Pramono Soal Prabowo Ajak DKI Patungan Bangun Giant Sea Wall: Prinsipnya Kami akan Bekerja Sama Tindaklanjuti Arahan Presiden
Pramono mengaku mendapatkan kabar bahwa Pemprov Jakarta ikut kedapatan membangun Giant Sea Wall sepanjang 19 kilometer yang semula hanya 12 kilometer.
Gubernur Jakarta, Pramono Anung menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang meminta agar Pemprov Jakarta mambantu urunan membangun proyek tanggul raksasa yang membentang 500 kilometer dari Banten hingga Jawa Timur.
Pramono mengaku mendapatkan kabar bahwa Pemprov Jakarta ikut kedapatan membangun Giant Sea Wall sepanjang 19 kilometer yang semula hanya 12 kilometer.
"Saya mendengar yang dulu awalnya Jakarta mendapat bagian 12 kilo (meter), sekarang ditambah 7 kilo menjadi 19 kilo," kata Pramono kepada wartawan, Minggu (16/7).
Pramono mengatakan siap menindaklanjuti arahan dari Presiden dalam mmebangun proyek besar lintas provinsi itu. Untuk tahap awal, Pramono mengatakan, proyek Giant Sea Wall Pemprov Banten dan DKI kedapatan akan membangun di tahap awal lalu dilanjutkan ke Pemprov lainnya.
"Jadi pada prinsipnya kami akan bekerja sama menindaklanjuti apa yang menjadi arahan Bapak Presiden dan Jakarta siap untuk itu," ucap Pramono.
"Nanti tentunya kita akan mempersiapkan diri termasuk pendanaannya," tandas Pramono.
Prabowo Cari Gubernur dari PDIP Tagih Patungan Bangun Giant Sea Wall
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya saat menutup konferensi infrastruktur ICI 2025 di JCC Senyana, Jakarta, Kamis (12/6). Di momen tersebut, Prabowo sempat mencari kehadiran Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, guna meminta Pemprov DKI agar mau patungan melalui APBD dalam pembangunan mega proyek tanggul laut raksasa (giant sea wall).
Prabowo menjelaskan bahwa proyek tanggul laut raksasa yang membentang sepanjang 500 kilometer di pantai utara Jawa, dari Banten hingga Gresik, Jawa Timur, membutuhkan biaya pembangunan sebesar USD80 miliar, termasuk di Teluk Jakarta secara khusus sebesar USD8 miliar sampai USD10 miliar.
"Khusus untuk teluk Jakarta, kemungkinan 8 (miliar) sampai 10 miliar dolar (AS), kalau 8 sampai 10 miliar dolar, saya kira kita sendiri mampu. Di sini ada hadir Gubernur DKI? Tidak? Enggak hadir? Waduh. Coba diselidiki kenapa tidak hadir," kata Prabowo seraya berkelakar dalam sambutannya saat menutup International Conference on Infrastructure (ICI) 2025 di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (12/6)
Presiden mengatakan bahwa dia sudah bertemu dengan Pramono beberapa hari lalu, dan mengirim utusan untuk memastikan bahwa Pemprov DKI mendukung pembangunan mega proyek yang sudah direncanakan sejak 1995 itu.
Kepala Negara pun mendapat jawaban bahwa Pemprov DKI tentu saja mendukung tanggul laut raksasa yang sudah masuk dalam proyek strategis nasional.
"Saya dapat jawaban 'dukung'. Alhamdulillah. Karena APBD-nya DKI sangat besar. Jadi saya bilang DKI harus urunan. Pemerintah pusat urunan," kata Prabowo.
Prabowo pun memproyeksi APBD dari Pemprov DKI Jakarta untuk pembangunan tanggul laut raksasa setidaknya mencapai 8 miliar dolar AS, yang dapat dialokasikan per tahun sebesar 1 miliar dolar AS.
Menurut Presiden, pembangunan tanggul laut raksasa ini memang diprioritaskan untuk Jakarta, serta beberapa kota lain, seperti Semarang, Pekalongan dan Brebes.
"Air itu sudah mengancam kehidupan rakyat kita, harus segera. Dan ini suatu yang harus kita laksanakan dan kita terbuka," kata Presiden.
Prabowo pun membuka sejumlah perusahaan asing, baik dari China, Jepang, Korea Selatan, hingga kawasan Eropa dan Timur Tengah untuk ikut berinvestasi dalam proyek tanggul laut raksasa.
"Tapi, kita tidak tunggu (kerja sama), kita akan gunakan kekuatan (anggaran) kita sendiri," pungkas Presiden.