Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi: Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi

Ketahanan pangan nasional menjadi kunci utama dalam menghadapi masa krisis selanjutnya setelah wabah pandemi corona ini berakhir. Seluruh negara di dunia di masa pemulihan nanti akan mulai menyusun kekuatan pangannya masing-masing. Salah satunya yakni dengan meningkatkan produksi pertanian.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi: Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi
Kepala Badan PPSDMP Dedi Nursyamsi. ©2020 Merdeka.com

Ketahanan pangan nasional menjadi kunci utama dalam menghadapi masa krisis selanjutnya setelah wabah pandemi corona ini berakhir. Seluruh negara di dunia di masa pemulihan nanti akan mulai menyusun kekuatan pangannya masing-masing. Salah satunya yakni dengan meningkatkan produksi pertanian.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengatakan, virus corona memang meluluh lantakkan aspek kehidupan, termasuk sektor pertanian yang mempunyai tupoksi menyediakan pangan. Mulai dari sistem produksi hingga distribusi terganggu.

Dia menjelaskan, saat ini ada beberapa bahan pangan yang masih impor, namun pemerintah terus memikirkan agar Indonesia mampu menyediakan pangan sendiri dan memanfaatkan pangan lokal.

Berikut wawancara khusus dengan Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi mengenai ketahanan pangan di tengah krisis.

1. Bagaimana support BPPSDMP terhadap kondisi ketahanan pangan Indonesia di tengah pandemi ini?

Kalau ditanya bagaimana support BPPSDM terhadap ketahanan kita tentu kita support dari SDM nya, SDM pertanian itu ya petani. Siapa lagi ya praktisi pertanian, dan penyuluh pertanian. Itu kita genjot agar mereka terus berproduksi, jadi penyuluh harus tetap turun ke lapang, ke sawah, ladang untuk mendampingi petani untuk genjot produksi, karena produksi tidak boleh delay, tidak boleh tertahan apalagi terlambat.

Kalau produksi terlambat artinya nanti produksi terlambat pangan juga, sehingga masalah pangan bisa menjadi soal, ini yang tidak boleh terjadi, oleh karena itu dalam situasi dan kondisi apapun pertanian itu harus jalan terus, maka petani harus turun ke lapang untuk mendampingi bagaimana mengolah tanah yang baik, memilih varietas yang bagus, dan bagaimana cara menggunakan transplanter, dan mengelola gulma, bagaimana cara mengelola panen menggunakan harvester, cara skill panen menggunakan dryer dan sebagainya sampai panen kita ke pasar, sehingga petani itu mendapatkan keuntungan yang layak dan maksimal, kalau begitu maka dia pasti akan terdorong untuk melakukan produksi berikutnya, intinya kontribusi BPPSDM itu bagaimana kita mendorong SDM pertanian, penyuluh, praktisi pertanian untuk terus berproduksi dan meningkatkan produktivitas.

2. Bagaimana terkait instrumen teknologi dan pembiayaan dalam pertanian?

Yang namanya pengungkit produktivitas yang pertama adalah inovasi teknologi dan sarana dan prasarana. Ada juga kebijakan peraturan perundangan, dan tak kalah penting adalah SDM pertanian, jadi pengungkit produktivitas dan pengungkit produksi itu adalah inovasi teknologi hanya bagaimana masalahnya agar inovasi teknologi itu betul-betul diimplementasikan oleh seluruh insan pertanian, praktisi, pengusaha pertanian itu yang paling penting. Sehebat apapun inovasi teknologi kalau tidak ada diimplementasikan ya tidak akan memberikan kontribusi apapun. Sebetulnya yang paling sulit adalah rekayasa sosialnya bagaimana mengubah perilaku petani dan mindset petani agar dia itu mau, dan mampu serta merasa terpanggil untuk mengimplementasikan teknologi tersebut.

3. Apakah benar jumlah petani yang terus berkurang membuat kekuatan ketahanan pangan tergerus?

Kalau tergerus itu sebenarnya tidak juga tapi memang kita harus waspada kita harus antisipasi jadi saat ini ini komposisi dari petani kita sebagian umur produktif jadi umur 40 tahun keatas petani kita itu kurang lebih 70 persen, sedangkan umur 40 tahun kebawah kurang lebih 29 persen kurang dari 30 persen. itu berarti 10 tahun kemudian umur produktif ini akan masuk ke umur yang kurang produktif artinya umur yang diatas 50 tahun yang kurang produktif apalagi di atas 60 tahun produktivitasnya pasti berkurang.

Ini menjadi tantangan kita, oleh karena itu umur milenial atau yang kurang dari 40 tahun kita sebut sebagai umur milenial atau petani milenial yang lebih ih dari 40 tahun di sebut kolonial artinya petani yang sudah tua tantangan ini bagaimana menciptakan petani-petani milenial itu sebanyak-banyaknya di saat yang sama, bagaimana kita mencetak petani milenial agar betul-betul profesional menguasai bidangnya di sektor pertanian di saat yang sama dia juga harus mampu berdaya saing. Saat ini yang namanya komoditas pertanian bukan hanya di Indonesia di seluruh negara juga diproduksi mereka sama-sama ekspor sama-sama menghasilkan. Oleh karena itu daya saing ini menjadi kata kunci.

4. Bagaimana langkah Kementan untuk mencari petani-petani baru di Indonesia?

Saat yang sama petani milenial ini harus mempunyai jiwa entrepreneurship yang tinggi artinya jiwa wirausaha yang tinggi, yang bisa memberikan kesinambungan atau sustainability dari usaha pertanian itu adalah keuntungan, keuntungan itu didapatkan dari usaha pertanian yang baik, pertanian yang bagus itu bisa dilaksanakan oleh para petani milenial yang berjiwa entrepreneurship yang tinggi, artinya yaitu mempunyai kepekaan terhadap peluang-peluang keuntungan.

Petani yang peka itu melihat sampah saja atau sisa-sisa itu bisa menjadi uang bisa dibuat menjadi kompos kemudian dikemas yang bagus, dan dijual. Bayangkan dari sampah bisa jadi uang, kalau yang punya jiwa entrepreneurship mereka bisa membaca itu, itulah yang kita harapkan.

5. Bisa diceritakan mengenai Bertani On Cloud?

Bertani On Cloud sebetulnya salah satu cara kita utamanya saat ini di dalam rangka meningkatkan kapasitas para petani, dan meningkatkan keterampilan para petani di dalam berusaha taninya. Sebetulnya kita mempunyai banyak channel ada melalui jalur pendidikan, penyuluhan dan jalur pelatihan.

Nah, bertani On Cloud ini adalah salah satu cara kita mengadakan pelatihan kepada para petani milenial praktisi UMKM namanya juga on cloud jadi dalam bentuk virtual tentu saja Ini memerlukan sarana dan prasarana IT. kalau petani milenial dan sudah maju itu mereka minimal punya Android dan mempunyai tablet atau laptop jadi mereka bisa memanfaatkan itu kemudian akses program kita bertani cloud.

Sebetulnya cara sekarang bagaimana melatih petani pemupukan yang baik, menggunakan alat-alat mesin pertanian, bagaimana caranya merawat tanaman agar terhindar dari hama dan penyakit, bagaimana caranya mengolah hasil tani misalnya untuk komoditas ubi saja, bagaimana ubi itu tidak langsung dijual dalam bentuk ubi, tapi dibuat keripik dulu tapi dibuat tepung dulu dibuat snack dulu kemudian di packaging yang bagus. Kalau dijual ubi langsung paling harganya cuman Rp 4.000 atau Rp ,5.000 per kilogram tapi kalau sudah jadi cemilan 100 gram saja bisa dijual Rp8.000 sampai Rp9.000 artinya 1 kilo itu bisa menghasilkan ratusan ribu rupiah.

Oleh karena itu bagaimana kita mengolah hasil panen menjadi produk-produk turunan yang biasa dikerjakan oleh UMKM, menjadi materi di dalam bertani On Cloud. Jadi pertanian On Cloud itu bagaimana cara pelatihan Pertanian berusaha tani dari hulu sampai hilir. Bahkan dari hulunya itu bagaimana cara petani mendapatkan modal himbara atau bank-bank negara menyediakan kredit usaha rakyat, itu bunganya sangat rendah sangat hanya 6 persen.

Nah setelah mendapatkan modal kemudian bagaimana caranya petani mengolah tanah, saat ini ada roda traktor roda dua dan roda empat itu akan lebih efektif, dengan menggunakan mesin kemudian bagaimana cara menggunakan transplanter menanam yang baik dan cara pemupukan berimbang yang bagus, bagaimana cara bikin kompos bagaimana cara-cara yang lainnya dan mengolah hasil panen menjadi produk-produk turunan yang memberikan nilai tambah yang lebih besar lagi di situlah kita belajar di bertani On Cloud.

6. Sejauh ini bagaimana perkembangan program Bertani On Cloud baik dari sisi yang telah dijalankan Kementan hingga sambutan dari peserta?

Luar biasa ini ternyata peminatnya, sehingga setiap hari bisa sampai 2 kali dalam seminggu Selasa dan Kamis, tapi karena peminatnya berlimpah sementara kemampuan Zoom kita sering juga ada bisa dilihat di Facebook melalui live streaming atau di YouTube. Jadi satu kali running jumlah pesertanya bisa 4000-5000 orang itu luar biasa sekali, saat ini sudah mencapai volume 23 artinya sudah 23 kali bertani on cloud diadakan, bayangkan satu volume itu dua kali pagi dan sore.

Kenapa? karena peminatnya banyak sementara kemampuan kita kapasitas kita terbatas, jadi luar biasa peminat dari bertani on cloud, karena ternyata pesertanya bukan hanya petani, para praktisi tetapi juga termasuk UMKM ikut, ingin mengetahui bagaimana cara membuat keripik, cara membuat nugget, kemudian cara membuat susu menjadi produk produk turunan berikutnya. Ini luar biasa peminatnya Saya sangat senang dan puas ternyata pelatihan Pertanian kita banyak peminatnya dan insya Allah akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan produktivitas pangan.

7. Apa harapan Kementan dengan adanya program Bertani On Cloud?

Kita berharap ada transfer pengetahuan yang betul-betul bisa dimanfaatkan dan betul-betul bisa diimplementasikan di lapangan, materi-materi bertani on cloud itu di mulai dari hulu sampai hilir, misalnya dari hulu bagaimana cara membuat kompos yang bagus, kita semua berharap agar para petani dan penyuluh mengimplementasikan membuat kompos sendiri dan mempraktekkan kompos di lahan sendiri, kemudian menggunakan kompos nya.

Kita semua tahu bahwa pembuatan kompos bisa meningkatkan produktivitas tanah di saat yang sama juga akan meningkatkan produksi pertanian, dan juga di saat yang sama bisa mengurangi kebutuhan pupuk kimia bisa sampai 10 persen kebutuhan pupuk kompos kan itu luar biasa menghemat kebutuhan pupuk di saat yang sama serta meningkatkan produktivitas.

Jadi, kita memiliki dua keuntungan yang luar biasa dari pembuatan kompos. Harapan kita setelah mereka menonton bertani on cloud ini bisa mengimplementasikan pembuatan kompos di lapangan, begitu pula saat ini kemarin harga ayam jatuh karena sistem distribusi terganggu dan transportasi terganggu, dulu yang namanya restoran dan hotel selalu menelpon ke peternakan bahwa perlu daging ayam sekian ton setiap minggu, dan sebagainya begitu ada covid-19, lockdown dan PSBB, namanya restoran, hotel tutup, dan orderan menjadi terhambat padahal produksi masih berlangsung sehingga harga di tingkat peternak langsung jatuh, karena peternak biasanya jual dagingnya bahkan ayam yang masih hidup di jual.

Coba kalau dibikin nugget dulu jadi dari daging ayam itu diproses jadi nugget, kalau nugget bisa bertahan lama bisa disimpan di freezer dalam waktu sekian bulan masih segar. Selain itu daging ayam kemarin cuma Rp 6.000 sekilo. Karena harganya turun jatuh padahal normalnya Rp18.000 tapi kalau sudah menjadi nugget semakin meningkat harganya apalagi kalau packaging-nya bagus pakai plastik yang ada capnya, atau brand, pokoknya yang keren setelah itu pasti harganya berlipat-lipat dari harga daging ayam.

8. Apakah bertani on cloud ini bisa mendongkrak ketahanan pangan?

Menurut penelitian Ary Ginanjar dia seorang motivator yang hebat, dari hasil penelitiannya ada tiga faktor pengungkit produktivitas, pertama adalah inovasi teknologi dan sarana dan prasarana itu memberikan kontribusi terhadap peningkatan produktivitas 25 persen; kedua, juga ada kebijakan peraturan perundangan itu juga memberikan kontribusi kurang lebih 25 persen; ketiga, ternyata yang 50 persen itu adalah kontribusi dari sumber daya manusia, itu kata kuncinya sekarang bagaimana caranya mencetak sumber daya manusia yang betul-betul bisa mengimplementasikan teknologi, yang betul-betul memanfaatkan sarana dan prasarana dan bisa taat terhadap semua kebijakan dengan memanfaatkan peraturan perundangan dan sebagainya, agar produktivitas meningkat secara tajam dengan cara pelatihan.

Dengan pelatihan kualitas sumber daya manusia kemudian juga ilmunya bargaining position-nya pasti akan meningkat, dengan melakukan pelatihan. Salah satu bentuk pelatihan adalah dengan cara bertani on clou, jadi kita yakin sekali dengan pelatihan kualitas sumber daya manusia pertanian atau kapasitas dari SDM pertanian kita itu pasti meningkat ,di saat yang sama akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan produktivitas berarti dia bisa meningkatkan produksi komoditas pertanian.

9. Apakah sudah ada laporan yang sudah mengimplementasikan hasil dari pelatihan bertani on cloud?

Bertani on cloud kan belum lam,a kalau tidak salah mulainya itu sejak adanya covid-19, dulu kita manual artinya face to face dan tidak langsung praktek di lapangan dan sebagainya itu karena covid-19 tidak memungkinkan. Oleh karena itu kita melalui virtual tetapi virtual yang benar-benar mirip kondisi sebenarnya karena di saat yang sama kita memberikan video-video langsung di lapangan, misalnya Bagaimana caranya bercocok tanam yang benar, bagaimana caranya memberikan pupuk yang benar, bagaimana caranya merawat dari gulma, nah itu ada videonya dan diajarkan.

Saya yakin dari aktivitas pelatihan bertani on cloud itu akan memberikan peningkatan kapasitas dari SDM pertanian. Kemarin memang baru dilakukan evaluasi dari teman-teman dan hasil evaluasinya masih digodok, sejauh mana efektifitas dari bertani ini secara kuantitas itu jelas luar biasa terbukti dari followers terlihat, program kita itu bayangkan setiap acara bertani on cloud sampai 4000-5000 peserta dari yang live streaming maupun di zoom, itu sangat luar biasa. Saya sangat berharap dari kuantitas ini ini ada ada penaikan kualitas.

Melalui Whatsapp banyak yang bercerita bahwa dia sudah mengimplementasikan, misalnya teknologi mengenai pemupukan berimbang yang sudah disampaikan, artinya sudah mulai mereka itu mengimplementasikan cuman masalah waktu produktivitas itu pasti meningkat.

10. Apakah Bertani On Cloud ini bisa diikuti oleh siapa saja?

Siapapun boleh, tapi memang sasaran utama kita adalah petani, penyuluh, praktisi pertanian, dan UMKM. Sebetulnya sasaran utama kita ke sana, tapi ternyata akademisi juga banyak yang ikut, ibu-ibu rumah tangga juga banyak yang ikut. Kenapa karena di dalam bertani unon cloud ada materi bagaimana kita memanfaatkan lahan pekarangan untuk tanam di polybag dan hidroponik, atau sistem tanam dengan lainnya. Meskipun lahan kita sempit kita bisa memanfaatkan lahan itu untuk meningkatkan produksi utamanya tanaman-tanaman yang untuk polybag sayur-sayuran di depan rumah, dengan hidroponik bisa menanam kangkung, bisa menanam pakcoy brokoli, dan sebagainya dengan menggunakan hidroponik.

Nah ibu-ibu ternyata suka di saat pandemi ini, namanya juga tidak boleh ke mana-mana mereka banyak sekali tinggal di rumah. Jadi ada kegiatan bertani ilmunya dari mana ya dari bertani on cloud itu yang sebetulnya di luar perkiraan kita semula rupanya minat ibu-ibu juga luar biasa terhadap bertani on cloud.

11. Bagaimana untuk bisa mendaftar atau ikut dalam program Bertani On Cloud?

Pertama adalah tentu kita harus tunjukkan bahwa bertani on cloud ini, bahwa bertani itu mudah dan menarik, bahwa bertani itu menghasilkan uang, jadi uang ini sebagai daya tarik utama. Intinya adalah kita tunjukkan bahwa pertanian itu menguntungkan, dan bertani itu dapat meningkatkan pendapatan kita itu yang paling utama.

Kita mengundang public figure artis untuk sama-sama hadir di acara ini kemudian mereka bisa memahami bahwa bertani on cloud ini ternyata ada di zoom, kemudian agendanya bisa setiap hari apa saja.

Tidak ada syarat khusus langsung daftar, kita selalu memberikan link untuk registrasi segera daftar, di sana pasti peserta masuk ke zoom-nya tidak hanya di streaming dan peserta bisa mengajukan pertanyaan bisa juga langsung mendaftar mendapatkan bahan-bahan materi pelatihan atau bahkan akan mendapatkan sertifikat.

12. Biasanya dari mana peserta mendapatkan Informasi mengenai pelatihan bertani on cloud?

Informasinya itu diperoleh dari websitenya BPPSDMP Kementerian Pertanian, kemudian melalui WhatsApp secara berantai disebar, Kita kan punya Whatsapp grup petani milenial, grup penyuluh, grup para UMKM, kita sebarkan ke sana. Ternyata sangat luar biasa, sekali saja menyebarkan ke grup penyuluh atau petani milenial ternyata itu tersebar kemana-mana.

13. Apa harapan Anda untuk sektor pangan di Indonesia secara umum dan untuk Bertani On Cloud secara khusus?

Harapan saya program bertani on cloud ini dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kapasitas, meningkatkan kemampuan para petani, praktisi dan penyuluh Pertanian untuk meningkatkan produktivitasnya. Tentu setelah praktisi pertanian dan penyuluh menguasai tematik-tematik dari bertani, Saya yakin produktivitas pertanian itu akan meningkat, kalau produktivitas pertanian meningkat itu saya haqul yakin ketahanan pangan ada di genggaman kita, itu yang sangat kita harapkan.

Rekomendasi