Balas Serangan, Pakistan Hujani Pangkalan Militer India dengan Rudal
Pakistan membalas serangan India dengan Operasi Bunyan Ul Marsoos, menargetkan pangkalan udara, fasilitas penyimpanan rudal, dan markas militer di India.
Pada Sabtu, 10 Mei 2025, ketegangan antara India dan Pakistan meningkat drastis setelah Pakistan melancarkan Operasi Bunyan Ul Marsoos sebagai serangan balasan terhadap India. Operasi ini menargetkan beberapa lokasi strategis di India, termasuk fasilitas penyimpanan rudal, pangkalan udara, dan markas militer. Serangan ini merupakan eskalasi signifikan dalam konflik kedua negara yang bersenjata nuklir, dipicu oleh serangan teroris di Pahalgam, Kashmir pada 22 April 2025 yang menewaskan 26 warga sipil, dan serangan balasan India, Operasi Sindoor, pada 7 Mei 2025.
Nama operasi, Bunyan Ul Marsoos, diambil dari ayat Al-Quran yang berarti 'tembok timah yang kokoh' atau 'struktur yang kokoh', melambangkan kekuatan militer Pakistan. Serangan tersebut dilaporkan menargetkan gudang rudal BrahMos di Beas, Punjab, dan lokasi penyimpanan rudal lainnya. Pangkalan udara Pathankot dan Udhampur juga menjadi sasaran, dengan laporan kerusakan pada landasan pacu dan infrastruktur. Beberapa markas brigade militer dan fasilitas logistik juga diduga menjadi target serangan.
India melaporkan kerusakan terbatas dan mengklaim telah mencegat sebagian besar rudal. Namun, berbagai sumber melaporkan ledakan di beberapa lokasi, termasuk Amritsar, Punjab. Jumlah korban jiwa masih simpang siur dan belum diverifikasi secara independen. Peristiwa ini menandai eskalasi paling serius antara India dan Pakistan sejak konflik Kargil 1999, menimbulkan kekhawatiran akan potensi penggunaan senjata nuklir. Meskipun ada laporan gencatan senjata yang dimediasi AS, situasi tetap tegang.
Sasaran Operasi Bunyan Ul Marsoos
Operasi Bunyan Ul Marsoos dilaporkan menargetkan 26 lokasi di India utara. Sasaran utama meliputi pangkalan udara militer, seperti Pathankot di Punjab, bandara Srinagar, dan pangkalan udara Udhampur di Kashmir yang dikuasai India. Fasilitas penyimpanan rudal BrahMos juga menjadi target utama serangan balasan ini. "Kami mengambil langkah khusus agar tidak mengenai warga sipil. Target kami adalah fasilitas militer yang digunakan untuk menyerang Pakistan," tegas Menteri Perencanaan Pakistan, Ahsan Iqbal.
Laporan menyebutkan kerusakan signifikan atau bahkan penghancuran fasilitas penyimpanan rudal BrahMos di Beas, Punjab. Namun, India membantah klaim tersebut dan menyatakan telah berhasil mencegat sebagian besar rudal yang diluncurkan Pakistan. Kolonel Sofiya Qureshi dalam konferensi pers resmi menyebut serangan Pakistan sebagai tindakan keji dan pengecut, tetapi mengakui adanya kerusakan di empat pangkalan militer.
Serangan tersebut terjadi sekitar pukul 02.00 waktu setempat. Di Nur Khan, Rawalpindi, dekat Islamabad, ledakan besar memicu kepanikan warga sipil. Beberapa jam kemudian, Pakistan mengumumkan Operasi Bunyan Ul Marsoos sebagai respons atas serangan India.
Kronologi Kejadian dan Reaksi Internasional
Konflik ini bermula dari serangan teroris di Pahalgam, Kashmir, pada 22 April 2025, yang menewaskan 26 warga sipil. India menuduh Pakistan berada di balik serangan tersebut. Pada 7 Mei 2025, India melancarkan Operasi Sindoor, menyerang beberapa lokasi di Pakistan yang diduga sebagai basis teroris. Operasi Bunyan Ul Marsoos merupakan respons langsung terhadap Operasi Sindoor.
Video yang beredar di media sosial, seperti unggahan di Instagram @trtworld, memperlihatkan peluncuran rudal-rudal Pakistan. Dalam video tersebut, terlihat rudal-rudal diluncurkan dan pasukan Pakistan bersorak. "Pakistan telah melancarkan aksi militer balasan. Operasi Bunyan-un-Marsoos—terhadap India di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua rival bersenjata nuklir tersebut," tulis keterangan unggahan tersebut. Seorang perekam video terdengar mengucap syukur atas serangan balasan ini.
Informasi mengenai jumlah korban jiwa dan kerusakan yang tepat masih belum pasti dan memerlukan verifikasi lebih lanjut dari sumber-sumber independen. Situasi tetap tegang, dan perkembangan selanjutnya perlu dipantau secara ketat. Peran AS dalam memediasi gencatan senjata juga menjadi fokus perhatian internasional.
Meskipun terdapat laporan mengenai kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh AS, situasi tetap tegang dan perkembangan selanjutnya perlu dipantau. Informasi mengenai jumlah korban jiwa dan kerusakan yang tepat masih belum pasti dan memerlukan verifikasi lebih lanjut dari sumber-sumber independen.