Trump Bongkar Cerita Ibunya Pernah Naksir Raja Charles III
Sambutan yang diberikan Trump kepada raja dan ratu Inggris berlangsung dengan suasana yang hangat.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyambut kedatangan Raja Charles III dalam kunjungan kenegaraan di Gedung Putih pada hari Selasa, 28 April 2026, dengan gaya khasnya.
Setelah band militer memberikan penghormatan diplomatik tertinggi kepada sang raja, Trump naik ke podium dan mengungkapkan, betapa indahnya hari khas Inggris seperti ini.
Pernyataan ini merujuk pada cuaca hujan yang menyelimuti hari itu, yang kontras dengan kondisi cerah dan panas di Washington, DC, sehari sebelumnya.
Trump kemudian memuji Raja Charles III atas aksennya yang menawan dan bercanda bahwa aksen tersebut akan membuat banyak orang merasa iri. Ungkapannya itu, sontak disambut tawa dari para hadirin.
Ia melanjutkan dengan memberikan penghormatan kepada hubungan sejarah yang terjalin antara Amerika Serikat dan Inggris, termasuk menyampaikan kata-kata hangat untuk mendiang Ratu Elizabeth II, ibunda Raja Charles III, yang mengungkapkan kekagumannya terhadap keluarga kerajaan dan tradisi yang menyertainya.
Pidato tersebut disampaikan di tengah ketegangan antara pemerintahan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, dan Trump terkait isu perang Iran, pertahanan, dan aliansi NATO, namun Trump tidak membahas perbedaan tersebut dalam pidatonya.
Sebaliknya, ia memuji "hubungan khusus" antara Washington dan London, menggambarkan kunjungan ini sebagai simbol ikatan sejarah, budaya, dan militer yang mendalam antara kedua negara, meskipun AS telah merayakan kemerdekaannya dari Inggris sejak tahun 1776.
Sikap Trump dianggap ironis, karena ia menghormati seorang raja Inggris di tengah monumen George Washington dan Thomas Jefferson, para pendiri negara, menjelang peringatan 250 tahun kemerdekaan AS.
Namun, ia berpendapat bahwa tidak ada penghormatan yang lebih tepat. "Jauh sebelum orang Amerika memiliki sebuah negara atau konstitusi, kami terlebih dahulu memiliki budaya, karakter, dan keyakinan," kata Trump, seperti yang dilaporkan oleh TRT.
Ia menegaskan bahwa para patriot Amerika yang mempertaruhkan hidup mereka untuk kemerdekaan pada tahun 1776 adalah pewaris dari warisan yang agung.
"Darah mereka mengalir dengan keberanian Anglo-Saxon dan hati mereka berdetak dengan keyakinan yang berakar dari Inggris," tambahnya.
Trump juga menelusuri akar kebebasan bersama dari penandatanganan Magna Carta di Runnymede hingga jalan-jalan di Philadelphia, menegaskan bahwa perjuangan untuk kebebasan bukanlah "penemuan intelektual tahun 1776", melainkan puncak dari perjuangan yang telah berlangsung selama berabad-abad di kedua sisi Atlantik.
Selain itu, ia menunjuk pada pohon yang ditanam oleh mendiang Ratu Elizabeth II di halaman Gedung Putih sebagai simbol hubungan yang terjalin.
"Seperti negara kami sendiri, pohon itu ditanam dengan tangan Inggris, tetapi tumbuh di tanah Amerika," ujar Trump.
"Kini pohon itu berdiri tinggi dan kokoh... dan pagi ini mengingatkan kita bahwa pohon yang paling besar, seperti negara yang paling besar, harus berakar pada fondasi yang paling kuat dan paling dalam," sambungnya.
Ibu Trump Sempat Naksir Raja Charles III
Trump kemudian mengungkapkan hubungan pribadinya dengan Inggris melalui ibunya, Mary Anne MacLeod Trump, yang berasal dari Stornoway, Skotlandia.
Ia mengenang betapa kagumnya ibunya terhadap keluarga kerajaan, terutama kepada Ratu Elizabeth II dan Raja Charles III ketika masih muda.
"Ia datang ke Amerika pada usia 19 tahun, bertemu ayah saya yang luar biasa. Kami mencintainya, kami mencintai ayah saya, Fred (Frederick Christ Trump), dan mereka menikah selama... 63 tahun," ungkap Trump.
Ia lalu berhenti sejenak, menoleh kepada Ibu Negara Melania Trump yang berdiri di samping Ratu Camilla.
"Itu bukan rekor yang bisa kita capai, sayang. Maaf---sepertinya tidak akan terjadi seperti itu," ujarnya.
Trump melanjutkan dengan menekankan rasa hormat ibunya terhadap keluarga kerajaan dan sang ratu.
"Ia benar-benar mencintai keluarga itu, tetapi saya juga ingat ia pernah bilang dengan sangat jelas, Charles, lihat, Charles muda, dia sangat tampan. Itu ibu saya. Ibu saya naksir Charles. Bisa Anda bayangkan? Luar biasa... apa yang sedang ia pikirkan sekarang," ujarnya.
Selanjutnya, Trump juga merujuk pada pertemuan antara Perdana Menteri Winston Churchill dan Presiden Franklin D. Roosevelt di atas kapal HMS Prince of Wales, yang merupakan gelar yang pernah disandang Charles lebih lama dibandingkan pewaris takhta sebelumnya.
Ia menyebutkan patung Churchill yang baru saja dikembalikan ke Ruang Oval sebagai pengingat akan aliansi tersebut.
Beberapa jam setelah acara, Raja Charles III menjadi raja Inggris pertama yang berbicara di sidang gabungan Kongres AS. Kesempatan tersebut, menurut Trump, sangat ingin ia hadiri meskipun terhalang oleh protokol.
"Di sana, keturunan langsung Raja George III akan berbicara kepada penerus langsung dari lembaga yang berkumpul di Independence Hall pada 4 Juli 1776. Jika John Adams dan George Washington atau leluhur kelima raja tersebut dapat melihat pemandangan itu, mereka mungkin akan sangat terkejut. Namun mungkin hanya sesaat," tambah Trump.
Ia melanjutkan, "Mereka akan sangat terharu mengetahui bahwa para tentara yang dahulu saling menyebut redcoat (tentara Inggris) dan Yankee (tentara Amerika), kemudian menjadi Tommies dan GI, yang bersama-sama menyelamatkan dunia bebas, sebagai saudara seperjuangan dan saudara selamanya dan tidak ada yang bertempur lebih baik bersama daripada kita berdua."
Trump menutup pidatonya dengan memuji AS dan Inggris sebagai dua negara paling luar biasa yang pernah ada di dunia, serta menyerukan kelanjutan kerja sama dalam membela kebebasan.
Setelah pidato tersebut, empat jet tempur AS melintas di atas Gedung Putih dalam atraksi flypast yang disaksikan oleh Trump, Raja Charles III, Ratu Camilla, dan Melania.
Kunjungan pasangan kerajaan Inggris ke AS berlangsung dengan pengamanan ketat, beberapa hari setelah insiden penembakan terkait acara White House Correspondents Dinner yang dihadiri Trump, yang oleh pemerintah disebut sebagai upaya pembunuhan ketiga terhadap presiden dalam dua tahun terakhir.