Apa respons warga Eropa atas perintah Trump larang Muslim masuk AS?
Apa respons warga Eropa atas perintah Trump larang Muslim masuk AS? Sebuah jajak pendapat dari lembaga survei Chatham House menunjukkan lima puluh persen warga Eropa setuju dengan kebijakan baru Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang melarang warga dari tujuh negara mayoritas muslim masuk ke AS.
Sebuah jajak pendapat dari lembaga survei Chatham House menunjukkan lima puluh persen warga Eropa setuju dengan kebijakan baru Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang melarang warga dari tujuh negara mayoritas muslim masuk ke AS.
Hal itu bertentangan dengan pendapat sebagian besar politisi Eropa yang mengkritik tajam perintah eksekutif tersebut.
Survei tersebut dilakukan kepada 10.000 responden dari 10 negara bagian Eropa. Separuh dari mereka menyebut para pengungsi muslim itu harus menjauh dari AS.
"Survei ini menunjukkan hasil yang mencolok. Setengah warga Eropa menunjukkan pendapat bertolak belakang soal larangan terhadap muslim tersebut," ujar salah seorang pengamat lembaga survei, seperti dilansir dari laman USA Today, Kamis (9/2).
Dalam survei tersebut tercatat 71 persen warga Polandia, 41 persen warga Spanyol, 65 persen warga Austria, 64 persen warga Hungaria, 61 persen warga Prancis dan 64 persen warga Belgia setuju dengan larangan tersebut.
Bukan hanya warga Eropa saja, 55 persen warga AS yang terdaftar dalam Survei Politik menyatakan setuju dengan perintah eksekutif tersebut.
Sementara itu, sepanjang tahun 2016, Jerman telah menerima hampir satu juta pencari suaka yang mayoritas berasal dari negara-negara muslim. Hal tersebut disebabkan oleh kuatnya pengaruh Kanselir Jerman Angela Merkel yang memberi kesempatan kepada pengungsi sekalipun oposisi menentang keras.
Baca juga:
Ini pandangan Donald Trump dan anak buahnya soal Islam
Kebijakan pemerintah AS soal imigrasi tidak berhubungan dengan Islam
Wajah bahagia imigran muslim kembali diizinkan masuk AS
Perintah eksekutif Trump ditolak, umat muslim bisa bernapas lega
Jalan panjang aturan imigrasi anti-Muslim hingga dibatalkan