Gedung Putih Sambut Bebasnya Dua Wartawan Reuters dari Penjara Myanmar
Kedua wartawan Reuters itu kemudian dianugerahi penghargaan Pulitzer Prize pada April lalu, salah satu penghargaan bergengsi di bidang jurnalisme.
Gedung Putih kemarin menyambut baik bebasnya dua wartawan Reuters Wa Lone dan Kyaw Soe Oo yang dipenjara di Myanmar selama lebih dari setahun.
"Mereka dipenjara selama lebih dari 500 hari sejak Desember 2017 karena membuat laporan tentang penindasan terhadap warga Rohingya, Kami senang mereka akan bisa berkumpul lagi dengan keluarga," kata pernyataan Gedung Putih, seperti dilansir laman Reuters, Rabu (8/5).
"Kami berharap jurnalis lain yang masih dipenjara di Birma juga akan dibebaskan."
Jurnalis U Wa Lone, 33 tahun, dan U Kyaw Soe Oo, 29 tahun, ditangkap pada Desember 2017. Mereka dijatuhi vonis hukuman tujuh tahun penjara pada September lalu karena dinyatakan bersalah menerima dokumen dari seorang petugas polisi untuk melengkapi laporan investigasi mereka soal pembantaian 10 warga Rohingya.
Kedua wartawan Reuters itu kemudian dianugerahi penghargaan Pulitzer Prize pada April lalu, salah satu penghargaan bergengsi di bidang jurnalisme.
"Saya sangat bahagia dan senang bisa melihat keluarga dan rekan-rekan saya lagi," kata Wa Lone kepada wartawan kemarin sesaat setelah dia berjalan keluar dari penjara. "Saya tidak sabar melihat ruang kerja saya lagi."
Pemimpin Redaksi Reuters Stephen Adler, dalam pernyataannya memuji kedua wartawannya sebagai 'jurnalis pemberani'.
"Sejak ditangkap 511 hari lalu, mereka menjadi simbol dari pentingnya kebebasan pers di seluruh dunia," kata Adler. "Kami menyambut kedatangan mereka kembali."
Kedua wartawan Reuters itu dibebaskan bersama 6.000 tahanan lain karena mendapat grasi dari presiden.
Baca juga:
Dua Wartawan Reuters yang Ditahan di Myanmar karena Liputan Rohingya Dibebaskan
Uni Eropa Perpanjang Embargo Senjata ke Myanmar
Antusias Anak-anak Rohingya Menuntut Ilmu di Tempat Pengungsian
Polisi Bangladesh Gagalkan Penyelundupan 115 Pengungsi Rohingya ke Malaysia
Jelang Debat Capres, PDIP Banggakan Pembubaran HTI sampai Diplomasi Rohingya
PBB Prihatin Pengungsi Rohingya di Bangladesh Dipindah ke Pulau Terpencil