Menteri Pertahanan Israel Ancam Bakar Seluruh Lebanon
Gencatan senjata yang berlangsung selama 10 hari antara Israel dan Lebanon, yang dimulai pada 17 April, tidak berhasil meredakan konflik yang ada.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengeluarkan ancaman serius terhadap Lebanon seiring dengan meningkatnya ketegangan konflik dengan Hizbullah. Ia memperingatkan bahwa serangan militer Israel dapat meluas, yang akan berdampak signifikan bagi seluruh wilayah Lebanon.
Dalam pertemuan dengan Jeanine Hennis-Plasschaert, utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Lebanon, Katz menyatakan bahwa tindakan Hizbullah berpotensi memicu kehancuran yang lebih besar. Ia juga menuduh pemerintah Lebanon tidak mengambil tindakan tegas terhadap kelompok tersebut.
"Api yang dipicu akan membakar Hizbullah dan seluruh Lebanon," ujar Katz, seperti dikutip dalam pernyataan resmi kantornya, yang dirilis oleh Anadolu Agency pada Selasa (28/4/2026).
Katz menuduh Presiden Lebanon Joseph Aoun mempertaruhkan masa depan negaranya dan menegaskan bahwa Israel tidak akan mentoleransi situasi di mana gencatan senjata tetap berlaku tetapi serangan terhadap wilayah Israel terus berlanjut. Ia menambahkan bahwa dirinya bersama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menginstruksikan militer Israel untuk merespons dengan kekuatan penuh terhadap setiap ancaman atau pelanggaran kedaulatan.
Di sisi lain, Presiden Aoun menegaskan bahwa gencatan senjata merupakan langkah awal yang penting untuk menuju negosiasi lebih lanjut dengan Israel. Ia menyatakan bahwa posisi tersebut telah disampaikan kepada Amerika Serikat, yang berperan sebagai mediator dalam upaya diplomatik antara kedua pihak.
Gencatan Senjata Gagal Meredakan Konflik
Sebelumnya, Netanyahu pada Sabtu (26/4) memerintahkan peningkatan operasi militer di Lebanon sebagai respons terhadap serangan Hizbullah. Sejak awal Maret, konflik antara kedua pihak telah menewaskan lebih dari 2.500 orang di Lebanon, melukai ribuan lainnya, dan memaksa lebih dari 1,6 juta warga mengungsi, menurut data resmi dari pemerintah Lebanon.
Gencatan senjata selama 10 hari yang dimulai pada 17 April gagal sepenuhnya meredakan konflik. Kedua pihak saling menuduh melakukan pelanggaran, dengan Hizbullah melancarkan serangan drone ke target militer Israel di Lebanon selatan serta wilayah utara Israel. Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya menyatakan bahwa Lebanon dan Israel sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata selama tiga pekan setelah pembicaraan di Washington. Namun, di lapangan, ketegangan masih terus meningkat dan memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.