Akankah cinta mampu menghapus trauma perceraian itu? (Part 3)
Tak terasa air mata ini menetes saat semua tamu undangan bersorak, "Sah!"
"Dena, menikahlah denganku..."
Kalimat itu sangat menyesakkan. Beberapa hari berlalu, tetap saja masih terasa menggetarkan di dadaku.
Menikah. Itu bukan hal yang ada di kamusku dalam waktu dekat. Jauh. Bahkan aku sama sekali tidak ingin menuliskannya. Bagiku pernikahan adalah sebuah kesengsaraan. Terbelenggu oleh aturan-aturan rumah tangga di mana aku harus patuh pada suami. Memasak. Mengatur anggaran keluarga. Punya anak. Belum. Aku belum siap.
Namun tawaran itu tidak akan datang dua kali. Khalif adalah cowok yang sangat idaman. Tidak hanya aku, bahkan ratusan cewek di luar sana.
Bukan aku tidak menyukai Khalif. hanya saja trauma akan perceraian yang dialami oleh orang tuaku sangat membekas. Belum lagi sikap kasar, KDRT Ayah kepada Bunda. Aku tak sanggup jika harus mengalami hal itu. Meskipun sebenarnya sifat Khalif jauh dari kasar. Dia bahkan sangat lembut. Sangat mengerti aku.
Dia banyak mengajariku berbagai hal. Tidak dengan perkataannya, namun langsung dengan tindakan riil. Itulah yang membuatku bahagia bersamanya.
Tiga bulan berlalu.
Suasana ramai. Sanak saudara datang. Dua orang tuaku yang telah bercerai juga tampak hadir. Khalif terlihat sangat tampan melebihi sebelumnya. Belum pernah aku melihat cowok dengan karisma yang begitu kuat. Dia kini sudah ada di sebelahku. Menjabat seorang lelaki tua di depannya sambil mengucap ijab qabul.
Kami menikah.
Tak terasa air mata ini menetes saat semua tamu undangan bersorak, "Sah!"
Doa para hadirin yang datang semakin mengantarkan air mata ini turun dengan deras. Kebahagiaan yang aku dapatkan telah berhasil menumbangkan kegalauan hati pra pernikahan. ketakutanku atas perceraian orang tua dulu kini telah hilang. Khalif berhasil menumbangkan hal itu. Dia memupuk rasa cinta yang begitu dahsyat!
Saat aku mencium tangan kanan Khalif, dia mengusap kepalaku dengan lembut. Lama aku tenggelam di dalam tangis dengan posisi yang sama.
"Istriku, aku berjanji akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Ini adalah yang pertama dan terakhir aku mengucapkannya. Bantulah aku menjadi imam yang baik. Bantulah aku menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab. Maka kita akan bersama di dunia dan di akhirat nanti."
Ucapan itu berakhir dengan kecupan lembut di keningku.
Aku sadar bahwa cinta yang tulus akan membuahkan hasil yang luar biasa. Tak akan ada yang bisa menepiskan cinta saat hati telah berkata. Ya, aku mencintainya. Sekarang dan selamanya.
SELESAI
Baca juga:
Akankah cinta mampu menghapus trauma perceraian itu? (Part 1)
Akankah cinta mampu menghapus trauma perceraian itu? (Part 2)
[Part 1] Taj Mahal, monumen cinta paling agung yang pernah dibuat
[part 2] Taj Mahal, monumen cinta paling agung yang pernah dibuat
[part 3] Taj Mahal, monumen cinta paling agung yang pernah dibuat