LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. DUNIA

Bocah 5 tahun tewas ditembak, korban termuda kebijakan Duterte

Rumah Danica May Garcia (5) diberondong peluru oleh kelompok diduga polisi. Danica tertembak di kepala

2016-08-27 10:17:00
Filipina
Advertisement

Perang melawan narkoba ala Presiden Filipina Rodrigo Duterte mulai memakan korban. Danica May Garcia, bocah perempuan berusia 5 tahun, tewas ditembak oleh sekelompok pengendara sepeda motor yang memberondong rumahnya di Kota Dagupan dengan peluru. Washington Post melaporkan, Sabtu (27/8), serangan itu dilakukan empat hari lalu. Danica tewas seketika karena tertembak di bagian kepala.

Saksi mata menyatakan ciri-ciri pelaku penembakan menyerupai pasukan baju preman kepolisian. Para milisi berbaju sipil itu kemungkinan kuat menyasar Maximo Garcia (53), ayah kandung Danica.

Garcia disebut-sebut masuk daftar polisi sebagai warga yang terlibat bisnis narkoba. Sebelum penembakan terjadi, pria pengangguran itu lebih dulu menyerahkan diri ke polisi. Namun nyatanya penembakan masih terjadi tanpa motif yang jelas.

Advertisement

"Hal ini sangat menyakitkan. Untuk apa gadis kecil itu mati," kata Gemma Garcia, ibu dari Danica. "Saya akan merindukan tawanya di rumah ini."

Gemma tidak percaya suaminya terlibat bisnis narkoba. Nama suaminya masuk daftar incaran polisi atas informasi keliru dari tetangga yang menjadi informan. Faktanya Garcia terserang stroke tiga tahun lalu, membuatnya terpaksa pensiun sebagai pengayuh becak.

Hingga berita ini dilansir, pemerintah Filipina terus menggalakkan pembunuhan massal tanpa pengadilan terhadap pengedar maupun pecandu narkoba. Sejak Duterte menjabat tiga bulan terakhir, lebih dari 1.900 orang tewas ditembak begitu saja di jalanan.

Advertisement

Penembakan pecandu narkoba di Filipina (c) AFP PHOTO/getty images



Polisi mengklaim "hanya" menembak mati 700-an orang, sisanya tidak diketahui ulah kelompok mana. Karena takut menjadi korban penembakan misterius, 700 ribu pecandu narkoba dan pengedar kelas teri menyerahkan diri ke polisi.

Awalnya kebijakan sapu bersih narkoba ini mendapat dukungan mayoritas rakyat Filipina. Belakangan, setelah angka kematian terus meningkat serta banyak kasus menuai kejanggalan, beberapa pihak mulai berani mengkritik Duterte.

Pegiat HAM, gereja Katolik, serta keluarga korban penembakan menuntut pemerintah Filipina bertanggung jawab atas pembunuhan massal dalam rangka perang melawan narkoba ini.

Baca juga:
Kepala Polisi Filipina ajak pecandu ikut menghabisi pengedar narkoba
Presiden Duterte berkunjung ke Indonesia awal September 2016
Perang narkoba ala Filipina menewaskan 1.800 orang
Tidak terima dikritik, Duterte ancam tarik diri dari PBB
5 Kegilaan Duterte perangi narkoba, penjahat & pejabat serahkan diri
Usai habisi bandar narkoba, Duterte incar pengemplang pajak Filipina
50 Pejabat Filipina diduga terlibat narkoba menyerahkan diri

(mdk/ard)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.