Menghapus jejak agar tak terlacak
Menjual barang hasil curian tak bisa sembarangan. Salah pilih pelanggan bisa-bisa masuk bui.
Dari balik kiosnya, Mat Rofik mengawasi setiap orang menginjakkan kaki memasuki pasar loak di Jalan Kapasari dan Gembong, Surabaya. Sorot matanya tajam. Tak ada basa-basi dari lisannya. Dia bukan tipe pedagang mengumbar senyum dan keramahan saat menawarkan aksesoris dan onderdil kendaraan bermotor dijualnya. Dia harus berhati-hati dengan calon pembeli mengingat barang dagangannya merupakan hasil curian.
Pria asal Madura itu mendapatkan onderdil kendaraan bermotor dari hasil kerja sama dengan pencuri dan penadah. Satu unit kendaraan hasil curian dibongkar, kemudian setiap suku cadangnya dijual terpisah. Ini dilakukan supaya tidak mudah tercium aparat. Pembeli juga tidak akan banyak bertanya asal barang dijualnya. Jika ada yang ngotot, Rofik sudah menyiapkan banyak alibi.
"Kalau dijual bijian atau batangan, seperti noken as, karburator, seher (piston), dan piringan cakram, itu orang (pembeli) tidak akan takut untuk membeli. Meski yang saya jual itu barang gelap (curian)," ucap Rofik saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (16/9) lalu.
Rofik tidak menjelaskan rinci soal kendaraan hasil curian itu. Dia hanya menyebut dari pulau seberang. Yang dimaksud adalah Madura, tanah kelahirannya. Setiap ada kendaraan curian yang sudah dimutilasi, Rofik pulang kampung untuk mengambilnya. Kemudian dia bawa kembali ke Surabaya untuk dijual. Rofik tidak perlu menguras isi kantongnya membeli satu unit kendaraan curian. Kisarannya mulai dari Rp 2 juta hingga Rp 6 juta. Tergantung jenis, merek, dan kondisi kendaraannya. Kuda besi banyak dicuri adalah Honda dan Yamaha.
"Carinya mudah dan cepat laku kalau dijual kembali," ujar Mat Rofik.
Asok, pedagang di pasar loak Jalan Dupak, Surabaya juga melakukan hal sama. Setiap kendaraan bermotor hasil curian dipreteli terlebih dulu. Dia membongkar mulai dari mesin, rangka, roda, hingga bodi. Untuk rangka motor dipotong-potong menjadi bagian kecil dan dijual ke tukang loak.
"Kalau rangka ya harus dipotong-potong, kan itu ada nomor rangkanya. Untuk menghilangkan jejak. Setelah itu saya jual ke rongsokan di sebelah (Jalan Tanjungsari)," kata Asok.
Asok lalu menyiapkan gerinda dan las buat menghapus nomor mesin. Ini dilakukan pemesan satu paket mesin lengkap. Kebanyakan dari bengkel. Mereka membutuhkan spare part kemudian dikanibal ke mesin motor lainnya. Soal harga, segelondong dapur pacu itu dilepas mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 4 juta.
Dengan gambaran itu, tidak heran jika angka pencurian kendaraan bermotor di Indonesia tergolong tinggi. Di ibu kota, kasus pencurian kendaraan bermotor roda empat cukup mengejutkan. Polda Metro Jaya menyatakan, kendaraan roda empat favorit pencuri yakni tiga produk Toyota. Xenia, Avanza, dan Kijang Innova. Alasannya, mobil-mobil tersebut paling mudah digondol dan cepat laku.
"Kenapa tiga mobil itu? Karena mobil itu mudah dicuri, lebih familiar di masyarakat, pemesannya banyak. Kemudian masyarakat untuk di Indonesia, Jakarta khususnya, mobil itu paling populer," kata Kasubdit Ranmor Ditreskrimum Polda Metro Jaya, AKBP Andi Adnan.
Sebelum menjalankan aksinya, para pelaku biasanya mematikan alarm mobil. Setelah dipastikan aman, mereka membuka pintu dengan dua cara yakni memecahkan kaca atau membuka dengan bor atau kunci T. Hanya butuh waktu lima menit, mobil pun raib. Andi mengatakan, kunci pintu mobil-mobil itu amat ringkih. Berbeda dengan mobil mewah yang rumit dan terhubung dengan sensor. Jadi jika dirusak, otomatis mesin langsung lumpuh.
Setelah berhasil membawa kabur, biasanya langsung dijual ke daerah Jawa Tengah atau Jawa Barat. Tapi ada juga yang berani memasarkan hingga Kalimantan dan Sumatera. Mereka juga memiliki jaringan penadah. Dari hasil penjualan mobil curian, mereka bisa meraup untung Rp 25-30 Juta dari jenis Avanza maupun Xenia. Sedangkan Toyota Kijang Innova biasa dibanderol sekitar Rp 35 Juta.
Baca juga:
Menelusuri jejak penyamun hingga pasar gelap
Aura hitam Kampung Cilempung
Pasar gelap sulit terjamah hukum
Surga belanja barang 'panas'