Setengah Abad Berlalu, Manusia Kembali Menuju Bulan dalam Misi NASA Artemis II
Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) kembali mengirimkan astronot menuju Bulan setelah lebih dari 50 tahun.
Untuk pertama kalinya selama lebih dari separuh abad astronot akan kembali mengitari Bulan untuk menjalani misi program bernama Artemis II.
Ini adalah momen yang mendebarkan ketika empat astronaut — dari Badan Antariksa Kanada, Jeremy Hansen, bersama astronaut Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) Reid Wiseman, Victor Glover, dan Christina Koch — menuju Bulan dalam misi selama 10 hari.
Misi Artemis II menandai pertama kalinya manusia meninggalkan orbit Bumi sejak misi Apollo 17 pada 1972. Dengan kehadiran Glover, Koch, dan Hansen, misi ini juga menjadi yang pertama kalinya seorang astronaut kulit hitam, seorang astronaut perempuan, dan seorang astronaut non-Amerika melakukan perjalanan sejauh ini.
“Kemanusiaan sekali lagi menunjukkan apa yang mampu kita lakukan, dan harapan kalian untuk masa depanlah yang membawa kami dalam perjalanan mengelilingi Bulan ini,” kata Hansen, Kamis lalu, seperti dilansir CNN.
Menempuh Jarak Terjauh yang Pernah Dicapai Mannusia
Roket bertenaga besar itu meluncur ke langit biru cerah pada pukul 18.35 waktu setempat (ET) pada hari Rabu dari Kennedy Space Center, AS, saat kerumunan orang berkumpul di sepanjang Space Coast Florida untuk menyaksikan dan menyemangati perjalanan berawak pertama ke Bulan dalam setengah abad.
Misi ini merupakan penerbangan berawak perdana dalam program Artemis milik NASA — sebuah rencana jangka panjang untuk mengembalikan manusia ke Bulan dan pada akhirnya membangun permukiman di sana.
“Setelah jeda singkat selama 54 tahun, NASA kembali menjalankan misi mengirim astronaut ke Bulan,” kata administrator NASA Jared Isaacman dalam konferensi pers pasca-peluncuran, seperti dilansir CNN, Minggu (5/4).
Kru Artemis II akan menghabiskan satu hari mengorbit Bumi, memeriksa kapsul mereka sebelum menyalakan mesin utama yang akan mendorong mereka menuju Bulan, sekaligus mencetak rekor jarak — menempuh sekitar 405.000 kilometer di luar angkasa.
Jika semuanya berjalan lancar, kru akan melintas di dekat Bulan — tanpa mendarat — sekitar enam hari kemudian. Secara lebih luas, NASA berharap misi ini menjadi dasar bagi penerbangan masa depan yang membawa astronaut hingga ke permukaan Bulan.
Dengan misi yang kini telah berjalan, para astronaut sedang menguji sistem di dalam pesawat Orion. Berikut beberapa tujuan utama Artemis II.
Langkah Awal
Tak lama setelah peluncuran, dua booster roket padat berwarna putih terpisah dan jatuh ke laut, disusul tahap inti roket.
Para astronaut tidak langsung menuju Bulan. Sebaliknya, mereka akan mengorbit Bumi selama sekitar 25 jam.
Salah satu tujuan selama berada di orbit Bumi adalah menguji kemampuan manuver Orion.
Tahap propulsi kriogenik sementara (ICPS) akan mendorong Orion ke orbit tinggi Bumi sebelum terpisah sekitar empat setengah jam setelah peluncuran. Kru kemudian akan mendekatkan kapsul hingga hanya beberapa meter dari ICPS untuk menguji kendali.
Setelah uji coba, ICPS akan masuk kembali ke atmosfer Bumi dan jatuh ke Samudra Pasifik.
Selama beberapa hari ke depan, para kru akan hidup, makan, tidur, berolahraga, dan melakukan eksperimen ilmiah di dalam ruang Orion yang hanya sebesar sebuah van kemping. Sepanjang waktu itu, mereka juga akan menghadapi berbagai risiko yang melekat pada misi ruang angkasa dalam.
Meski sebagian aktivitas mereka di dalam kapsul Orion berdiameter 5 meter (16,5 kaki) bersifat pribadi, NASA menyiarkan kegiatan di dalam kapsul hampir setiap hari selama misi berlangsung.
Pada hari kedua, kru akan melakukan pembakaran translunar injection (TLI), yang menempatkan mereka pada jalur menuju Bulan.
Apa yang Dikerjakan Astronaut?
Ini bukan perjalanan wisata. Para astronaut akan bekerja keras menguji sistem dan melakukan eksperimen, beberapa di antaranya sudah dimulai sejak mereka masih di Bumi, termasuk menguji bagaimana tubuh manusia bereaksi di luar angkasa.
Pada hari ketiga, astronaut akan melakukan demonstrasi CPR (resusitasi jantung paru). Meski terdengar sederhana, hal ini harus dilakukan dalam kondisi tanpa gravitasi.
Di hari yang sama, mereka juga akan menguji komunikasi melalui Deep Space Network (DSN) milik NASA, yaitu jaringan antena global di Goldstone (California), Madrid (Spanyol), dan Canberra (Australia). Jaringan ini digunakan untuk berkomunikasi dengan pesawat luar angkasa di ruang angkasa dalam, termasuk New Horizons yang melintasi Pluto pada 2015, serta Voyager yang diluncurkan pada 1977.
Hari keempat relatif lebih tenang, dengan pembakaran orbit dan peninjauan rencana pencitraan saat melintas di Bulan. Pada hari kelima, astronaut akan berlatih mengenakan pakaian antariksa dengan cepat dan melakukan proses penekanan tekanan.
Hari Puncak: Mendekati Bulan
Hari keenam adalah momen yang paling dinanti. Para astronaut akan mendekati Bulan, mengelilinginya, dan mengambil gambar sisi jauh permukaan Bulan.
Foto-foto ini bukan sekadar dokumentasi biasa, melainkan gambar yang ditargetkan pada wilayah penting secara ilmiah yang jarang terlihat dari Bumi.
Meskipun manusia pernah ke Bulan pada 1960-an dan 1970-an, misi ini berpotensi memberikan pemandangan sisi jauh yang belum pernah dilihat langsung oleh manusia, karena beberapa wilayah tidak tersinari saat misi Apollo berlangsung.
Saat berada di sisi jauh Bulan, astronaut akan mengalami loss of signal (LOS), yaitu kehilangan komunikasi dengan Bumi selama sekitar 30 menit.
Perjalanan Pulang
Hari ketujuh sebagian besar merupakan hari istirahat, meski kru tetap berkomunikasi dengan ilmuwan di Bumi mengenai hasil pengamatan.
Hari kedelapan dan kesembilan difokuskan pada pengujian perlindungan radiasi dan kemampuan kendali manual Orion, serta uji pakaian khusus yang membantu mengatur aliran darah astronaut.
Akhirnya, hari kesepuluh menjadi momen kepulangan. Proses ini akan menjadi uji penting bagi perisai panas Orion, yang sebelumnya mengalami masalah dalam misi Artemis I tanpa awak. NASA menyatakan masalah tersebut telah diperbaiki.
Tentu saja, ini hanya sebagian dari pekerjaan mereka. Ada juga eksperimen lain, seperti pengujian alat olahraga di dalam kapsul yang akan dilakukan oleh astronaut Kanada.
Selain itu, mereka juga akan menguji komunikasi laser sebagai alternatif radio, serta melakukan komunikasi pertama antar pesawat antara Orion dan astronaut di Stasiun Luar Angkasa Internasional.
Terdiam Sejenak
Orion kini berada pada jalur yang disebut “free return trajectory.” Istilah ini dalam dunia penerbangan luar angkasa berarti perjalanan seperti ketapel: berkat dinamika orbit dan gravitasi Bulan, bahkan jika Orion tidak lagi menyalakan mesinnya, kapsul tetap akan mengitari Bulan dan kembali ke Bumi.
NASA juga memberi kesempatan kepada para penggemar luar angkasa untuk mengikuti siaran langsung dan mendengarkan sesi komunikasi publik, di mana para astronaut berbicara dengan jurnalis dan pihak di Bumi. Sesi pertama berlangsung pada Kamis, dengan para reporter meminta kru membagikan pengalaman dan refleksi menarik.
Wiseman, komandan misi, menceritakan momen di dalam Orion yang membuat seluruh kru terdiam.
Pada Kamis malam, “Mission Control Houston mengubah orientasi pesawat kami saat matahari terbenam di balik Bumi,” kata Wiseman. “Kami tidak tahu apa yang akan kami lihat saat itu — tetapi kami bisa melihat seluruh Bumi, dari kutub ke kutub.”
“Kami bisa melihat Afrika, Eropa, dan jika diperhatikan lebih dekat, terlihat juga aurora. Itu adalah momen paling menakjubkan, dan membuat kami berempat terdiam sejenak.”