Hanura DKI Desak Anies Tertibkan Prostitusi di Gubuk Liar
Dia mengungkapkan, telah mendapati adanya kafe-kafe yang berada di tengah pemukiman di kawasan Jakarta Timur. Ongen menduga ada oknum-oknum tertentu yang melegalkan tempat tersebut
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan didesak memberikan perhatian khusus akan maraknya prostitusi di gubuk liar di Ibu Kota. Pasalnya kegiatan tersebut dinilai mampu memberikan dampak buruk bagi masyarakat.
Ketua Fraksi Hanura DPRD DKI Jakarta Ongen Sangaji mengatakan, pihaknya telah melaporkan keadaan tersebut kepada Pemprov DKI Jakarta. Namun sayangnya, apa yang disampaikannya tersebut belum mendapatkan respon positif.
Dia mengungkapkan, telah mendapati adanya kafe-kafe yang berada di tengah pemukiman di kawasan Jakarta Timur. Ongen menduga ada oknum-oknum tertentu yang melegalkan tempat tersebut
"Itu bukan hanya di gubuk bahkan udah di perumahan masyarakat. Di wilayah Jakarta Timur kafe kafe itu enggak akan berdiri kalau yang ada jagain," katanya saat dihubungi merdeka.com, Senin (29/7).
"Jangan yang gede-gede kayak Alexis aja dong, yang berbahaya itu yang ada di tengah pemukiman," tambah Ongen.
Untuk itu, dia menyarankan, Anies untuk segera memerintahkan jajaran di bawahnya untuk segera melakukan penutupan tempat tersebut. Setidaknya, Ongen mengatakan, Wali Kota sebagai pemimpin wilayah bisa mencegah penyakit masyarakat itu.
"Tidak ada cara lain ini harus tutup. Di sana ada masjid azan di sisi lain ada musik kencang. Di sisi lain ada anak baik, tapi kita memberikan izin untuk melakukan hal tidak baik," tutupnya.
Sebelumnya dilaporkan, praktik prostitusi masih marak di wilayah kolong tol Jembatan Lima, Jalan Tubagus Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat (Jakbar), meski lokalisasi Kalijodo di kawasan itu telah digusur.
"Di bawah situ (kolong jalan tol) masih ada (prostitusi). Nanti kalau udah sore atau malam di sini banyak PSK-nya (pekerja seks komersial)," kata Doni, seorang warga di dekat kolong jalan tol Jembatan Lima.
Sementara itu, kawasan Boker, Ciracas, Jakarta Timur hingga kini praktik prostitusi juga masih berjalan meski telah beralih fungsi menjadi gelanggang olahraga (GOR).
Pemerintah menyulap lokalisasi Gang Boker menjadi gelanggang olahraga pada tahun 2003. Namun, bisnis prostitusi di lokasi tersebut seolah menemukan cara untuk tetap hidup dengan berpindah ke rumah-rumah kontrakan yang ada di sekitarnya.
Baca juga:
Gubuk Liar di Jakarta Rawan Prostitusi
Tante Jual Keponakan yang Masih Siswi SMP Rp10 Juta, Alasan untuk Biaya Sekolah
Polisi Gerebek Pesta Seks di Vila Pasuruan, Mantan Guru Ditangkap
Biayai Kuliah Sendiri, Alasan AA Jadi Muncikari
Polisi Bongkar Prostitusi Online di Sleman
Untuk Biaya Anak Sekolah, Pasutri Ini Tawarkan Layanan Seks Threesome