Mongolia punya presiden baru, krisis ekonomi dan utang sudah menanti
Khaltmaa Battulga menjanjikan perbaikan ekonomi dan mengeluarkan Mongolia dari jerat utang.
Mongolia kini memiliki presiden baru, Khaltmaa Battulga. Namun, dia harus berjuang keras mengerek pertumbuhan ekonomi negaranya dan mengeluarkan Mongolia dari jerat utang.
Dilansir dari laman BBC, Sabtu (8/7), Khaltmaa Battulga yang berasal dari Partai Demokrat meraup 50,7 persen, dari seluruh surat suara masuk sebanyak 87 persen. Dia merupakan konglomerat dari bisnis di bidang properti, sekaligus mantan pegulat. Usahanya meliputi hotel, industri kuliner, dan taman hiburan bertema Genghis Khan.
"Saya akan segera bekerja secepatnya buat mencari jalan keluar dari krisis ekonomi, dan membuat Mongolia bebas utang seperti janji saya," kata Khaltmaa.
Lawannya, Mieygombo Enkhbold, nampaknya hanya meraih 41 persen suara. Selain ekonomi, Khaltmaa juga mesti menaklukkan parlemen yang dikuasai Partai Rakyat Mongolia.
Utang menjadi masalah penting Mongolia. Sebab, hasil tambang mereka ternyata tidak cukup buat mengembalikan pinjaman luar negeri.
Industri pertambangan Mongolia sempat melejit enam tahun lalu, dan membikin negara itu menjadi yang pertumbuhan ekonominya tercepat, dengan pendapatan kotor mencapai 17.5 persen. Namun, pada Agustus tahun lalu keadaan berbalik, di mana harga hasil tambang mereka jatuh. Hal itu menyebabkan nilai mata uang Tugrik mereka terjun bebas.
Alhasil, Mei lalu mereka terpaksa meminjam USD 5,5 miliar ke Lembaga Keuangan Dunia (IMF), karena lesunya perdagangan dengan China dan anjloknya harga barang tambang.
Baca juga:
Negara G-20 dinilai tak mampu atasi krisis global
Kaum muda kecanduan ngutang, China dibayangi krisis ekonomi
Pemerintah siapkan 2 aturan antisipasi krisis ekonomi
BI luncurkan buku antisipasi krisis ekonomi
May Day, Venezuela naikkan gaji warga di tengah krisis ekonomi