Putra Aung San Suu Kyi Desak Myanmar Tunjukkan Bukti Ibunya Masih Hidup
Putra Aung San Suu Kyi berusaha mencari dukungan dari Prancis, yang dikenal sebagai salah satu pendukung utama demokrasi di Myanmar.
Putra pemimpin Myanmar yang digulingkan, Aung San Suu Kyi, Kim Aris, pada Selasa (5/5/2026) mengajukan permohonan kepada Prancis untuk membantu mendapatkan bukti yang dapat diverifikasi secara independen mengenai keberadaan ibunya, yang saat ini berada dalam tahanan rumah.
Permohonan ini disampaikan melalui tim pengacaranya, yang menekankan pentingnya informasi tentang kondisi Aung San Suu Kyi setelah perintah pemindahan yang dikeluarkan oleh pemimpin militer Myanmar, Min Aung Hlaing, pada Kamis (30/4).
Menurut Kim Aris, "Saya memohon kepada Prancis untuk turut menyuarakan seruan ini bersama saya agar kami dapat memperoleh bukti kehidupan yang diverifikasi secara independen, serta memastikan bahwa hak-hak dasar beliau dijamin, termasuk perawatan medis yang layak, akses kepada pengacaranya, dan kepada keluarganya," tulisnya dalam surat kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron, sebagaimana dilihat oleh AFP.
Min Aung Hlaing memerintahkan pemindahan Aung San Suu Kyi lima tahun setelah ia ditahan akibat kudeta. Kim Aris, yang sangat khawatir, menyatakan bahwa hingga saat ini ia belum menerima kabar apapun mengenai ibunya, yang tetap menjadi sosok yang sangat dihormati di Myanmar. Pengacara Francois Zimeray menambahkan bahwa Aris telah menyerahkan surat permohonan tersebut kepada Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, dalam sebuah pertemuan pada hari yang sama.
"Kami tidak memiliki bukti bahwa ia masih hidup, tidak ada foto selama bertahun-tahun, bahkan tidak ada indikasi bahwa ia benar-benar telah dipindahkan. Kami masih tidak tahu di mana ia berada," ujar Zimeray kepada AFP.
Meskipun kantor Min Aung Hlaing membagikan foto Aung San Suu Kyi yang menunjukkan dirinya duduk diapit oleh dua pria berseragam, Zimeray menyatakan, "Namun kami tidak tahu apakah itu asli atau hasil kecerdasan buatan (AI)."
Sikap Prancis
Pengacara lain yang juga mewakili Aung San Suu Kyi, Catalina de la Sota, menyatakan, "Kami tidak dapat membayangkan bahwa beliau sudah tidak lagi hidup. Namun, mengapa ia ditahan dalam kerahasiaan total? Hal ini melanggar semua konvensi internasional. Kami khawatir dengan kesehatannya."
Pernyataan ini menunjukkan keprihatinan mendalam mengenai kondisi Aung San Suu Kyi yang saat ini masih ditahan. Kementerian Luar Negeri Prancis juga menegaskan bahwa mereka akan terus berusaha untuk memastikan pembebasan Aung San Suu Kyi secara segera dan tanpa syarat.
Min Aung Hlaing, pemimpin junta militer, menggulingkan pemerintahan yang terpilih pada tahun 2021 dan menahan Aung San Suu Kyi dengan berbagai tuduhan yang dianggap oleh kelompok hak asasi manusia sebagai rekayasa untuk mengeluarkannya dari panggung politik.
Situasi ini telah memicu perang saudara yang mengakibatkan ribuan orang kehilangan nyawa dan jutaan lainnya terpaksa mengungsi di negara Asia Tenggara yang memiliki populasi sekitar 50 juta jiwa tersebut. Kondisi ini semakin memperburuk situasi kemanusiaan di Myanmar.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4639809/original/031734500_1699401202-download.jpg)