LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. DUNIA

Siap angkat senjata demi berperang dengan Rusia

"Saya merasa hari ini adalah hari tenang terakhir," kata Lubna Petrova, seorang nenek asal Ukraina.

2014-03-18 07:03:00
Demo Ukraina
Advertisement

Warga Ukraina di Ibu Kota Kiev telah mempersiapkan diri untuk berperang, setelah hasil referendum terkait krisis Krimea menunjukkan mayoritas suara luar biasa dalam mendukung penggabungan dengan Federasi Rusia.

Komite pemilihan umum Krimea menyatakan sekitar 97 persen pemilih mendukung penyatuan antara wilayah mayoritas beretnis Rusia itu dengan negara tetangga yang besar, seperti dilansir surat kabar USA Today, Senin (17/3).

"Saya merasa hari ini adalah hari tenang terakhir," kata Lubna Petrova, seorang nenek yang sedang menonton televisi menayangkan liputan di Krimea. "Besok Putin akan memulai perang melawan bangsa Ukraina, dan dia tidak akan berhenti sampai dia mengambil alih seluruh negara."

Di pusat administrasi Krimea, Simferopol, suasana di antara para warga Rusia langsung meriah setelah tempat pemungutan suara ditutup pada pukul 20.00 waktu setempat, di mana sebuah konser digelar di alun-alun pusat kota. Ribuan orang berkumpul sambil melambai-lambaikan bendera dan menari diiringi lantunan musik pop.

Penduduk Krimea, di mana lebih dari 60 persen di antaranya berentnis Rusia, diberi pilihan untuk bergabung dengan Rusia atau memilih otonomi lebih besar dari Ukraina di bawah Konstitusi 1992. Status quo, di mana Krimea merupakan sebuah wilayah semi-otonomi di Ukraina, bukanlah sebuah pilihan.

Perdana Menteri Krimea Sergey Aksyonov, yang diangkat selama masa pendudukan pasukan bersenjata pro-Rusia di wilayah semenanjung Laut Hitam itu, mengumumkan melalui Twitter dia berencana membuat permintaan secara formal untuk bergabung dengan Federasi Rusia kemarin.

Parlemen Rusia pro-Kremlin menyambut baik hasil referendum itu dan berjanji untuk memfasilitasi Krimea agar bergabung dengan Rusia. Presiden Rusia Vladimir Putin, yang berwenang mengirim tentara Rusia ke Ukraina pada 1 Maret lalu, telah menegaskan Negeri Beruang Merah itu hanya melindungi warga Rusia di Ukraina dan akan menyebarkan pasukan bersenjata hanya jika diperlukan.

Sementara itu, ketegangan terus memuncak di selatan dan timur Ukraina sebagaimana demonstrasi besar-besaran dari warga pro-Rusia memenuhi jalan-jalan di Donetsk di wilayah industri Donbass, sebelum menyerbu kantor jaksa penuntut, seperti video ditayangkan pegiat pro-Rusia. Beberapa orang tewas di Donetsk dan Kharkiv, sebuah kota besar di timur Ukraina, di mana para pendukung pro-Ukraina dan pro-Rusia bentrok dalam beberapa hari terakhir.

Putin telah menyatakan keprihatinannya tentang kekerasan di wilayah selatan dan timur Ukraina, meskipun Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyebut hal ini sebagai campur tangan Rusia. Banyak pihak takut Moskow bisa merancang kekerasan sebagai alasan untuk menyerang wilayah Ukraina.

"Ini adalah dua negara yang sejarahnya terjalin sepanjang sejarah," kata Keir Giles, dari Program Keamanan Internasional dan Rusia dan Eurasia di Chatham House, sebuah lembaga kebijakan independen. "Ketidakstabilan di Ukraina setelah pelengseran Presiden Victor Yanukovych memberikan Presiden Putin kesempatan ideal untuk bergerak cepat dan efisien untuk mengambil kendali daerah kunci, sementara pemerintahan sementara Ukraina hancur lebur.

Di Alun-Alun Kemerdekaan di Kiev, yang menjadi tempat konsentrasi protes selama beberapa bulan untuk menggulingkan Presiden Viktor Yanukovych, persiapan militer untuk berperang dengan Rusia berada dalam ayunan penuh bahkan sebelum hasil referendum dikeluarkan.

Banyak pria dan anak laki-laki di alun-alun berpakaian seragam tempur memperlihatkan lencana militer. Sejumlah toko di sekitar alun-alun juga menyediakan unit paramiliter atau garda nasional baru pemerintah Ukraina. Semuanya mendaftar sebagai sukarelawan untuk menjadi gugus depan dalam serangan Rusia.

"Kita harus siap dalam kasus bahwa sesuatu akan terjadi," ujar Stanislav Stoqnov, yang turut mengantri untuk bergabung dengan pasukan pemerintah. "Saya ingin melayani di Kiev."

Seorang komandan paramiliter mengatakan kepada USA Today dia mempersiapkan diri untuk kemungkinan serangan Rusia di timur Ukraina, setelah referendum pada Ahad malam.

"Orang-orang menunjukkan kemauan untuk melawan. Tetapi pemerintah tampaknya tidak melakukan apa yang seharusnya," ucap komandan brigade paramiliter nasionalis Ukraina dari Sektor Pravy, Rodak Sashawitzer, di luar sebuah toko di mana unitnya bermarkas. "Kita harus mempersiapkan warga sipil dengan situasi kekacauan yang akan diikuti dengan pecahnya perang."

Televisi pemerintah Rusia telah memperingatkan pasukan pertahanan pro-Rusia, yang telah berada di Semenanjung Krimea sejak awal bulan ini, telah dalam siaga tinggi untuk mencegah 'provokasi' dari pasukan pro-Ukraina selama pemungutan suara. Namun, tidak satu penjaga bersenjata terlihat di sekitar tempat pemungutan suara No. 08086, di sebuah sarana olahraga Krimea di Simferopol.

Baca juga:
Referendum berujung sanksi
Obama umumkan sanksi atas tujuh pejabat Rusia
21 Pejabat terkait krisis Krimea kena sanksi Uni Eropa
Murka, hacker Ukraina hancurkan situs NATO
Parlemen Krimea resmi merdeka dan ingin bergabung dengan Rusia

(mdk/fas)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.