Akankah cinta mampu menghapus trauma perceraian itu? (Part 2)
Sebuah cerita berseri dari merdeka.com tentang cinta yang merupakan true story.
Di bernama Khalif Achmed. Cowok blesteran Indonesia-Arab. Perangainya lembut. Tidak banyak bicara, namun saat berhadapan, kekuatan bicaranya bak diplomat.
Khalif selalu mampu menarik hati cewek mana pun yang menatapnya. Dia memiliki karisma yang luar biasa. Siapa sangka? Aku kenal dan ikut menjadi salah satu dari sekian banyak cewek yang larut dengan kata-katanya. Aku sangat mengagumi Khalif. Hanya sebatas mengagumi. Itu saja. Awalnya.
Seiring berjalannya waktu, perkenalan kami yang berawal dari teman ke teman di sebuah cafe, berlanjut dengan intens. Aku tidak mengerti apakah menonton bioskop, makan malam bersama, dan sering liburan ke tempat-tempat menyenangkan di negeri ini adalah bentuk dari perasaan cinta. Sebelum aku salah sangka, sebaiknya aku tetap diam dan menyembunyikan ketertarikanku.
Aku sadar, mungkin tidak hanya aku saja yang dibuatnya melayang dengan sikap lembutnya. Mungkin juga sudah banyak cewek yang juga merasakan hal yang sama. Aku tidak ingin membawa perasaan ini lebih jauh. Terlebih lagi, aku masih takut untuk berkomitmen karena perceraian orang tuaku. Oh, perceraian orang tua itu selalu membekas hingga saat ini. Meski keduanya telah berpisah lama, namun bayangan tindakan kasar Ayah ke Bundaku saat itu masih bisa tampak jelas di benakku. Terkadang aku masih menangis.
Pekerjaanku saat ini hanya kasir di sebuah instansi keuangan swasta. Gaji tidak seberapa, namun cukup untuk hidup sendiri. Tanpa bantuan dari orang tua. Sepeser pun! Terkadang aku mengutuk mereka.
"Aku masih anak kalian! Aku masih menjadi tanggung jawab kalian! Kenapa aku harus susah payah menjalani hidup? Sementara kalian sudah berpisah dan hidup masing-masing! Di mana cerita orang tua mengasihi anak yang ada di buku pelajaran SDku?!"
Beruntung aku bertemu dengan Khalif. Dia sangat memperhatikanku. Setidaknya aku tidak perlu berpikir untuk makan sehari-hari dan pulsa. Dia lahir dari keluarga yang serba berkecukupan. Keluarga yang harmonis. Berbanding terbalik dengan keadaanku.
Intensitasku dengannya semakin hari semakin tinggi. Kedekatan kami makin terasa. Namun hal itu juga yang membuatku berperang dengan hatiku. Semakin aku mencintainya, semakin aku sulit menepiskan bahwa aku siap berkomitmen.
Hingga suatu hari di sebuah resto di malam hari. Sebuah kalimat yang tak pernah terduga sebelumnya terlontar dari bibir Khalif, "Dena, menikahlah denganku..."
Bersambung...
Baca juga:
Akankah cinta mampu menghapus trauma perceraian itu? (Part 1)
[Part 1] Cinta yang terkoyak di tengah gejolak perang
[Part 2] Cinta yang terkoyak di tengah gejolak perang
[Part 1] Taj Mahal, monumen cinta paling agung yang pernah dibuat
[part 2] Taj Mahal, monumen cinta paling agung yang pernah dibuat
[part 3] Taj Mahal, monumen cinta paling agung yang pernah dibuat