Beer Ali, Anak Cikini jadi Legenda Preman Ibu Kota
Sejak dulu, kelompok preman sudah tumbuh subuh di Indonesia. Pada masanya, para preman legendaris itu dikenal karena aksi-aksi mereka yang menakutkan.
Praktik-praktik premanisme kembali meresahkan masyarakat. Komplotan preman ini tak sekadar membuat onar, tetapi membahayakan nyawa yang tak tunduk pada kemauan mereka.
Aksi premanisme di Indonesia sebenarnya sudah terjadi sejak era penjajahan. Kejahatan mereka yang mengerikan, membuat sosok itu bahkan para pengikutnya disegani. Banyak pihak memilih tak berurusan dengan kelompok-kelompok tersebut.
Salah satu preman legendaris Indonesia yang cukup disegani di era 1950-an adalah Beer Ali, pemuda yang menghabiskan masa kecilnya di sebuah kawasan bernama Cikini, di Jakarta Pusat. Tak terlalu banyak artikel yang memuat perjalanan hidup seorang Beer Ali sampai akhirnya dikenal sebagai salah satu pentolan kelompok preman Ibu Kota.
Asal Usul Beer Ali
Beer Ali memiliki nama asli Muhammad Ali. Namun kecintaannya pada minuman bir, membuat sosok preman kelas kakap asal Cikini itu lebih dikenal dengan nama beer Ali.
Setelah masuk ke 'dunia hitam' sederet aksi Beer Ali cukup menggeger publik. Sederet perampokan bank tak lepas dari keterlibatannya. Mulai dari Bank Internatio, perusahaan Belanda M. De Koning, hingga kasir Garden Hall.
Aksinya paling mengguncang saat bersama preman Kusni Kasdut merampok emas di Museum Nasional pada tahun 1950-an.
Dia juga pernah terlibat aksi penembakan. Salah satu korbannya adalah Kun Utoyo ketika membonceng istrinya dan Ali Badjened, orang kaya raya di Jakarta pada masa itu.
Melihat sederet aksi kejahatan yang dilakukannya, jelas menggambarkan Beer Ali punya keberanian dan kekejamannya tak terbantahkan. Saking sadis sosok Beer Ali, membuat banyak orang manut atas apa yang dilakukannya.
Titik Balik Kehidupan Beer Ali
Meskipun dikenal sebagai penjahat kejam, Beer Ali menyimpan sisi lain yang menarik. Setelah ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, aktivitas Beer Ali membuat banyak mata terbelalak. Banyak yang tak menduga pemuda Cikini yang sadis dan bengis itu bisa mengajarkan ngaji pada para napi lainnya. Kontras dengan cerita hidupnya sebagai preman.
Bahkann ketika di penjara, dia bisa meredam bentrokan yang terjadi di lapas. Jelas kepemimpinan dan pengaruhnya masih sangat terasa kuat bahkan di balik jeruji besi.
Begitupun di mata warga lingkungan Cikini kala itu. Beer Ali yang sehari-hari kegiatannya tak lepas dari kejahatan justru dianggap sebagai pelindung, yang menjaga ketertiban di lingkungan mereka. Meski demikian, tidak sedikit pula yang merasa takut akan keberadaannya.