Menperin Airlangga sebut industri elektronik masih menjanjikan, ini pemicunya
Merdeka.com - Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto menyambangi pabrik PT Hartono Istana Teknologi, perusahaan manufaktur yang menghasilkan berbagai produk elektronika jenis audio video, telepon seluler dan kebutuhan rumah tangga dengan merek Polytron.
Dalam kunjungan tersebut, Airlangga menegaskan bahwa perkembangan industri elektronika masih prospektif karena terlibat dalam rantai pasok komponen untuk sektor lainnya seperti industri otomotif.
"Apalagi, industri otomotif kita sedang tumbuh dan Indonesia tengah mengembangkan sarana transportasi massal yang bisa membuka peluang lebih besar bagi bisnis produk elektronika di dalam negeri," ungkapnya ketika mengunjungi pabrik PT Hartono Istana Teknologi di Kudus, Jawa Tengah, Senin (4/6).
Bahkan, industri elektronika juga berperan penting mengoptimalkan penyerapan bahan baku lokal. "Contohnya, dengan perkembangan bioskop di Tanah Air yang belakangan banyak membutuhkan speaker, di mana boks speaker yang berbahan kayu tersebut seharusnya bisa dibuat di dalam negeri," imbuh Airlangga.
Perkembangan teknologi yang sangat cepat mengharuskan dunia industri untuk bertransformasi dengan mengikuti tren terkini, termasuk yang dialami di sektor elektronik. "Banyak produk elektronik yang dahulu sudah hilang dari pasar, karena diganti dengan produk lain. Dulu kita mengenal Betamax dan VHS, yang kemudian digantikan oleh VCD dan DVD. Selanjutnya, DVD juga mulai tergantikan dengan live streaming," ujarnya.
Kementerian Perindustrian terus memacu daya saing industri elektronika nasional agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. "Langkah strategis yang telah dilakukan, antara lain meningkatkan kompetensi tenaga kerja melalui program pendidikan dan pelatihan vokasi. Mereka bisa mendorong kegiatan inovasi lanjutan dan mempercepat transfer teknologi," terang Airlangga.
Menurut Menperin, pemerintah sedang menyiapkan insentif fiskal yang disebut super deductible tax atau pengurangan pajak di atas 100 persen. Selain guna mendorong agar terlibat dalam program pendidikan vokasi. "Insentif ini dapat dimanfaatkan bagi perusahaan yang berkomitmen melakukan riset untuk menciptakan inovasi. Jadi, inovasi menjadi dasar kekuatan industri untuk berkompetisi di era persaingan yang semakin ketat," tegasnya.
CEO PT Hartono Istana Teknologi, Hariono, mengungkapkan, perusahaan telah mengekspor produk elektronika hingga ke 52 negara. Sementara untuk pemasaran di domestik, Polytron memiliki 2.500 dealer yang tersebar di seluruh Indonesia. "Untuk penjualan, lebih banyak memang 95 persennya ke domestik, sementara tujuan ekspornya antara lain ke Thailand, Myanmar, Bangladesh, Spanyol, Arab Saudi, Srilanka dan Filipina," kata dia.
Hingga tahun 2016, PT Hartono Istana Teknologi cukup mendominasi pasar nasional untuk produk speaker dan televisi tabung dengan market share masing-masing sebesar 72 persen dan 66 persen. "Kami juga didukung dengan 20 sales office dan 64 service center yang telah kami miliki," lanjut Hariono.
Sementara itu, Direktur R&D PT Hartono Istana Teknologi, Adi Susanto mengatakan, perusahaan telah mulai membangun divisi R&D sejak tahun 1982. Dalam setiap tahunnya, divisi R&D Polytron dapat menghasilkan 10 produk inovasi baru.
"Khusus untuk produk televisi, divisi R&D wajib menghasilkan dua produk televisi dengan inovasi terbaru yang akan dipasarkan. Ada 60 hak paten yang sudah kami didaptkan dari hasil riset. Dari riset ini bisa kita kembangkan untuk produk jadi," tutup Adi.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya