Presiden Iran Tuding Serangan Bom ISIS di Masjid Afghanistan Adalah Rencana AS
Itu adalah serangan terburuk di Afghanistan sejak penarikan mundur pasukan AS ketika setelah bom ISIS juga meledak di Bandara Kaburl pada 26 Agustus lalu dan menewaskan sedikitnya 169 warga Afghanistan dan 13 tentara AS.
Presiden Iran Ibrahim Raisi kemarin mengklaim bom bunuh diri yang menargetkan sebuah masjid Syiah di Afghanistan dua hari lalu merupakan "rencana" Amerika Serikat untuk menebar "permusuhan antaretnis" di negara tersebut.
ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri di sebuah masjid masjid Syiah di Provinsi Kunduz Timur pada Jumat.
Serangan itu menewaskan sedikitnya 46 orang dan melukai lebih dari 140 orang lainnya.
ISIS mengatakan seorang anggota mereka "meledakkan rompi peledak di tengah kerumunan" jemaah Syiah yang berkumpul di dalam masjid.
Itu adalah serangan terburuk di Afghanistan sejak penarikan mundur pasukan AS ketika setelah bom ISIS juga meledak di Bandara Kaburl pada 26 Agustus lalu dan menewaskan sedikitnya 169 warga Afghanistan dan 13 tentara AS.
Raisi mengatakan, "kejahatan ini dilakukan dengan tujuan menyebarkan perpecahan di antara umat Islam ini dilakukan oleh mereka yang anti-manusia dan anti-agama. AS telah memfasilitasi kegiatan penjahat ISIS di Afghanistan dan mencegah mereka untuk diberantas." Demikian dilaporkan kantor berita Mehr.
"Kelanjutan aksi teroris dan kombinasi hasutan agama dengan hasutan etnis menciptakan perpecahan dan merupakan bagian dari rencana keamanan baru dari AS untuk Afghanistan," kata Raisi seperti dilansir dari laman Al Arabiya, Minggu (10/10).
Sejak Taliban menguasai Afghanistan pada 15 Agustus, Tehran bersikap konservatif dalam retorikanya tentang kelompok itu dan tidak kritis terhadap pemerintahan Taliban.
Reporter magang: Ramel Maulynda Rachma
Baca juga:
Warga Afghanistan Ramai-Ramai Ingin ke Iran, Sebagian Ditolak
Ledakan Masjid Syiah di Afghanistan Tewaskan 50 Orang dan 90 Lainnya Terluka
Anak-Anak Perempuan di Sebagian Wilayah Afghanistan Mulai Kembali ke Sekolah
Lagi, Taliban Gantung Mayat Pelaku Kriminal di Depan Umum
Amnesty International Tuding Taliban Bunuh 13 Warga Etnis Hazara di Afghanistan
Taliban Tunjuk 38 Pejabat Baru Pemerintahan Tapi Tidak Ada Satu Pun Perempuan
Anak-Anak di Afghanistan Meninggal karena Kelaparan