Bukan di Barak Militer, Wagub Jateng Taj Yasin Mau Remaja Nakal Dibina di Pesantren
Taj Yasin menyebut fenomena ini sebagai persoalan klasik yang terus berulang.
Fenomena kenakalan remaja yang marak kembali muncul dalam wujud geng motor dan aksi kekerasan jalanan menjadi perhatian serius Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, atau yang akrab disapa Gus Yasin. Ia menyebut fenomena ini sebagai persoalan klasik yang terus berulang, namun kini semakin mengkhawatirkan karena banyak melibatkan anak di bawah umur.
“Kita anggap kenakalan remaja ini masih timbul-tenggelam, kumat-kumatan. Dan yang sekarang muncul ini, banyak anak di bawah usia yang hanya ikut-ikutan,” ungkap Gus Yasin saat ditemui pada Minggu (18/5).
Menanggapi situasi tersebut, Gus Yasin mendorong pendekatan berbasis pendidikan karakter dan agama sebagai solusi jangka panjang. Ia mengusulkan agar anak-anak yang terjerat dalam aksi kekerasan dan geng motor bisa difasilitasi untuk belajar di pesantren atau boarding school.
“Kalau pendekatan kreatif tidak lagi mempan, kita bisa arahkan mereka ke pesantren. Bukan hanya untuk membentuk kedisiplinan, tapi juga agar mereka memahami nilai-nilai keagamaan, apa pun agamanya,” jelasnya.
Gus Yasin menegaskan bahwa pemerintah provinsi telah memiliki program strategis yang disebut Kecamatan Berdaya. Program ini awalnya menyasar perempuan, anak-anak, dan penyandang disabilitas, namun kini dikembangkan untuk juga menjangkau kalangan generasi muda, terutama generasi Zilenial.
“Program ini bisa menjadi pintu masuk untuk membentuk karakter anak-anak muda melalui kegiatan positif berbasis komunitas,” ujarnya.
Sebagai upaya konkret, ia mendorong kolaborasi lintas organisasi untuk memberikan edukasi kepada para remaja yang mulai terjerumus ke dalam tindakan kriminal. Beberapa organisasi yang disebut antara lain Muslimat NU, Aisyiyah, IPNU, IPPNU, hingga Fatayat NU.
“Kita rangkul semua elemen masyarakat. Kolaborasi ini penting untuk membina generasi muda dan menjaga ketahanan sosial masyarakat,” tutupnya.