Rencana Kenaikan Suku Bunga The Fed Dinilai Bakal Pukul Ekonomi Negara Berkembang
Merdeka.com - Direktur Eksekutif Departemen Internasional Bank Indonesia (BI), Rudy Brando Hutabarat menyoroti, rencana kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) bukti pertumbuhan ekonomi dunia tidak merata.
Padahal, seluruh dunia kini tengah berupaya memulihkan ekonominya dari dampak pandemi Covid-19. Namun, sejauh ini beberapa negara bisa melaluinya dengan cepat, dan ada juga yang masih lambat.
"Sebagai contoh di Amerika Serikat sekarang. Kalau di Amerika pertumbuhan ekonominya pulih lebih baik. Untuk itu mereka akan melakukan namanya normalisasi kebijakan," kata Rudy dalam side event Presidensi G20 Indonesia, Selasa (15/2).
Rudy pun meminta The Fed mau memperhitungkan lebih cermat rencana ini, dan kemudian mengkomunikasikannya dengan baik. "Kalau kebijakan exit strategy itu dikomunikasikan dengan baik, dikalibrasi dengan baik, dan kemudian direncanakan dengan baik, maka itu akan melindung negara berkembang untuk pulih lebih kuat," sebutnya.
Dia berandai-andai, jika saja The Fed melakukan tapering dan mempertimbangkan kenaikan suku bunga dengan baik, maka dampaknya ke emerging market pasti akan lebih terbatas.
"Kalau dampak rambatan itu dapat dimitigasi, maka negara-negara berkembang yang saat ini masih dalam tahap pemulihan, maka mereka akan fokus pada pemulihannya," tuturnya.
"Sehingga ikut bareng-bareng pulih bersama negara-negara yang pulih lebih dulu. Ketika ekonomi dunia mengalami pemulihan bersama, kita akan melihat permintaan ekspor meningkat," tandas Rudy.
Jokowi Yakinkan Dampak Tapering Off AS Tak Besar untuk Indonesia, ini Alasannya
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comPresiden Joko Widodo atau Jokowi optimistis, kebijakan pengurangan likuiditas (tapering off) Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserves (The Fed) tidak akan berdampak besar pada Indonesia seperti saat 2013. Presiden Jokowi menyatakan, ekonomi domestik dinilai mempunyai ketahanan yang cukup kuat.
Hal ini tercermin dari nilai cadangan devisa Indonesia yang dinilai memadai hingga memasuki awal 2022. "Cadangan devisa pada Januari 2022 mencapai sebesar USD 141,3 miliar membawa Indonesia dalam posisi yang lebih baik dalam menghadapi tantangan eksternal pada tahun 2022. Terutama terkait normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat," tegasnya dalam Mandiri Investment Forum di Jakarta, Rabu (9/2).
Selain cadangan devisa, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga kembali pada tingkat yang optimis sebesar 118,3 pada Desember 2021. Sehingga, mendorong belanja masyarakat ke tingkat yang lebih tinggi dimasa sebelum pandemi, sebagaimana ditunjukkan oleh indeks belanja yang disusun oleh Survei Mandiri Sekuritas.
"Kita bersyukur saat ini Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia di level 53,7 berada pada zona ekspansi per Januari 2022. Dan ini lebih tinggi dari PMI Asia di level 52,7," imbuhnya.
Reporter: Maulandy Rizky Bayu KencanaSumber: Liputan6.com
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya