Kementerian Perindustrian mencatat impor komoditas pangan bakal mengalami peningkatan pada 2016. Salah satunya, Monosodium Glumate (MSG) atau penyedap rasa, gula, jagung serta pakan ternak.
Direktur Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto mengatakan kebutuhan komoditas pangan rata-rata naik terutama pangan untuk industri.
"Kalau kita lihat angkanya dari tahun ini 2015, kita prediksi akan naik sekitar 5 persen untuk gula jadi 2016 sekitar 3,1 juta ton, dari awalnya sekitar 2,89 juta ton, atau setara dengan 3,22 ton gula mentah," ujar Panggah di Kantor Kordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (10/12).
Untuk industri MSG sendiri, Kemenperin telah mengeluarkan izin sebanyak 451.000 ton, dengan realisasi baru sebesar 316.000 ton. Sedangkan, untuk industri makanan minuman izin dikeluarkan sebanyak 20 ton dengan realisasi tercatat sebesar 10 ton.
Panggah menjelaskan kebutuhan jagung untuk indsutri pakan ternak direncanakan terus meningkat meningkat sekitar 300.000 ton pada 2016, dari yang awalnya 8,3 juta ton menjadi 8,6 juta ton.
"Jagung kan kebutuhannya itu 2015 8,3 juta ton, kita prediksi meningkat sekitar 8,6 juta ton, naik sekitar 300.000 ton," kata Panggah.
Dia menambahkan kenaikan impor beberapa komoditas pangan seperti gula dan jagung disebabkan belum terpenuhinya kebutuhan dalam negeri. Untuk menutupi kebutuhan itu, pemerintah terpaksa melakukan impor komoditas pangan.
"Sebetulnya kalau produktivitas kita dijaga, pasti kebutuhan dalam negeri bisa terpenuhi, seperti kualitas dan produktivitas yang tepat waktu, ini yang menjadi kendala selama ini," kata Panggah.
Dia meminta kementerian terkait impor pangan mampu menyelesaikan masalah dan berkoordinasi baik dengan sektor industri guna memenuhi pasar dalam negeri.