Keberangkatan Haji 2020 Dibatalkan, Garuda Indonesia Hilang 10 Persen Pendapatan

Garuda Indonesia menyatakan kehilangan 10 persen pendapatan sebagai dampak kegiatan haji yang dibatalkan pada tahun ini. Seperti diketahui, kebijakan pembatalan keberangkatan haji tahun ini diambil karena pemerintah harus mengutamakan keselamatan jemaah di tengah pandemi Corona yang belum usai.

Bimo Pratomo
Oleh Bimo Pratomo - Reporter
Keberangkatan Haji 2020 Dibatalkan, Garuda Indonesia Hilang 10 Persen Pendapatan
Pemberangkatan jemaah haji. ©2014 merdeka.com/imam buhori

Garuda Indonesia menyatakan kehilangan 10 persen pendapatan sebagai dampak kegiatan haji yang dibatalkan pada tahun ini. Seperti diketahui, kebijakan pembatalan keberangkatan haji tahun ini diambil karena pemerintah harus mengutamakan keselamatan jemaah di tengah pandemi Corona Virus Disease-19 (Covid-19) yang belum usai.

Selain soal keselamatan, kebijakan diambil karena hingga saat ini Saudi belum membuka akses layanan Penyelenggaraan Ibadah Haji 1441H/2020M.

"Haji itu berkontribusi dari tahun ke tahun sekitar 10 persen, kurang lebih. Jadi, kalau haji dibatalkan tentu buat Garuda kehilangan pendapatan yang cukup signifikan," kata Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, seperti dikutip dari Antara dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Jumat (5/6).

Saat musim haji, Lebaran ataupun Tahun Baru, Irfan mengatakan biasanya perseroan meraup untung, namun tidak untuk tahun ini.

"Ini pukulan cukup besar buat Garuda karena dari tahun ke tahun, kami ini selalu menikmati di masa-masa seperti akhir tahun, Lebaran, dan haji. Ini masa di mana Garuda biasanya sibuk sekali dan Garuda biasanya ada pelonjakan pendapatan yang cukup signifikan di masa-masa tersebut," katanya.

Irfan mengaku dari segi keuntungan penerbangan haji tidak begitu besar, namun dari sisi pendapatan sangat besar. "Untungnya tidak akan besar. Tapi dari segi pendapatan dari segi 'cash' sangat besar," katanya.

Dia sendiri bersyukur belum mempersiapkan penerbangan haji secara menyeluruh. Sehingga dapat menekan potensi kerugian. "Untung kami belum ada 'deal-deal' yang mengeluarkan dana cukup besar untuk haji tahun ini. Semua kami 'pending' (tunda) habis corona," katanya.

Garuda Indonesia mencatat laba bersih 2019 sebesar USD 6,98 juta atau Rp 97,72 miliar (asumsi kurs Rp 14.000). Pada 2019, Garuda Indonesia juga mencatatkan perolehan positif pada laba usaha dengan nilai sebesar USD 147,01 juta.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, mengatakan capaian ini sejalan dengan pendapatan perseroan yang naik 5,59 persen dari tahun 2018 menjadi USD 4,57 miliar.

"Capaian ini dapat diraih melalui strategi quick wins priority yang dijalankan perusahaan, yaitu melalui penguatan budaya perusahaan berbasis people, process and technology, strategi peningkatan pendapatan serta peninjauan atas struktur biaya perusahaan," ungkapnya melalui siaran tertulis yang dikutip Liputan6.com, Jumat (5/6).

Selain itu, Irfan menyebutkan pihaknya juga telah mempersiapkan perusahaan untuk menghadapi New Normal. Menurutnya, kunci utama menghadapi era ini adalah efisiensi.

"Mindset bisnis penerbangan juga harus terus berevolusi menyelaraskan dengan realitas kondisi yang ada. Langkah tersebut yang secara bertahap terus kami lakukan mulai dari aspek operasional hingga optimalisasi lini bisnis," tuturnya.

Guna memulihkan kinerja perusahaan, Garuda memastikan beban operasi bergerak dinamis dengan tantangan kinerja yang ada saat ini.

"Seperti upaya renegosiasi biaya sewa pesawat sekaligus memperpanjang masa sewa pesawat, melakukan renegosiasi kewajiban perusahaan yang akan jatuh tempo, hingga melakukan program efisiensi biaya dengan memprioritaskan keselamatan dan layanan penerbangan," ujarnya.

Rekomendasi