AS Diam-Diam Lobi Inggris dan Prancis Agar Tidak Akui Eksistensi Negara Palestina
Dua negara tersebut dilaporkan akan mengakui Palestina pada konferensi PBB dalam waktu dekat.
Amerika Serikat (AS) memperingatkan Inggris dan Prancis agar tidak mengakui negara Palestina pada konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akhir bulan ini. Prancis dan Arab Saudi akan menjadi tuan rumah bersama konferensi besar PBB tentang solusi dua negara yang akan dimulai pada 17 Juni di New York.
Prancis dilaporkan tengah bersiap untuk mengakui negara Palestina pada konferensi tersebut dan telah melobi Inggris untuk melakukannya juga. Menurut media setempat, pejabat Prancis yakin pemerintahan Inggris akan mendukung rencana tersebut.
Dilansir Middle East Eye, Selasa (3/6), sumber dari Kementerian Luar Negeri Inggris menyebutkan pemerintah AS diam-diam telah mulai memperingatkan Inggris dan Prancis agar tidak mengakui Palestina. Sebaliknya, negara-negara Arab mendesak untuk melanjutkan langkah tersebut.
Pada akhir Mei, negara-negara anggota PBB mengadakan konsultasi sebagai persiapan untuk konferensi di mana Kelompok Arab mendesak negara-negara untuk mengakui negara Palestina. Kelompok Arab tersebut akan mengukur keberhasilan berdasarkan seberapa banyak negara yang mengakuinya.
Menteri Luar Negeri Inggris, David Lammy, pada 20 Mei lalu menegaskan bahwa negaranya mendukung solusi dua negara Palestina-Israel. Ia secara terbuka menentang pengakuan sepihak dan sebelumnya menyatakan bahwa Inggris hanya akan mengakui negara Palestina “saat waktunya tepat dan hal itu berada dalam jangkauan.”
Namun pada akhir April, Lammy mengakui untuk pertama kalinya Inggris sedang berdiskusi dengan Prancis dan Arab Saudi mengenai topik tersebut.
“Tidak ada alasan yang sah bagi AS untuk ikut campur dalam keputusan kedaulatan Inggris dan Prancis untuk mengakui negara lain,” kata Chris Doyle, direktur Council for Arab-British Understanding.
“Pengakuan Prancis-Inggris berarti mengakui hak Palestina untuk memiliki negara dan menjadi mitra yang setara dalam negosiasi apa pun dengan Israel di masa mendatang,” lanjutnya.
“Berdasarkan preseden dan pemerintah Inggris ini, penolakan AS terhadap pengakuan akan lebih mungkin berdampak pada Inggris daripada Prancis.”
Namun, Presiden AS Donald Trump tidak dapat diprediksi.
“Yang benar-benar penting adalah apa yang dipikirkan Presiden Trump sendiri,” imbuh Doyle, seraya menambahkan, “penolakan terhadap pengakuan sepihak memang merupakan posisi kebijakan AS yang ada saat ini. Namun, jika saya berada di Downing Street (kantor Perdana Menteri Inggris), saya akan bertanya apa yang diyakini presiden sendiri dan bagaimana dia akan bereaksi?”
Prancis dan Inggris akan menjadi negara G7 pertama yang mengakui negara Palestina kika mereka melanjutkan langkah tersebut.
Alon Pinkas, penasihat empat menteri luar negeri Israel, mengatakan kepada MEE pada Senin (2/6) bahwa dorongan Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk mengakui negara Palestina “serius dan mendapat dukungan dari sebagian besar Uni Eropa dan Arab Saudi.”
Karena Prancis dan Inggris merupakan sekutu terpenting Israel dalam sejarah, maka langkah ini akan menyebabkan gempa politik. Israel memberi isyarat bahwa mereka tidak akan menerima begitu saja langkah tersebut.
Pekan lalu Ron Dermer, menteri urusan strategis Israel, mengancam Inggris dan Prancis bahwa Israel dapat mencaplok sebagian wilayah Tepi Barat jika mereka mengakui negara Palestina. Israel hingga saat ini siap melanjutkan rencana permukiman yang secara efektif akan membagi dua wilayah Tepi Barat yang diduduki.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey