Sejarah Harbolnas 2025: dari Cyber Monday hingga Fenomena 12.12 di Indonesia
Harbolnas 2025 akan berlangsung selama satu pekan. Yakni, mulai tanggal 10 hingga 16 Desember 2025.
Pemerintah menargetkan total transaksi puluhan triliun rupiah saat Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2025. Produk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah digenjot laris manis saat Harbolnas 2025.
Harbolnas 2025 akan berlangsung selama satu pekan. Yakni, mulai tanggal 10 hingga 16 Desember 2025.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengharapkan penjualan produk lokal pada Harbolnas 2025 dapat melampaui angka yang dicapai pada tahun sebelumnya.
Sebagai informasi, dari total transaksi sebesar Rp31,2 triliun pada Hari Belanja Online Nasional 2024, produk asli Indonesia menyumbang sekitar 30 persen.
"Kita mendorong agar barang yang dijual di e-commerce itu sebagian besar adalah bangga buatan Indonesia. Tahun kemarin saya apresiasi karena dari Rp31 triliun, 30 persen lebih adalah buatan Indonesia," ungkapnya dalam acara Kick Off Road to Harbolnas 2025 yang diadakan di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, pada Senin (8/9).
Melalui Kick Off to Harbolnas 2025 yang dimulai sejak bulan September, ia berharap semua pihak, termasuk penyedia e-commerce dan pelaku UMKM, dapat saling berkolaborasi untuk mencapai tujuan tersebut.
Sejarah Harbolnas
Lantas bagaimana sejarah Harbolnas itu sendiri. Dari negara mana awal mula tren belanja online tersebut. Dikutip dari berbagai sumber, perayaan ini lahir dari tren global belanja daring, terutama Cyber Monday di Amerika Serikat, dan berkembang pesat hingga menjadi motor penggerak industri e-commerce dalam negeri.
Black Friday dan Cyber Monday
Di negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Jerman, dan Jepang, fenomena belanja daring massal dikenal dengan sebutan Cyber Monday. Perayaan ini muncul setelah libur Thanksgiving sebagai ajang diskon besar-besaran oleh para peritel untuk mendorong transaksi online.
Cyber Monday sendiri terinspirasi dari Black Friday, yaitu hari belanja penuh diskon pada Jumat setelah Thanksgiving yang menandai dimulainya musim belanja Natal. Black Friday disebut demikian karena pada hari itu banyak peritel mengubah catatan keuangan dari 'merah' (rugi) menjadi 'hitam' (untung). Tradisi ini kemudian berdampak positif pada laporan keuangan tahunan para peritel, sehingga menjadi ajang belanja paling ditunggu masyarakat.
Harbolnas Lahir di Indonesia
Konsep serupa pertama kali hadir di Indonesia pada 12 Desember 2012 dengan tajuk '12.12.12'. Inisiatif ini dipelopori oleh Lazada bersama sejumlah e-commerce lokal seperti Zalora, BerryBenka, PinkEmma, Bilna, Traveloka, dan Luxola.
Tujuan utama Harbolnas adalah mengajak masyarakat berbelanja online secara aman dan nyaman, sekaligus mendorong pertumbuhan industri e-commerce. Pada debutnya, promosi Harbolnas menawarkan diskon hingga 80 persen hanya dalam kurun waktu 24 jam.
Perkembangan dan Puncak Popularitas
Setelah sukses pada 2012 dan 2013, istilah Hari Belanja Online Nasional mulai populer digunakan pada tahun 2013. Respons industri dan konsumen sangat positif, bahkan disebut-sebut memecahkan rekor transaksi online saat itu.
Tahun 2014 menjadi momentum penting dengan peningkatan signifikan jumlah peserta Harbolnas. Dari yang awalnya hanya 7 e-commerce pada 2012, jumlah partisipan melonjak menjadi 72 e-commerce pada 2014. Perusahaan besar seperti Lazada, Zalora, Traveloka, Tiket.com, dan Elevania turut serta, menawarkan potongan harga hingga 90 persen.
Seiring waktu, Harbolnas tidak hanya berhenti pada tanggal 12 Desember. Tren belanja daring meluas dengan promo pada tanggal-tanggal cantik lainnya seperti 9.9, 10.10, dan 11.11, mengikuti pola kampanye belanja global.
Dampak bagi Ekonomi Digital
Harbolnas terbukti menjadi motor penggerak e-commerce di Indonesia. Laporan berbagai asosiasi menyebutkan bahwa setiap gelaran Harbolnas mencatat lonjakan transaksi signifikan. Pada 2024, misalnya, transaksi Harbolnas naik lebih dari 20 persen dibanding tahun sebelumnya, mencerminkan meningkatnya kepercayaan konsumen terhadap belanja online.
Selain itu, Harbolnas juga mendukung literasi digital masyarakat, memperluas pasar bagi pelaku usaha, dan memperkuat ekosistem perdagangan elektronik nasional.