rp 600 juta. Sementara daerah yang terdampak diminta menyiapkan anggaran sekitar Rp 200 juta.

Sementara untuk sektor irigasi, lanjut Sarwa, berdasarkan rapat koordinasi dengan PSDA, suplai sebagian embung dan waduk masih mencukupi sampai masa tanam musim ini. Namun Sejumlah embung juga disebutkan sudah tidak lagi mencukupi irigasi.

"Sebagian embung airnya sudah kering, sehingga masyarakat diminta tidak menanam padi, tetapi palawija," pungkas dia.

(mdk/msh)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP