Akhiri debat, Kang Hasan bicara soal keberanian, Demiz pantun ikan tongkol
Merdeka.com - Dalam debat kandidat ketiga pilgub Jabar, penyelenggara mewajibkan kepada setiap paslon untuk menyampaikan ajakan Pilkada damai dan menyampaikan kata yang baik kepada seluruh calon.
Di momen itu, paslon nomor urut 3, TB Hasanuddin-Anton Charliyan menyatakan bahwa seluruh kontestan punya kualitas yang mumpuni dalam memimpin Jabar.
Hanya saja, untuk masalah ketegasan, komitmen dan keberanian, hanya mereka yang paling unggul. Modal itulah yang akan ia bawa untuk Jabar ke arah yang lebih baik.
"Kami punya keberanian dan komitmen terutama terkait masalah kesejahteraan dan keamanan," ujarnya.
Ia pun berjanji akan membuat kebijakan di atas nama rakyat Jabar yang plural. Dengan demikian, ia menjamin semua program yang dibuat akan dibuat untuk semua warga jabat.
"Kami akan membangun jabar yang berkeadilan," tegasnya.
Wakilnya, Anton Charliyan memilih membacakan doa, memohon agar momen Pilgub Jabar bisa membawa perubahan yang baik untuk masyarakatnya.
"Semoga pilkada jabar membawa kemaslahatan dan mengangkat harkat dan martabat rakyat," katanya.
Sementara itu, dalam closing statement, Calon Gubernur Jabar nomor urut 4, Deddy Mizwar membebaskan warga Jabar untuk memilih paslon. Ia menilai, jika semua suara masuk ke kantongnya, itu adalah bentuk dari mobilisasi massa.
"Warga jabar tidak harus memilih nomor empat. Bisa pilih nomor satu, dua atau tiga. Tapi yang terbanyak tetap kami nomor empat," katanya.
Pria yang akrab disapa Demiz ini pun menyebut bahwa ia dan wakilnya, Dedi Mulyadi adalah pasangan yang paling paham tentang kondisi Jawa Barat, termasuk merealisasikan isu strategis Jawa Barat untuk maju.
Ia pun menutup pernyataannya dengan sebuah pantun. "Ikan tongkol ikan sepat, jangan dongkol kalau yang menang nomor empat," ucapnya.
Dalam kesempatan sama, Dedi Mulyadi menilai perebutan jabatan hanya sementara. Di atas semua itu, persahabatan adalah yang paling penting untuk dijaga selamanya.
"Jangan sampai adanya Pilgub mengorbankan pertemanan. Mari kita tetap saling mengasihi," ucapnya.
Tak mau kalah dengan Demiz, Dedi Mulyadi pun menutup kesempatan itu dengan pantun. "Patpatgulipat, Lebaran makan ketupat. Kita pilih nomor empat agar hidup bermartabat," ujarnya.
"Salam hormat untuk seluruh warga Jabar. Kami akan bekerja untuk kalian," ujarnya.
Selain itu, terkait berlangsungnya debat, Dedi Mulyadi mengaku terganggu dengan teriakan dari para penonton yang hadir di tempat acara.
"Kalau dari segi tertib, tertib tapi ada yang berteriak. Itu mengganggu konsentrasi. Di debat itu jangan ada tim hore cukup pengamat, praktisi, akademisi. Tim hore bisa nonton di rumah," katanya.
Namun, secara keseluruhan penampilan, ia percaya diri pasangan dua DM yang konsisten menyampaikan materi dalam debat. Contohnya, saat membahas persoalan kebudayaan, ia menyampaikan bahwa kebudayaan itu adalah ketauladanan.
Aspek itu harus hadir dalam keseharian termasuk dalam politik. "Dalam prosesnya tidak boleh ada fitnah, rekayasa seperti dukun palsu. Itu harus dihindari jangan diciderai oleh perilaku politik yang tidak mencerminkan orang berpendidikan. Saya orang desa cukup heran dengan politisi kota," ucapnya.
Lalu, mengenai pembahasan agama dalam materi debat, ia menyampaikan bahwa agama adalah sistem yang mengajarkan nilai keyakinan manusia yang menghubungkan manusia dengan Tuhan, alam dan sesama manusia.
Kemudian, lanjut dia, lahir tata perilaku hidup yang diatur dalam kaidah. Jika di dalam Islam itu kaidah fiqih. Sementara terkait ideologi itu adalah sistem hasil gagasan pemikiran para ideolog untuk merumuskan postur hubungan antara manusia dengan negara sekaligus hubungan pemerintah dengan masyarakatnya.
"Pada puncaknya, hubungan itu menghasilkan sistem tata negara. Maka tata kelola ideologi pada puncaknya akan melahirkan tata kelola negara," ujarnya.
(mdk/rzk)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya