25 Orang Meninggal Akibat Panas Ekstrem di Amerika Serikat
Cuaca ekstrem menyebabkan pemadaman listrik, pembatalan acara perayaan Hari Kemerdekaan, dan bahkan melelehnya aspal di beberapa daerah.
Gelombang panas ekstrem di Amerika Serikat (AS) menyebabkan 25 orang meninggal. Cuaca yang tidak biasa ini juga menyebabkan pemadaman listrik, pembatalan perayaan Hari Kemerdekaan, dan bahkan melelehnya aspal di beberapa daerah.
Menurut laporan dari NBC, dari total korban yang tercatat, 22 orang meninggal dunia di Negara Bagian New Jersey. Pejabat kesehatan setempat, Dalya Eweis mengungkapkan, jumlah kematian akibat cuaca panas di wilayah tersebut meningkat dari 19 menjadi 22 orang pada hari Sabtu, 4 Juli 2026. Selain itu, satu kematian terkait gelombang panas dilaporkan di Illinois dan dua lainnya di Mississippi.
Cuaca panas mencatatkan rekor suhu yang sangat tinggi di sejumlah lokasi. ABC melaporkan, suhu udara di Washington, DC, mencapai 38,8 derajat Celsius saat perayaan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat pada 4 Juli. Suhu ini melampaui rekor yang telah ada selama lebih dari satu abad. Di New York, suhu juga mencapai sekitar 38 derajat Celsius pada hari Kamis, 2 Juli 2026.
Kondisi panas yang ekstrem ini bahkan menyebabkan aspal di beberapa jalan meleleh. Gelombang panas yang disertai badai petir musim panas juga mengganggu pasokan listrik di berbagai negara bagian, dengan sedikitnya 840.000 rumah tangga mengalami pemadaman listrik hingga hari Sabtu.
Dampak dari cuaca ekstrem ini sangat terasa, terutama pada rangkaian perayaan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat, di mana beberapa kota di kawasan Pesisir Timur terpaksa membatalkan atau menjadwal ulang acara untuk menjaga keselamatan masyarakat.
1.300 Orang Meninggal di Eropa
Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa sejak pertengahan Juni 2026 telah menyebabkan lebih dari 1.300 kasus kematian. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi fenomena ini sebagai salah satu dampak paling mematikan dari cuaca panas yang mencapai rekor tertinggi di berbagai negara Eropa.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa suhu yang sangat tinggi telah menyebabkan lonjakan kematian di banyak wilayah. Dia menggambarkan stres panas sebagai "pembunuh senyap" yang sering kali tidak disadari oleh masyarakat.
"Rumah, tempat kerja, dan sekolah di Eropa tidak dibangun untuk menghadapi suhu seperti ini," kata Tedros.
Di Prancis, pihak berwenang kesehatan melaporkan sekitar 1.000 kematian lebih banyak dari yang diperkirakan sejak Rabu akibat dampak cuaca panas, seperti yang dilaporkan oleh France24 pada Minggu (28/6/2026). Secara keseluruhan, WHO mencatat lebih dari 1.300 kematian berlebih sejak 21 Juni 2026. Selain itu, gelombang panas ini juga berdampak luas pada aktivitas masyarakat, mulai dari penutupan sekolah hingga tekanan pada jaringan listrik.
Diperkirakan, sedikitnya 191 juta orang di Eropa terpengaruh oleh suhu ekstrem ini, dengan beberapa negara seperti Jerman, Republik Ceko, Hungaria, dan Polandia mengalami kondisi yang paling parah.
Bahkan, Republik Ceko mencatat rekor baru ketika suhu mencapai 41,1 derajat Celsius di Doksany, utara Praha. Menurut Institut Meteorologi Ceko (CHMI), ini adalah pertama kalinya suhu di atas 41 derajat Celsius tercatat dalam sistem pengamatan resmi negara tersebut.