Proses Naturalisasi Jairo Riedewald untuk Timnas Indonesia Ditunda, Ternyata ini Penyebabnya
Proses naturalisasi Jairo Riedewald, gelandang Royal Antwerp di Liga Belgia, mengalami penundaan karena status hukumnya di FIFA masih belum jelas.
Proses naturalisasi gelandang Royal Antwerp yang bermain di Liga Belgia, Jairo Riedewald, mengalami penundaan. Pemain berusia 28 tahun tersebut masih menghadapi masalah hukum terkait FIFA yang belum terselesaikan.
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Dito Ariotedjo, menyampaikan informasi dari Ketua PSSI, Erick Thohir, yang menyatakan bahwa naturalisasi Riedewald belum dapat dilanjutkan. Saat ini, PSSI memutuskan untuk fokus menaturalisasi tiga pemain keturunan terlebih dahulu, yaitu Emil Audero, Dean James, dan Joey Pelupessy.
“Untuk Jairo Riedewald, Pak Erick Thohir menyampaikan bahwa paperwork ada yang belum bisa,” ungkap Dito.
“Daripada bisa bermasalah di kemudian hari, jadi memang diputuskan untuk tidak diproses dulu,” lanjutnya, menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut.
Tiga Kali Bertanding untuk Belanda
Ketika ditanyakan mengenai kemungkinan Jairo Riedewald untuk bergabung dengan Timnas Indonesia pada FIFA Matchday yang dijadwalkan pada Maret atau Juni 2025, Dito memberikan tanggapan. "Belum," jawabnya secara singkat. Pada tahun 2015, di usia 19 dan 20 tahun, Jairo Riedewald telah tampil tiga kali membela Timnas Belanda dalam fase penyisihan grup Euro 2016. Hal ini menunjukkan bahwa dia memiliki pengalaman internasional yang cukup, meskipun saat ini statusnya dengan Timnas Indonesia masih belum pasti.
Menurut Statuta FIFA 2024 mengenai Kelayakan Pemain untuk Tim Perwakilan, Jairo Riedewald diharuskan memenuhi sejumlah persyaratan untuk dapat memperkuat Timnas Indonesia. Kelayakan ini mencakup berbagai aspek yang harus dipenuhi oleh pemain yang ingin berpindah atau bergabung dengan tim nasional yang berbeda. Oleh karena itu, proses ini tidak hanya bergantung pada keinginan pemain, tetapi juga pada regulasi yang berlaku di FIFA.
Isi Statuta FIFA
Dalam konteks regulasi yang ditetapkan oleh FIFA, terdapat beberapa ketentuan penting terkait partisipasi pemain muda dalam kompetisi sepak bola. "Pada saat diturunkan untuk pertandingan terakhir mereka dalam kompetisi resmi dalam jenis sepak bola apa pun untuk asosiasi mereka saat ini, mereka belum berusia 21 tahun," tulis Statuta FIFA.
Selain itu, FIFA juga mengatur mengenai jumlah pertandingan yang boleh diikuti oleh pemain. "Bermain tidak lebih dari tiga pertandingan di tingkat internasional A dalam jenis sepak bola apa pun untuk asosiasi mereka saat ini, baik secara resmi kompetisi atau kompetisi non resmi." Ini menandakan bahwa ada pembatasan dalam jumlah pengalaman internasional yang dapat dimiliki oleh pemain sebelum mencapai usia tertentu.
Lebih lanjut, regulasi ini mengharuskan adanya jeda waktu tertentu sebelum pemain dapat kembali berpartisipasi di tingkat internasional. "Setidaknya tiga tahun telah berlalu sejak diturunkan untuk pertandingan terakhir mereka di tingkat internasional A dalam jenis sepak bola apa pun untuk asosiasi mereka saat ini, baik dalam kompetisi resmi atau kompetisi non-resmi." Dengan demikian, FIFA berusaha untuk menjaga integritas kompetisi dengan memastikan pemain memiliki pengalaman yang cukup sebelum berkompetisi di level yang lebih tinggi.
Akhirnya, FIFA juga menegaskan bahwa ada batasan yang lebih ketat terkait dengan partisipasi di turnamen besar. "Tidak pernah berpartisipasi dalam jenis sepak bola apa pun di tingkat internasional A di turnamen final Piala Dunia FIFA atau turnamen final kompetisi federasi," imbuh Statuta FIFA.