Korea Utara berencana meluncurkan satelit mata-mata untuk kepentingan militer negara itu. Jika sesuai rencana, satelit itu akan mengorbitke pada April 2023. Kabar itu berasal dari Korean Central News Agency (KCNA) dan Pyongyang Times yang dilaporkan dari Space.com, Selasa (20/12).
KCNA mengabarkan bahwa saat ini, pemerintah Korea Utara telah melakukan serangkaian uji coba roket fase akhir. Fase akhir ini bertujuan untuk memverifikasi keseluruhan sistem satelit mulai dari sensor dan telemetri. Juru bicara Badan Antariksa Korea Utara (NADA) menyebutkan bahwa mereka puas atas uji coba fase terpenting itu.
"Tes tersebut mengonfirmasi indeks teknis penting termasuk teknologi operasi kamera di lingkungan luar angkasa, pemrosesan data dan kemampuan transmisi perangkat komunikasi serta akurasi pelacakan dan pengendalian sistem kontrol darat," kata juru bicara itu.
Bersamaan dengan pengumuman tersebut, Korea Utara merilis gambar kota Korea Selatan Incheon dan Seoul yang diklaim diambil selama pengujian untuk mengevaluasi kemampuan pemrosesan gambar dari satelit yang direncanakan.
Sayangnya, menurut Martyn Williams, seorang peneliti di Stimson Center yang berbasis di Washington, mengatakan kamera Korea Utara tidak dapat melakukan fungsi pencitraan yang biasa dilakukan oleh satelit komersial modern, yakni untuk proyek 38 Utara, yang menawarkan gambar pada 50 cm atau bahkan 30 cm.
"Pada resolusi 20 m, satelit akan dapat melihat bangunan, kapal, dan pesawat, tetapi tidak untuk kendaraan, orang, atau mesin lainnya. Ini sangat kasar dan tidak terlalu berguna untuk menentukan apa yang terjadi di lapangan," katanya.
©2022 KCNA
Shin Jong-woo, seorang peneliti senior di Forum Pertahanan & Keamanan Korea, meragukan foto-foto KCNA lain dari lokasi peluncuran, yang menunjukkan rudal tua membawa kamera, bukan satelit.
"Anda tidak ingin membawa rudal kuno untuk program penting seperti pengembangan satelit dan serentetannya," katanya.