Kegigihan Dua Peserta Difabel Ikuti UTBK SNBT, Demi Gapai Impian Kuliah di Kampus Favorit
Semangat dua orang ini dapat dijadikan pelecut semangat dalam mengejar cita-cita.
Keterbatasan bukan menjadi halangan untuk mengejar cita-cita. Semangat itu pula yang tertancam pada Imroatus Soleha, gadis asal Desa Curah Kalong, Kecamatan Bangsalsari, Jember. Ia merupakan salah satu dari total 13.403 lulusan SLTA yang dalam beberapa hari terakhir, berjuang untuk bisa tembus kuliah di kampus favorit dengan mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) di kampus Universitas Jember (Unej).
Namun, beberapa hari menjelang pelaksanaan ujian, sebuah ujian hidup lain datang menerpanya. Imroatus mengalami kecelakaan lalu lintas pada tanggal 21 Maret lalu, yang membuat kaki kanannya patah. Sebenarnya dokter sudah mewanti-wantinya agar tidak melakukan aktivitas yang berat terlebih dulu. Namun mimpi untuk bisa kuliah di Fakultas Kedokteran Unej membuatnya tetap melangkahkan kaki menuju ruang ujian.
Pada pelaksanaan UTBK SNBT hari keempat, Sabtu (26/4) pada sesi pagi, Imroatus terlihat bersemangat menggunakan kursi roda menuju lokasi ujian di gedung Integrated Laboratory for Science Policy and Public Communication.
“Kejadiannya pagi hari, saya dibonceng kawan hendak berangkat sekolah. Sayangnya kawan yang pegang setir menabrak mobil di depan kami. Kemudian kami berdua dilarikan ke Puskesmas Klatakan Tanggul dan sempat dirawat selama sehari,” cerita Imroatus yang bersekolah di SMAN 1 Tanggul Jember ini.
Tekad anak pasangan Sumadi dan Siti Maisaroh ini untuk kuliah sudah bulat, maka Imroatus memilih tetap mengikuti UTBK SNBT di kampus Tegalboto. Walau selama mengerjakan soal ujian harus menahan rasa sakit, penyebabnya kaki kanannya masih belum bisa digerakkan secara bebas. Penanggung Jawab Lokasi dan pengawas akhirnya menempatkan Imroatus di meja pengawas setelah sebelumnya menyesuaikan perangkat komputer yang digunakan. Mengingat jika berada di kursi peserta, maka geraknya tidak bisa leluasa dengan kursi roda yang dipakai.
Beruntungnya, Imroatus memiliki circle atau lingkungan yang mendukungnya. Pagi itu ada tiga kawannya yang setia mendukung.
“Alhamdulillah ada kawan-kawan yang menemani saya, mereka menyempatkan diri mengantar ke Tegalboto, menunggui saya selama ujian berlangsung hingga menemani saya pulang ke rumah. Bahkan selama ini kami selalu belajar bersama menghadapi UTBK SNBT, jadi saya nggak merasa sendirian berjuang,” ungkap Imroatus Soleha.
Difabel Sedari Lahir, Septina Tempuh Perjalanan Jauh dari Lumajang
Pada sesi siang di hari yang sama, ada Septina Anggun Pratiwi yang memberikan contoh ketegaran dan pelajaran bahwa untuk mencapai cita-cita harus dengan proses yang baik. Septina semenjak lahir mengalami ketidaksempurnaan pada kedua kakinya, sehingga untuk berjalan jauh mesti dibantu. Tetapi gadis asal Kecamatan Senduro Lumajang ini memilih menjalani ujian UTBK SNBT seperti peserta lainnya. Hari itu Septina diantar sang Ibu Asih Tri Wulandari mengikuti ujian di lokasi Fakultas Ilmu Budaya UNEJ.
“Dalam keseharaian memang saya tidak memakai alat bantu, cuman jika berjalan jauh atau naik tangga maka perlu dibantu,” kata Septina.
Panitia Pusat UTBK SNBT UNEJ memang sengaja menempatkan peserta difabel di lokasi FIB karena lokasi ujiannya di lantai pertama dan kondisi kampus yang mudah dicapai peserta difabel.
“Setelah menerima informasi dari panitia UTBK SNBT bahwa ada peserta difabel, kami di Humas UNEJ berusaha menghubungi, termasuk menelpon Septina. Kami ingin tahu kebutuhan atau fasilitas apa yang diperlukan peserta difabel agar bisa melaksanakan ujian dengan nyaman. Ternyata Septina memilih mengikuti ujian seperti peserta lainnya. Sementara itu untuk Imroatus Soleha menghubungi kami melalui media sosial Instagram sehari sebelum ujian sehingga kami bisa menyesuaikan lokasi ujian untuknya,” ujar Iim Fahmi Ilman, Wakil Ketua Tim Kerja Humas UNEJ.
Semangat pantang menyerah yang ditunjukkan oleh dua peserta UTBK SNBT tersebut mendapatkan dukungan penuh dari Ketua Pusat UTBK SNBT UNEJ. Menurut Prof. Slamin, keteguhan tekad mereka mengikuti ujian walau dengan segala keterbatasan harus menjadi contoh bagi peserta UTBK SNBT lainnya. Bahwa niat baik melanjutkan pendidikan harus dijalani dengan proses yang baik pula.
“Saya mengapresiasi kegigihan dua peserta UTBK SNBT hari ini, semoga sukses dengan pilihannya. Bagi peserta UTBK SNBT di kampus UNEJ yang memerlukan bantuan, silahkan menghubungi kami melalui Humas UNEJ karena kami ingin memberikan layanan terbaik bagi semua peserta,” pungkas Prof. Slamin.