Terjangkit Hantavirus di Kapal Pesiar, 2 WN Singapura Diisolasi
Badan Penyakit Menular Singapura atau Communicable Diseases Agency mengumumkan bahwa hasil tes untuk keduanya masih dalam proses dan belum keluar.
Dua orang warga Singapura yang sebelumnya berada di kapal pesiar MV Hondius, yang terhubung dengan klaster wabah hantavirus, saat ini sedang menjalani isolasi di National Centre for Infectious Diseases (NCID) untuk pemeriksaan lebih lanjut. Badan Penyakit Menular Singapura atau Communicable Diseases Agency (CDA) menginformasikan pada Kamis (7/5) bahwa hasil tes untuk kedua individu tersebut masih dalam proses menunggu.
"Satu orang mengalami pilek tetapi dalam keadaan baik, sementara yang lainnya tidak menunjukkan gejala. Risiko terhadap masyarakat umum di Singapura saat ini dinyatakan rendah," demikian pernyataan CDA, yang dikutip dari laman Channel News Asia, pada Jumat (8/5).
CDA menjelaskan bahwa mereka menerima informasi pada 4 dan 5 Mei bahwa kedua orang tersebut berada di atas kapal MV Hondius saat kapal berangkat dari pelabuhan Ushuaia, Argentina, pada 1 April. Kapal tersebut kemudian melaporkan adanya wabah hantavirus Andes.
Individu pertama adalah seorang warga negara Singapura berusia 67 tahun yang tiba di Singapura pada 2 Mei. Sedangkan individu kedua adalah penduduk tetap Singapura berusia 65 tahun yang tiba pada 6 Mei.
Keduanya diketahui telah turun dari kapal dan berada dalam penerbangan yang sama dengan satu kasus hantavirus terkonfirmasi dari St Helena menuju Johannesburg pada 25 April. Pasien tersebut tidak melakukan perjalanan ke Singapura dan dilaporkan meninggal di Afrika Selatan.
Hingga Rabu, terdapat delapan kasus yang terkait dengan klaster kapal pesiar tersebut, termasuk tiga kematian. Tiga kasus telah dipastikan positif terinfeksi hantavirus, sementara sisanya masih dalam tahap penyelidikan. CDA juga menyebut bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saat ini menilai risiko penyebaran kepada populasi global masih rendah.
Apabila hasil tes kedua warga Singapura tersebut negatif, mereka tetap akan menjalani karantina selama 30 hari sejak tanggal paparan terakhir. CDA menjelaskan bahwa sebagian besar kasus hantavirus biasanya menunjukkan gejala dalam periode tersebut. Setelah masa karantina selesai, tes ulang akan dilakukan sebelum keduanya dibebaskan.
"Mereka kemudian akan dipantau melalui telepon hingga total 45 hari sejak paparan terakhir, yang merupakan masa inkubasi maksimum hantavirus," kata CDA.
Namun, jika hasil tes menunjukkan positif, keduanya akan tetap dirawat di rumah sakit untuk pemantauan dan penanganan medis, mengingat infeksi hantavirus dapat berkembang menjadi kondisi yang serius. Otoritas kesehatan juga akan melakukan pelacakan kontak untuk mengidentifikasi individu yang mungkin terpapar selama masa penularan, dan kontak erat nantinya akan menjalani karantina.
Hantavirus adalah kelompok virus yang dibawa oleh beberapa jenis hewan pengerat. Penularan biasanya terjadi ketika seseorang menghirup debu yang terkontaminasi urine, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi, terutama saat membersihkan area yang terdapat aktivitas hewan pengerat.
Kasus Jarang Terjadi
Kasus infeksi hantavirus tergolong jarang, tetapi gejalanya bisa bervariasi dari yang ringan hingga yang berat. Menurut CDA, hantavirus umumnya tidak dapat menular antar manusia. Namun, Andes virus yang ditemukan di beberapa daerah di Amerika Selatan diketahui memiliki potensi penularan dari manusia ke manusia.
Gejala yang muncul akibat infeksi Andes virus meliputi demam, nyeri tubuh, kelelahan, gangguan pencernaan, dan kesulitan bernapas. Dalam kondisi yang parah, infeksi ini dapat berkembang dengan cepat menjadi syok dan bahkan berujung pada kematian.
Saat ini, belum ada obat antivirus yang spesifik atau vaksin yang tersedia untuk menangani hantavirus. Penanganan pasien dilakukan melalui perawatan suportif di rumah sakit untuk membantu mengatasi gejala yang muncul.
WHO menyatakan bahwa mekanisme penularan dalam kluster MV Hondius masih dalam tahap penyelidikan, dan kemungkinan penularan antarmanusia belum dapat diabaikan. Semua penumpang kapal pesiar tersebut telah diminta untuk memantau kesehatan mereka sendiri dan segera mencari bantuan medis jika mengalami gejala yang mencurigakan.