Duterte ajak dialog MILF, singgung pembebasan WNI korban Abu Sayyaf
Merdeka.com - Presiden Filipina, Rodridgo Duterte, merencanakan 10 hari khusus di ke Pulau MIndanao. Dia berencana menemui petinggi Front Pembebasan Bangsa Muslim Moro (MILF) membicarakan pelbagai isu.
Salah satu isu yang mendesak dituntaskan adalah pemberian otonomi khusus terhadap pulau-pulau di selatan Filipina, yang dihuni mayoritas penduduk muslim. Janji adanya otonomi itu berhasil membuat MILF berhenti angkat senjata beberapa tahun terakhir. "Saya harus menyelesaikan isu Mindanao. Kerangka kerjanya harus kami pikirkan," ujarnya seperti dilansir Inquirer, Kamis (4/8).
Petinggi Front Nasional Pembebasan Moro (MNFL), Nur Misuari, juga akan ditemui oleh Duterte dalam kunjungan yang belum detail terkait tanggalnya itu. Mantan Wali Kota Davao itu tidak merinci apakah akan membicarakan isu penculikan warga negara asing di kawasan Kepulauan Sulu, markas Abu Sayyaf.
Duterte menegaskan, khusus Abu Sayyaf, pemerintah Filipina tidak akan membuka komunikasi apapun. "Abu Sayyaf tidak punya ideologi, berbeda dari pemberontak komunis atau MILF," kata presiden 71 tahun itu.
Dalam informasi terpisah, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mendapat informasi kunjungan Duterte ke Mindanao dalam rangka pembebasan WNI. Gatot mengapresiasi keseriusan pemerintah Filipina membantu pembebasan korban penculikan Abu Sayyaf.
Dengan berdialog bersama Misuari yang masih dihormati oleh sisa-sisa anggota Abu Sayyaf, pembebasan WNI seharusnya lebih mudah dilakukan. "(Misuari) kan punya pasukan, punya pengaruh juga," kata Panglima TNI.
Akhir Juli lalu, pemerintahan Duterte telah berhasil mencapai kesepakatan awal berdamai dengan pemberontak komunis pimpinan Jose Maria Sison. Milisi berkekuatan 4000 orang itu banyak tersebar di pedesaan utara Filipina. Duterte berusaha menggandeng pasukan-pasukan yang selama ini mengganggu keamanan Filipina.
Juni lalu, Duterte berjanji akan menghentikan semua penculikan warga asing oleh Abu Sayyaf. "Akan tiba waktunya bagi saya untuk berhadapan langsung dengan Abu Sayyaf."
Duterte sejak masih jadi wali kota punya hubungan cukup baik dengan Bangsa Moro, kelompok muslim yang mengelola wilayah otonomi di Pulau Mindanao. Front Pembebasan Bangsa Moro (MILF) yang dulu memberontak pada Manila menganggap Duterte sebagai sosok yang bisa dipercaya.
Pada 27 Februari lalu, Duterte berkunjung khusus ke kawasan Sultan Kudarat, markas para pejuang MILF. "Inilah calon presiden kita," kata Wakil Ketua MILF, Ghadzali Jaafar, saat memperkenalkan Duterte.
(mdk/ard)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya