Ada Luka di Kepala Mahasiswa UKI Ditemukan Meninggal Duni, Polisi Periksa 18 Saksi
Kepolisian masih melakukan scientific investigation untuk menentukan penyebab kematian korban.
Mahasiswa Ilmu Politik semester 6 Universitas Kristen Indonesia (UKI), Kenzha Ezra Walewangko, hingga kini belum terungkap. Kepolisian masih melakukan scientific investigation untuk menentukan penyebab kematian korban.
"Sampai saat ini kami belum bisa menyimpulkan. Apakah itu kroyok atau satu lawan satu atau karena kecelakaan, yang pasti kami masih dalam scientific investigation. Kita meneliti alat-alat bukti yang ada, barang bukti yang ada. Jangan kita berasumsi, nggak boleh berasumsi," kata Kapolres Metro Jakarta Timur, Kombes Pol Nicolas Ary Lilipaly saat konferensi pers, Jumat (7/3).
Kepolisian tak menampik dari foto-foto yang beredar terlihat ada luka di kepala korban. Terkait kebenaran luka itu, kepolisian menyebut ahli akan menjelaskannya.
"Tapi dari foto-foto yang beredar itu kan kita bisa melihat ya, ada organ salah satu organnya yang terluka. Nah itu yang kita harus analisis, terlukanya itu karena apa," ujar Nicolas.
Untuk memastikan penyebab luka tersebut, Kepolisian masih mengumpulkan barang bukti tambahan dan menunggu hasil laboratorium forensic.
"Kita harus mengumpulkan barang bukti yang lebih terfokus lagi untuk bisa melihat dia, luka itu yang menyebabkan lukanya dia itu karena apa," kata dia.
Hasil Pemeriksaan CCTV
Kepolisian telah mendapatkan sejumlah rekaman CCTV di lokasi kejadian. Namun, ada insiden yang tak terekam kamera CCTV.
"CCTV dapat, itu yang kita sedang melakukan analisis terkait dengan alat bukti yang kita kumpulkan," kata Nicolas.
Nicolas menerangkan, CCTV memperlihatkan korban dan teman-temannya sedang minum-minum sebelum kejadian naas itu terjadi. Tak lama setelah itu, korban terlihat diantar keluar pagar oleh beberapa orang.
"Jadi CCTV di sekitar area TKP, TKP pertama. Bukan TKP yang tempat jatuhnya yang diduga korban jatuh yang didekat got dan pagar itu. itu yang tidak terpantau, CCTV yang mereka minum-minum ada, sedikit cekcok mulut sedikit keributan sampe satpam datang itu terlihat," ujar dia.
"Juga terlihat bahwa yang bersangkutan diantar keluar pagar itu juga terlihat, berapa orang yang mengantar korban keluar pagar untuk menyuruh korban pulang juga terlihat. Dan untuk saat kejadian itu yang kita masih analisis," sambung dia.
Sayangnya, kata dia, tidak ada CCTV yang merekam momen ketika korban jatuh di dekat got dan pagar. Hingga kini, polisi belum bisa memastikan penyebab kematian.
"Saya ulangi masih di tahap penyelidikan. masih menentukan dulu ini kasus apa pidana atau bukan. Untuk itulah kami berusaha untuk mengumpulkan alat bukti untuk mendukung argumentasi kita, menentukan, ini masuk pidana atau bukan," ucap dia.
Nicolas meminta agar masyarakat tidak membuat opini liar yang bisa memperkeruh suasana.
"Saya berharap rekan-rekan jangan membuat opini, kalau bisa dari sumber yang terpercaya, biar kita jangan salah langkah," ujar dia.
18 Saksi Diperiksa Polisi
Sejauh ini, kepolisian sudah memeriksa 18 saksi terdiri dari 13 mahasiswa dan 5 orang dari pihak UKI.
"Satu orang sebagai pelapor itu dari otoritas kampus, dan empat orang selaku sekuriti yang bertugas pada saat itu," kata Nicolas.
Sementara itu, hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) menunjukkan ada beberapa barang bukti berupa botol minuman keras.
"Kami menemukan bekas botol minuman, patahan pagar, dan batu. Kami juga sudah melakukan olah TKP, pemeriksaan luar korban, serta otopsi. Saat ini, kami tengah memeriksa organ dalam korban di laboratorium forensik," ujar dia.
Rektor Janji Evaluasi
Pihak kampus berjanji akan mengevaluasi dan mengambil tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang terlibat. Rektor UKI, Dhaniswara K. Harjono mengaku mendapat kabar duka itu pada malam hari.
"Saya ditelepon pukul 20.58 WIB dan diberitahu ada mahasiswa meninggal dunia. Saya langsung perintahkan untuk melapor ke Polres Jakarta Timur," ujar Dhaniswara saat konferensi pers, Jumat (7/3).
Diakui Dhaniswara, kejadian ini menjadi pukulan telak bagi UKI yang selama delapan tahun terakhir dinilai aman-aman saja.
“Sejak saya jadi rektor, belum pernah ada kejadian seperti ini. Sekarang kami akan evaluasi, apa yang sebenarnya terjadi?” kata dia.
Namun, ia menilai sekuriti sudah bertindak cukup cepat saat kejadian. "Begitu ada keributan, sekuriti langsung turun tangan. Pimpinan kampus juga langsung datang ke lokasi, termasuk Wakil Rektor, Dekan, dan Kaprodi," ujar dia.
Terlebih, informasi yang beredar di media cukup simpang siur, sehingga menimbulkan kebingungan.
"Kami memilih diam, bukan karena tidak peduli. Kami menunggu hasil pemeriksaan resmi dari kepolisian," tegas dia.
Dhaniswara memastikan ada dua aspek yang menjadi perhatian serius. Pertama, investigasi penyebab kematian korban yang ditangani kepolisian. Kedua, evaluasi internal kampus terkait aturan dan pengawasan.
"Kami punya aturan dan kode etik. Kalau ada mahasiswa atau pihak lain yang terbukti terlibat, pasti ada sanksi. Sekuriti juga akan dievaluasi," kata Dhaniswara.
Terkait sanksi, Dhaniswara memastikan pihak yang terbukti bersalah akan dihukum. "Sanksi pasti ada. Nanti kami lihat," tandas dia.
Proses Penyelidikan Diserahkan ke Polisi
Dhaniswara menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada kepolisian. Harjono memastikan pihak kampus tak akan menutup-nutupi kasus ini.
"Sebagai warga negara yang baik kita semua menghormati proses hukum yang berlaku," kata dia.
Dhaniswara mengaku langsung mengambil tindakan begitu mendapat kabar duka itu. Karena ini menyangkut hilangnya nyawa seseorang mahasiswanya.
"Saya masih ingat, jam 20.58 WIB saya ditelepon kepala otorita kampus. Saya tanyakan ceritanya, dan langsung perintahkan untuk lapor ke Polres Jakarta Timur," ujarnya.
Menurutnya, polisi saat ini masih melakukan investigasi. Pihak kampus terus menunggu hasil pemeriksaan guna mengetahui penyebab pasti kematian korban.
"Kami menyatakan duka cita kepada keluarga korban dan akan terus mengevaluasi kejadian ini," ujar dia.
Dhaniswara mengaku selama delapan tahun menjabat sebagai rektor, tak pernah ada kejadian seperti ini di UKI. Namun, dia tak ingin terburu-buru menyimpulkan sebelum ada hasil resmi dari kepolisian.
"Kami lebih memilih diam dulu, menunggu hasil pemeriksaan. Karena di media beredar banyak spekulasi yang malah bikin bingung," jelasnya.
Meski begitu, pihak kampus memastikan akan bersikap transparan dan mendukung penuh penyelidikan kepolisian. "Terima kasih untuk Polres Jakarta Timur yang cepat dan profesional menangani kasus ini," tandas dia.