Asap Hitam Mengepul di Udara, Tanda Belum Ada Paus Baru yang Terpilih di Hari Pertama Konklaf
Tidak seorang pun benar-benar tahu siapa yang akan menjadi paus berikutnya.
Asap hitam mengepul dari cerobong asap Kapel Sistina, Vatikan kemarin malam pada hari pertama konklaf. Hal tersebut merupakan tanda bahwa pada pemungutan suara pertama, belum ada paus terpilih sebagai pengganti Paus Fransiskus yang wafat bulan lalu.
Pemungutan suara berikutnya ditunda hingga hari ini setelah seharian penuh nyanyian Latin bergema di aula marmer suci dan prosesi kardinal yang megah.
Setelah seorang uskup agung berteriak “Extra omnes,” yang memiliki arti “semua orang keluar,” pintu kapel Sistina ditutup sekitar pukul 5.44 sore waktu setempat saat konklaf dimulai di tengah kerahasiaan yang ketat.
Konklaf terbesar dalam sejarah
Lebih dari tiga jam setelah konklaf dimulai, asap muncul. Kerumunan yang berkumpul di luar kapel bersorak, lalu mulai bubar ketika asap yang keluar berwarna hitam.
Ismael Rivera, seorang insinyur komputer dari Peru yang berusia 43 tahun tengah mengunjungi keluarganya di Vatikan, ia berkata bahwa sudah menebak bahwa pemilihan paus tidak mungkin terjawab saat pemungutan suara pertama, ia berkata “tetapi saya ingin menjadi bagian dari itu dengan cara apa pun,” katanya seperti dilansir dari The Washington Post, Kamis (8/5).
Sejak kematian Paus Fransiskus, para kardinal telah mengemukakan visi yang saling bertentangan untuk masa di depan gereja. Dalam konklaf terbesar dalam sejarah, terdapat 133 anggota pemilih di Kota Vatikan, didominasi oleh kardinal baru yang tidak begitu dikenal.
Para kardinal di bawah usia 80 tahun itu akan dikarantina untuk memberikan suara. Mereka hanya diperbolehkan keluar untuk kembali ke penginapan mereka untuk makan dan beristirahat. Hal tersebut akan terus berlangsung hingga seorang paus baru terpilih.
Untuk menjaga diri mereka dari pengaruh duniawi, para uskup agung akan diminta untuk tidak membawa ponsel mereka. Namun, jika ada salah satu kardinal yang sakit, ia akan mendapat hak untuk memberikan suara dari kamarnya.
Terdapat spekulasi yang beredar bahwa takhta Santo Petrus dapat diberikan kepada paus pertama dari Amerika Serikat. Sama seperti banyak suara yang menggembar-gemborkan peluang ketiga orang Italia dan seorang Spanyol yang datang dari latar belakang bertugas di Maroko. Kardinal dari Filipina, Prancis, Kongo, dan Swedia juga menjadi bahan pembicaraan di kota itu.
Namun, saat semua mata menanti asap putih yang menandakan Habemus Papam — “Kita punya seorang paus” — para pengamat yang paling bijak pun mendapat peringatan. Tidak seorang pun benar-benar tahu siapa yang akan menjadi paus berikutnya, di masa ketika pandangan gereja kian terpecah.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey