LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JATENG

Misteri Kematian Ribuan Ikan Keramba di Kedung Ombo, Petani Rugi Miliaran Rupiah

Pada Sabtu (31/12), terjadi kematian massal ikan Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Kedung Ombo di Desa Wonoharjo, Kemusu, Boyolali. Jumlah ikan yang mati hingga ribuan ekor dengan nilai berat mencapai 175 ton. Apabila ditotal, nilai kerugian mencapai Rp4,725 miliar. Apa penyebab kematian massal itu?

2023-01-04 14:23:00
Jateng
Advertisement

Pada Sabtu (31/12), terjadi kematian massal ikan Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Kedung Ombo di Desa Wonoharjo, Kemusu, Boyolali.

Kematian massal itu diketahui pertama kali sekitar pukul 07.00. Hingga Senin (2/1) pukul 13.30 WIB, jumlah ikan yang mati dari jenis ikan emas dan nila mencapai total 175 ton. Sementara kerugian dari para petani keramba ikan KJA mencapai sekitar Rp4,725 miliar.

Lalu apa penyebab dari kematian ikan KJA di Waduk Kedung Ombo? Bagaimana penanganan yang dilakukan terkait peristiwa ini? Berikut selengkapnya:

Advertisement

Penyebab Kematian

©2020 liputan6.com

Advertisement

Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Boyolali menyebut bahwa kematian ribuan ikan KJA itu disebabkan karena terjadinya fenomena cuaca “Up-Welling” dan drop oksigen. Hal ini dikemukakan oleh Kepala Bidang Perikanan Disnakkan Kabupaten Boyolali, Nurul Nugroho.

“Penyebabnya cuaca dalam satu minggu tanpa sinar matahari sehingga kondisi air permukaan waduk menjadi dingin. Kemudian terjadi fenomena up-welling dan drop oksigen,” kata Nurul, dikutip dari ANTARA pada Senin (2/1).

Nurul mengatakan, segala upaya sudah dilakukan seperti pemindahan ikan ke titik yang aman dari up-welling, dan pemompaan menggunakan diesel air untuk menaikkan DO (oksigen).

Petani Merugi

©2019 Merdeka.com/Arie Sunaryo

Marno (38), salah satu petani KJA Desa Wonoharjo, Kemusu, Boyolali mengatakan, ikan jenis emas dan nila yang ia budidayakan mengalami mati massal sejak Sabtu (31/12). Total ikan miliknya yang mati beratnya mencapai 2 ton dari total seluruhnya sebanyak 20 ton. Akibat kejadian tersebut, ia mengalami kerugian mencapai miliaran rupiah. Harga ikan saat ini ada pada kisaran Rp25 ribu hingga Rp26 ribu per kilogram.

Terkait kematian ini, Nurul merekomendasikan agar kelompok petani ikan segera melakukan panen ikan yang sudah masuk ukuran jual, pemantauan kualitas air secara berkala, efisiensi pemberian pakan ikan, rasionalisasi jumlah KJA di Waduk Kedung Ombo, re zonasi KJA, serta menerapkan sistem aplikasi untuk budidaya ikan yang ramah lingkungan di Waduk Kedung Ombo.

Kasus Kematian Bertambah

©2021 Kanal Youtube Muhamad Nandri/editorial Merdeka.com

Bukannya berkurang, dari hari ke hari kasus kematian ikan KJA di Waduk Kedung Ombo terus bertambah. Pada Selasa (3/1), jumlah ikan yang mati bertambah menjadi 200 ton dari 37 petani keramba di sana. Kerugian juga bertambah yakni ditaksir lebih dari Rp6 miliar. Kepala Disnakkan Boyolali, Lusia Dyah Suciati berharap kematian tidak berlanjut lagi.

Terkait hal ini Nurul mengatakan pihak Disnakkan Kabupaten Boyolali sudah berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jateng untuk terjun langsung ke lokasi guna melakukan pendataan, memeriksa kondisi air, dan melakukan audiensi dengan para petani ikan di Kedung Ombo.

Jadi yang Terbesar

©jatengprov.go.id

Lusia mengatakan walaupun terjadi peristiwa ini, aktivitas perikanan di keramba masih berjalan karena menjadi penghasilan utama masyarakat sekitar. Dia mengimbau agar petani menabur ikan sesuai kapasitas ideal keramba. Jika populasi berlebih, imbasnya pada populasi. Apalagi pada musim yang ekstrem seperti ini petani harus berinisiatif memanen lebih awal.

“Kejadian seperti ini memang sudah sering dialami para petani ikan keramba saat musim ekstrem. Memang ini yang terbesar. Mereka seharusnya bisa mengantisipasi saat musim ekstrem dengan memanen yang sekiranya sudah layak jual, sehingga dapat mengurangi populasinya,” kata Lusia, dikutip dari ANTARA.

(mdk/shr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.