Perdamaian Palestina-Israel jadi fokus utama bilateral Menlu Retno
Bilateral dilakukan dengan tiga negara yaitu Arab Saudi, Swedia, dan Uni Eropa.
Menteri Luar Negeri Indonesia Retno L.P Marsudi kemarin menghadiri persiapan Konferensi Perdamaian di Paris. Konferensi tersebut membahas mengenai masalah perdamaian Israel dan Palestina.
Ada pun kehadiran Menlu Retno tak hanya untuk hadir dalam konferensi setingkat menteri. Mantan Dubes Indonesia untuk Belanda ini juga sempat melakukan pertemuan bilateral dengan tiga negara, yaitu Arab Saudi, Swedia dan Uni Eropa.
"Dengan tiga negara tersebut pada intinya kami membahas mengenai bagaimana upaya kami bisa memberikan kontribusi terhadap proses perdamaian(Palestina - Israel)yang dilakukan," tutur Menlu Retno di kantornya, Senin (6/6).
Menurut Menlu Retno, perundingan damai Palestina-Israel sudah lama tak ada perkembangan.
"Kita tahu sudah cukup lama sejak 2014 tidak ada negosiasi lagi antara Palestina dan Israel dan kita sadar bahwa kemandekan tersebut kita lihat bahwa situasi di lapangan terus memburuk, melanjutnya ilegal settlement oleh Israel," katanya.
Terkait penilaian tersebut, Menlu Retno menuturkan bila semua sepakat bahwa negosiasi harus segera dimulai kembali.
"Masing-masing bicara mengenai sudut pandang, dan intinya kita memiliki komitmen yang tinggi untuk berikan kontribusi. Kadang sudut pandang berbeda, sehingga yang paling penting adalah bagaimana kita mengombinasikan sudut pandang yang berbeda tersebut ke sesuatu yang betul bisa dilakukan," tandasnya.
Konferensi Perdamaian untuk Israel-Palestina yang direncanakan akan dilakukan pertengahan 2016, digagas oleh Prancis. Pertemuan ini menindaklanjuti pertemuan sebelumnya yang dilakukan oleh Amerika Serikat beberapa tahun lalu.
Baca juga:
Israel-Palestina akan dipaksa gelar perundingan damai sebelum 2017
Mesir ingin jadi mediator diskusi damai Israel-Palestina
Patung raksasa Nelson Mandela berdiri tegak di Palestina
Ikut Konferensi Paris, RI dorong solusi dua negara Palestina-Israel
Kisah hacker Aljazair rampok USD 100 juta demi membantu Palestina