Penuhi janji, Duterte perintahkan militer habisi Abu Sayyaf
"Hancurkan mereka, itu adalah perintah," kata Presiden Filipina di Pangkalan Militer Zamboanga
Presiden Filipina Rodrigo Duterte pernah berjanji akan menangani aksi-aksi penculikan Abu Sayyaf, setelah perang terhadap narkoba dan reformasi birokrasi mulai berjalan. Karena dua agenda awal sudah menunjukkan hasil setelah dua bulan menjabat, kini perhatian Duterte mulai beralih kepada para militan di selatan negaranya.
Saat mendatangi tentara di Pangkalan Militer Zamboanga, Mindanao, kemarin Duterte menyatakan Abu Sayyaf harus segera diberantas. Kawasan muslim Filipina terancam dipengaruhi paham Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) seandainya terlambat.
"Hancurkan mereka, itu adalah perintah," kata Duterte seperti dilansir Kantor Berita Reuters, Kamis (11/8).
Duterte menyatakan Abu Sayyaf berbeda dari gerakan pemberontak muslim seperti Front Pembebasan Bangsa Moro. Abu Sayyaf menurutnya bandit berkedok militan, membunuh warga sipil tanpa alasan, serta sejak awal tidak membuka ruang negosiasi.
"Jika kita membiarkan semua ini berlangsung, maka tiga sampai tujuh tahun ke depan Filipina akan mulai memiliki persoalan ISIS," kata Duterte.
Sejauh ini 11 WNI masih disekap oleh Abu Sayyaf. Selama enam bulan terakhir, belasan pelaut asal Indonesia diculik bergantian kelompok militan itu, demi mendapatkan tebusan. Abu Sayyaf tahun ini memenggal dua sandera asal Kanada karena uang tebusan tak dibayar.
Janji menghadapi Abu Sayyaf dilontarkan Duterte sebelum dilantik menjadi presiden pada Juni lalu. "Akan tiba waktunya bagi saya untuk berhadapan langsung dengan Abu Sayyaf."
Politikus 71 tahun itu sebetulnya punya hubungan cukup baik dengan Bangsa Moro, kelompok muslim yang mengelola wilayah otonomi di Pulau Mindanao. Front Pembebasan Bangsa Moro (MILF) yang dulu memberontak pada Manila menganggap Duterte sebagai sosok yang bisa dipercaya.
Pada 27 Februari lalu, Duterte berkunjung khusus ke kawasan Sultan Kudarat, markas para pejuang MILF. "Inilah calon presiden kita," kata Wakil Ketua MILF, Ghadzali Jaafar, saat memperkenalkan Duterte.
Entah terkait atau tidak dengan lawatan Presiden Duterte ke Mindanao, awal pekan ini MNLF bentrok dengan Abu Sayyaf di Kalingalan Caluang, Provinsi Sulu, Filipina. Dilaporkan empat anggota Abu Sayyaf tewas.
MNLF sebelumnya ikut membantu pemerintah Indonesia bernegosiasi dengan faksi Abu Sayyaf untuk penyelamatan 10 sandera asal Tanah Air yang diculik di perairan Sulu.
Baca juga:
Bentrok dengan MNLF, 4 orang Abu Sayaf tewas di tempat WNI disandera
Wapres JK desak Presiden Duterte bebaskan WNI disandera Abu Sayyaf
Duterte ajak dialog MILF, singgung pembebasan WNI korban Abu Sayyaf
Abu Sayyaf beri tenggat waktu bayar tebusan 4 ABK selama 15 hari
Kondisi 3 ABK Charles belum diketahui karena terhambat komunikasi
Penyandera ABK Charles juga minta uang logistik