MU Kalah di Final Liga Europa, Legenda Akui Kualitas Setan Merah saat Ini Jelek
Legenda Manchester United, Roy Keane, mengkritik performa para pemain setelah timnya mengalami kekalahan di final Liga Europa melawan Tottenham Hotspur.
Legenda Manchester United, Roy Keane, mengkritik para pemain setelah tim Setan Merah mengalami kekalahan di final Liga Europa melawan Tottenham Hotspur. Spurs berhasil meraih kemenangan dengan skor 1-0 berkat gol yang dicetak oleh Brennan Johnson secara tidak sengaja.
"Tepat ketika Anda berpikir keadaan tidak akan bisa lebih buruk lagi bagi Man United. Itulah ceritanya sepanjang tahun," ungkap Keane. Dia menambahkan, "Mereka telah keluar dari penjara dengan sepak bola Eropa dan telah menutupi keretakan besar di Man United. Sepanjang musim, mereka begitu mudah dikalahkan."
Keane juga menekankan bahwa tim tersebut beruntung dalam beberapa pertandingan di Eropa, namun pada malam itu, performa mereka tidak memadai. "Mereka tidak menunjukkan cukup kualitas. Tidak cukup pilihan di bangku cadangan," lanjutnya.
Menurut Keane, "Jika Anda bergantung pada Harry Maguire untuk mengeluarkan Anda dari penjara, Anda dalam masalah." Pernyataan ini menunjukkan betapa kritisnya situasi yang dihadapi oleh Manchester United saat ini. Keane jelas merasa bahwa tim harus segera melakukan perbaikan agar tidak terpuruk lebih dalam.
Manchester United
Manchester United (MU) berhasil meraih kemenangan dalam empat final kompetisi Eropa pertama mereka antara tahun 1968 hingga 2008. Namun, setelah periode tersebut, mereka mengalami kesulitan dan hanya berhasil menjadi runner-up dalam empat dari lima final terakhir yang mereka ikuti, termasuk final Liga Champions pada tahun 2009 dan 2011, serta final Liga Europa pada tahun 2021 dan 2025.
Di musim 2024/2025, Tottenham Hotspur telah mengalahkan MU sebanyak empat kali, yang terdiri dari dua pertandingan di Premier League, satu di League Cup, dan satu di Liga Europa. Dengan prestasi ini, Spurs menjadi tim kedua dalam sejarah yang berhasil mengalahkan klub yang sama sebanyak empat kali dalam satu musim, mengikuti jejak Everton yang melakukannya pada musim 1985/1986.
Musim ini, MU mengalami kekalahan yang ke-20 di semua kompetisi, yang menjadi jumlah kekalahan terbanyak mereka dalam satu musim sejak mereka mengalami 22 kekalahan pada musim 1973-74, di mana mereka terdegradasi dari liga utama. Kekalahan yang banyak ini menunjukkan betapa sulitnya performa mereka di lapangan.
Menurut data dari Opta, MU melepaskan 16 tendangan dalam pertandingan ini, tetapi hanya menghasilkan xG (expected goals) sebesar 0,85. Sementara itu, Tottenham hanya melakukan tiga tendangan, namun memiliki xG yang lebih tinggi, yaitu 1,01, menunjukkan efisiensi serangan mereka yang lebih baik dalam pertandingan tersebut.
Sebelum mengalami kekalahan dari Spurs di final Liga Europa, MU sebenarnya tidak pernah merasakan kekalahan sepanjang kompetisi Liga Europa musim 2024/2025. Hal ini menunjukkan bahwa mereka memiliki performa yang cukup baik sebelum menghadapi tim asal London tersebut.