Demi nafkahi anak istri
Mereka tetap harus profesional dan waspada. Sebab, kuda besi bukan barang murah.
Lelaki itu tertunduk lelah. Sorot matanya terlihat lemah. Merah. Dia menguap di siang bolong. Debu terbang ke arahnya yang tengah duduk di atas jok motor.
Laki-laki itu memperkenalkan diri. Ateng, katanya ramah. Usianya sudah hampir setengah abad.
"Saya lelah aja, mas. Kurang istirahat," katanya kepada merdeka.com.
Siang itu kawasan Stasiun Tebet mulai dikerubungi pengguna jasa kereta listrik Commuter Line. Liburan pergantian tahun telah usai. Aktivitas warga mulai ramai. Ateng menaruh harap lebih pada ramainya kendaraan roda dua yang menggunakan jasanya.
Ateng merupakan penjaga lahan parkir di kawasan Stasiun KA Tebet, Jakarta Timur. Dua tahun lebih dia menekuni usaha demi menafkahi istri dan ketiga anaknya yang masih bersekolah.
Awal mula Ateng belum terpikir sama sekali menjadi penjaga lahan parkir. Tahun 2013 lalu dia masih kerja serabutan lalu menganggur beberapa saat lantaran sepi proyek.
"Minta maaf, saya keluarkan motor sebentar," katanya pelan. Ateng pun turun dari atas motor yang didudukinya sejak tadi lalu mengeluarkan motor milik seorang gadis.
Sejurus kemudian dia kembali. Ateng melanjutkan kisahnya. "Saya mengajak teman untuk menjaga lahan ini. Lumayan daripada menganggur," katanya.
Lahan parkir yang dijaga Ateng merupakan milik seseorang. Dia menyewa Rp 480 ribu setiap harinya. Awalnya, dia diminta untuk menjaga parkiran kerena lahan itu merupakan sebuah halaman kantor dari sebuah organisasi.
Setelah organisasi itu tak lagi berjalan, Ateng kemudian mengajak Angga (40) sahabatnya. Keduanya bekerja siang malam dari pukul 04.00 WIB hingga pukul 24.00 WIB.
"Kerja dibawa enak aja. Kalau tidak kan siapa kasih kita makan. Anak istri juga makan apa!" ujarnya.
Untuk setiap kendaraan roda dua yang parkir di tempatnya, Ateng mematok tarif Rp 5.000. Tarif itu tergolong murah jika dibandingkan dengan tarif per jam yang dipatok dalam parkiran Stasiun Tebet.
"Ada yang langganan misalnya mahasiswa atau mereka yang tempat kerjanya ke arah Bogor," jelasnya.
Lahan parkir yang dikelola Ateng dan Angga seperti kebutuhan khusus bagi mahasiswa ataupun karyawan yang relatif memarkir kendaraan dalam tempo lama. Pengguna jasa, seperti diakui Ateng tak perlu khawatir kehilangan kendaraan sebab mereka akan menjaga sebaik mungkin.
"Ini kan jasa juga. Kita jaga dan mereka bayar. Jadi kami kerja sebaik mungkin," lanjutnya.
Sejauh ini belum ada keluhan berarti dari pengguna jasa parkiran. Tak pernah ada riwayat kehilangan ataupun kerusakan selama mereka memarkirkan kendaraan di tempat itu.
Dibanding kerjanya terdahulu, Ateng bersyukur dengan profesinya sekarang ini. Dulu, kata Ateng penghasilannya tidak menentu tergantung ramai tidaknya proyek. Untuk saat ini, dari jasa parkiran, Ateng dapat mengumpul duit kotor Rp 2 juta tiap bulannya.
"Kerja ini lebih berat dibanding di proyek. Tapi Alhamdulilah, saya sedikit demi sedikit menyisihkan uang," ceritanya.
Baca juga:
Panen rezeki dari parkir kuda besi
Melongok bisnis parkir liar di Jakarta
Bisa tajir meski cuma tukang parkir
Cegah pungli dengan teknologi
Tajir berkat uang parkir
Kejamnya juru parkir liar di Samarinda, main 'getok' seenaknya