Dewi Perssik Bongkar 16 Akun Terorganisir Sebar Hoaks Meninggal, Pengakuan Pelaku Mengejutkan
Dewi Perssik segera di-block oleh pelaku ketika ia menyatakan niatnya untuk melaporkan insiden tersebut kepada pihak kepolisian.
Dewi Perssik mengungkapkan adanya dugaan keterlibatan sekelompok akun media sosial yang terorganisir dalam menyebarkan berita palsu mengenai kematiannya. Sang biduan telah mengidentifikasi setidaknya 16 akun yang secara bergantian melakukan siaran langsung dengan narasi yang sama. Modus operandi yang digunakan pelaku tergolong rapi, memanfaatkan fitur siaran langsung bersama di TikTok.
Mereka terus menerus menghidupkan narasi hoaks tersebut meskipun akun sebelumnya sudah terpantau oleh Dewi. "Lho kok nggak ada? Nanti ada lagi muncul pas lagi live, aku masuk lagi, 'Eh kuntilanaknya masuk'... Jadi barengan gitu. Ada sekitar 16 akun ya," ungkap Dewi Perssik di Kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, pada Jumat (1/5/2026).
Ia juga menambahkan, "Jadi nanti setiap mati satu akun, satu lagi live gitu secara bergantian. Dan semua sudah aku record, 16 akun itu," tuturnya. Dari banyaknya akun yang terlibat, terdapat satu pelaku yang memberikan pengakuan mengejutkan kepada Dewi. Ia mengaku bahwa tindakan menyebarkan hoaks tentang Dewi Perssik dilakukan atas perintah orang lain. "Di antara 16 akun itu ada salah satu orang yang bilang bahwa 'Aku nggak... bukan aku, ini cuma saya disuruh. Aku disuruh, aku nggak ikut campur Mbak Dewi, kita minta maaf'. Satu akun. Nah aku pengin tahu yang nyuruh itu siapa, kok kamu mau, gitu lho," paparnya.
Ikuti prosedur hukum yang berlaku
Meskipun identitas pemilik akun telah terdeteksi, Depe memilih untuk tetap mematuhi prosedur hukum yang berlaku. Ia mempercayakan proses pelacakan lebih lanjut kepada pihak kepolisian, yang dianggapnya memiliki kemampuan yang memadai dalam menangani masalah tersebut. "Oh kalau polisi mah gampang banget, sudah. Cuma kan kita harus mengikuti prosedur yang ada," imbuhnya.
Depe juga berusaha melakukan komunikasi dengan para pelaku untuk menanyakan maksud dari tindakan provokatif mereka. Namun, komunikasi tersebut terputus begitu Dewi muncul di hadapan mereka. "Nggak ada (komunikasi), aku di-block! Aku bilang 'Oh ya udah berarti kalian kepingin ketemu aku di kantor polisi ya', langsung di-block-block-block gitu," jelasnya.
Dewi Perssik merasa tidak memiliki musuh
Dewi merasa bingung mengenai alasan di balik serangan massal yang dilakukan oleh 16 akun terhadap dirinya. Meskipun ia yakin tidak memiliki musuh, ia tetap waspada akan kemungkinan adanya pihak yang merasa tersakiti. "Aku sih nggak pernah takut apa-apa Mbak selama aku memang nggak macam-macam aku yakin. Tapi kalau orang itu sakit hati sama aku ya aku nggak tahu sakit hatinyakarena apa," ujarnya. Sikap hati-hatinya menunjukkan bahwa meskipun tidak ada bukti nyata, ia tetap merasa perlu untuk menjaga diri dari kemungkinan yang tidak diinginkan. Dalam situasi seperti ini, penting untuk tetap tenang dan tidak terbawa emosi, agar tidak membuat keputusan yang salah.
Dewi Perssik berharap dapat memberikan efek jera
Depe berusaha menindaklanjuti permasalahan ini untuk memberikan efek jera kepada pihak-pihak yang sering memanfaatkan penderitaan orang lain. Ia merasa bahwa narasi kecelakaan yang disusun dengan rinci sangat merugikan reputasi dan ketenangan hidupnya. "Kepinginnya bikin efek jera sih. Karena kalau dibiarkan terus menerus kan jadi... kan aku bilang. Mau diberitakan hoaks ya terserah. Tapi kalau di-live-in sampai live-nya itu bilang kronologi kejadian kecelakaan itu kan seolah-olah bener," pungkas Dewi Perssik.
Selain itu, tindakan ini diharapkan dapat mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan. Dengan demikian, masyarakat akan lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi yang tidak akurat dan menghargai privasi orang lain. Dewi Perssik ingin agar semua pihak menyadari dampak negatif dari penyebaran berita yang tidak benar, terutama yang berkaitan dengan kehidupan pribadi seseorang.