Netanyahu: Israel dan Hamas Siap Masuki Gencatan Senjata Fase Kedua
Kapan rencana untuk menerapkan gencatan senjata tahap kedua akan dilaksanakan?
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengungkapkan bahwa Israel dan Hamas diperkirakan akan segera memasuki tahap kedua dari gencatan senjata setelah kelompok tersebut menyerahkan sandera terakhir yang dibawa ke Gaza. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Netanyahu dalam sebuah konferensi pers bersama Kanselir Jerman, Friedrich Merz, yang dilansir dari laman Japan Today pada Senin (8/12/2025).
Ia menegaskan bahwa fase kedua, yang mencakup pembahasan mengenai pelucutan senjata Hamas serta penarikan pasukan Israel dari Gaza, dapat dimulai segera setelah akhir bulan ini. Jenazah Ran Gvili, seorang perwira polisi Israel berusia 24 tahun yang tewas dalam serangan 7 Oktober 2023, menjadi elemen penting yang melengkapi tahap pertama gencatan senjata. Pada hari Minggu (7/12), Israel juga menyerahkan 15 jenazah warga Palestina sebagai imbal balik.
Namun, Hamas menyatakan bahwa belum semua jenazah dapat ditemukan karena banyak yang masih tertimbun reruntuhan akibat serangan selama dua tahun terakhir. Israel menuduh Hamas sengaja memperlambat proses dan mengancam akan melanjutkan operasi militer atau menahan bantuan kemanusiaan jika pengembalian jenazah tidak selesai. Sebuah kelompok keluarga sandera menegaskan bahwa tahap berikutnya tidak boleh dimulai sebelum jenazah Gvili sepenuhnya dikembalikan.
Tahap Kedua dan Opsi Pelucutan Senjata
Seorang pejabat senior Hamas menyatakan kepada Associated Press bahwa mereka siap untuk membahas opsi "membekukan, menyimpan, atau meletakkan" senjata sebagai bagian dari kesepakatan. Hal ini membuka peluang untuk diskusi mengenai salah satu isu paling sulit dalam negosiasi. Netanyahu juga menyinggung tentang tahap ketiga, yaitu proses deradikalisasi di Gaza.
"Hal itu pernah dilakukan di Jerman, Jepang, dan negara-negara Teluk. Itu juga bisa diterapkan di Gaza, tetapi Hamas harus dibubarkan," ujarnya. Rencana gencatan senjata yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump mencakup pengerahan pasukan internasional untuk mengamankan Gaza serta pembentukan pemerintahan sementara Palestina di bawah pengawasan dewan internasional.
Penguasaan Israel atas Gaza dan posisi Jerman
Kepala Staf Militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, mengklasifikasikan Garis Kuning—yang memisahkan sebagian besar wilayah Gaza yang dikuasai Israel—sebagai "perbatasan baru". Ia menegaskan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di garis tersebut sebagai benteng pertahanan yang vital.
Kanselir Jerman, Merz, menyatakan dukungan terhadap pelaksanaan tahap kedua dengan mengirimkan perwira dan diplomat ke pusat koordinasi sipil-militer yang dipimpin oleh AS di bagian selatan Israel, serta memberikan bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Meskipun Jerman tetap mendukung solusi dua negara, Merz menekankan bahwa pengakuan terhadap negara Palestina hanya dapat diberikan setelah proses lengkap, bukan di awal seperti yang diusulkan oleh beberapa pihak internasional.
Netanyahu mengungkapkan bahwa ia menunda rencana kunjungan ke luar negeri, termasuk ke Jerman, karena khawatir akan surat perintah penangkapan yang dikeluarkan oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC) tahun lalu terkait konflik di Gaza. Merz juga menegaskan tidak ada rencana untuk kunjungan Netanyahu ke Jerman, dan ia tidak mengetahui adanya pembahasan mengenai sanksi atau pelarangan ekspor militer Uni Eropa terhadap Israel.
Sebelumnya, Jerman sempat menangguhkan sementara ekspor perlengkapan militer ke Israel, namun keputusan tersebut dicabut pada 10 Oktober setelah dimulainya gencatan senjata. Keputusan ini menunjukkan dinamika hubungan internasional yang rumit di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Jumlah korban terus bertambah
Pada hari Minggu (7/12), militer Israel mengumumkan bahwa mereka telah menewaskan seorang militan yang mendekati pasukan mereka di dekat Garis Kuning. Di sisi lain, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa lebih dari 370 warga Palestina telah kehilangan nyawa sejak dimulainya gencatan senjata. Dalam 24 jam terakhir, enam jenazah korban dari serangan terbaru juga telah dibawa ke rumah sakit.
Serangan yang dilakukan oleh Hamas pada 7 Oktober 2023 menyebabkan kematian sekitar 1.200 warga Israel dan lebih dari 250 orang disandera. Hampir semua sandera atau jenazah mereka telah berhasil dikembalikan melalui gencatan senjata atau kesepakatan lainnya. Sejak perang berlangsung, serangan Israel dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 70.360 warga Palestina, menurut informasi dari Kementerian Kesehatan Gaza. Sekitar separuh dari jumlah korban tersebut adalah perempuan dan anak-anak. Meskipun berada di bawah kendali Hamas, angka tersebut dianggap dapat dipercaya oleh PBB dan berbagai organisasi internasional.