Iran Ungkap Berhasil Dapatkan Dokumen Nuklir Israel, Berisi Setumpuk Berkas Sensitif
Berkas tersebut sangat banyak sehingga pemerintah Iran harus melarang media memberitakan sampai dokumen tersebut tiba di Teheran.
Badan intelijen Iran berhasil mendapatkan setumpuk besar dokumen Israel yang sangat sensitif. Beberapa dokumen tersebut berkaitan dengan rencana dan fasilitas nuklir Israel, seperti dilaporkan media pemerintah Iran pada Sabtu.
Karena dokumen ini dalam jumlah besar, Iran sampai melarang media memberitakan hal ini sampai dokumen tiba di Teheran dengan selamat, seperti diungkapkan sumber yang tak disebutkan namanya kepada Press TV.
"Meskipun operasi untuk memperoleh dokumen tersebut telah dilakukan beberapa waktu lalu, banyaknya materi dan kebutuhan untuk mengangkutnya dengan aman ke Iran mengharuskan penghentian liputan berita untuk memastikan dokumen tersebut mencapai lokasi yang dilindungi," lapor PressTV mengutip sumber tersebut, dikutip dari South China Morning Post, Senin (9/6).
Israel belum menanggapi laporan ini. Laporan ini juga belum jelas apakah terkait dengan peretasan yang dilaporkan di pusat penelitian nuklir Israel tahun lalu, namun baru diungkapkan Teheran pilih sekarang di tengah meningkatnya ketegangan atas program nuklirnya.
Pada 2018, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan agen Israel telah menyita "arsip" besar dokumen Iran yang menunjukkan Teheran telah melakukan lebih banyak pekerjaan nuklir daripada yang diketahui sebelumnya.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam mengebom Iran jika Teheran tidak mencapai kesepakatan dengan Washington mengenai program nuklirnya. Namun pada April, Trump dilaporkan melarang Israel menyerang situs nuklir Iran demi negosiasi kesepakatan dengan Teheran.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei mengatakan pada Rabu, menghentikan pengayaan uranium adalah "100 persen" bertentangan dengan kepentingan negaranya, menolak permintaan utama AS dalam pembicaraan untuk menyelesaikan perselisihan selama puluhan tahun atas ambisi nuklir Teheran.