19 Serangan Bom dan Penembakan Guncang Kolombia, Targetkan Pos Polisi dan Kantor Pemerintah
Serangkaian serangan bom dan penembakan terjadi di Kolombia, hanya tiga hari setelah penembakan calon presiden Miguel Uribe.
Kolombia mengalami serangkaian serangan bom dan serangan bersenjata terencana pada Selasa (10/6) yang mengakibatkan kematian sedikitnya tujuh orang dan melukai sekitar 50 orang di berbagai daerah di barat daya negara tersebut. Insiden ini semakin memperburuk krisis keamanan yang tengah melanda negara Andes tersebut.
Menurut laporan The Guardian, dikutip pada Rabu (11/6), pihak kepolisian menyatakan penyerang melancarkan 19 serangan di Cali, kota terbesar ketiga di Kolombia, serta beberapa kota sekitarnya, dengan menargetkan pos polisi, gedung pemerintahan, dan sasaran sipil lainnya.
Kepala kepolisian nasional, Carlos Fernando Triana, mengungkapkan penyerang menggunakan bom mobil, bom sepeda motor, tembakan senapan, serta kemungkinan menggunakan drone atau pesawat tanpa awak.
"Ada dua polisi tewas, dan sejumlah warga juga tewas," ujar Carlos.
Di Cali serta kota-kota seperti Villa Rica, Guachinte, dan Corinto, wartawan dari AFP melaporkan adanya reruntuhan kendaraan yang dikelilingi oleh puing-puing yang hangus. Serangan ini terjadi beberapa hari setelah percobaan pembunuhan terhadap seorang calon presiden di Bogota, yang membuat masyarakat setempat merasa cemas.
Banyak warga Kolombia khawatir akan terulangnya kekerasan yang terjadi pada tahun 1980-an dan 1990-an, ketika serangan kartel, kekerasan gerilya, dan pembunuhan politik menjadi hal yang sangat umum. Di Corinto, penduduk bernama Luz Amparo sedang berada di rumah ketika ledakan menghancurkan toko rotinya.
"Kami pikir itu gempa bumi," katanya kepada AFP.
"Suami saya berkata: 'Tidak, mereka menembak'."
Teleponnya terus berdering, dan ia pergi untuk memeriksa tokonya. Saat berbelok di tikungan, para tetangga mulai melihat ke arahnya.
"Semuanya hancur," ujarnya.
Pihak kepolisian dan para ahli menyatakan bahwa serangan bom dan penembakan yang terjadi pada hari Selasa (10/6) tersebut diduga dilakukan oleh faksi pembangkang dari kelompok gerilya FARC yang dulunya berkuasa.
Ingin Hentikan Operasi Militer
Pakar keamanan dari International Crisis Group, Elizabeth Dickenson, menyatakan serangan tersebut kemungkinan dilakukan kelompok yang dikenal dengan nama Central General Staff (EMC).
"Ini adalah serangan yang terkoordinasi dengan sangat baik. Ini benar-benar menunjukkan kapasitas yang telah dibangun kelompok itu," ungkap Elizabeth Dickenson kepada AFP.
"Dan saya pikir ini sangat mengkhawatirkan dan menunjukkan kemampuan mereka untuk melakukan operasi di wilayah metropolitan Cali."
Menurut Dickenson, kelompok tersebut mungkin berusaha untuk menghentikan operasi militer yang sedang berlangsung, yang dilaporkan telah mengakibatkan cedera atau kematian pada pemimpin veteran mereka yang dikenal sebagai "Ivn Mordisco".
"Mereka mencoba menaikkan biaya inisiatif militer itu untuk pemerintah," jelas Dickenson.
Pada Selasa (10/6), EMC mengeluarkan pernyataan yang memperingatkan masyarakat agar menjauhi instalasi militer dan polisi, meskipun mereka tidak mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Penembakan Capres
Serangan tersebut berlangsung tiga hari setelah senator konservatif Miguel Uribe (39) ditembak dua kali di kepala oleh seorang pembunuh bayaran dari jarak dekat saat ia sedang berkampanye di Bogota. Pada Selasa (10/6), seorang remaja berusia 15 tahun mengaku tidak bersalah atas tuduhan percobaan pembunuhan tersebut, dan pemerintah meyakini ia merupakan seorang pembunuh bayaran.
Saat ini, Uribe masih berada dalam kondisi kritis, menurut pernyataan rumah sakit yang merawatnya pada hari Selasa (10/6).
"Tidak ada keluarga di Kolombia yang seharusnya mengalami hal ini," kata istri Uribe, Maria Claudia Tarazona, kepada wartawan di luar rumah sakit.
"Tidak ada nama untuk ini - ini bukan rasa sakit, ini bukan kengerian, ini bukan kesedihan."
Pernyataan tersebut mencerminkan betapa dalamnya dampak dari kekerasan yang terjadi, dan bagaimana hal ini mempengaruhi kehidupan orang-orang terdekat korban. Keluarga dan masyarakat berharap agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.