Penentuan pasangan Khofifah di Pilgub Jatim masih menunggu survei

Tim 9 pimpinan KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah telah menggelar pertemuan penting, membahas bakal calon pendamping untuk Khofifah Indar Parawansa di Pilgub Jawa Timur 2018.

Moch. Andriansyah
Oleh Moch. Andriansyah - Reporter
Penentuan pasangan Khofifah di Pilgub Jatim masih menunggu survei
Kiai Asep Syaifuddin Chalim. ©2017 Merdeka.com

Tim 9 pimpinan KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah telah menggelar pertemuan penting, membahas bakal calon pendamping untuk Khofifah Indar Parawansa di Pilgub Jawa Timur 2018. Hasil rapat tertutup pada Kamis (19/10) malam di kediaman KH Asep Syaifuddin Chalim, di komplek Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Jalan Siwalankerto, Surabaya, Jawa Timur itu menyepakati delapan nama.Sayang, Kiai Asep selaku tuan rumah sekaligus juru bicara para kiai, enggan menyebut satu persatu delapan nama bakal Cawagub untuk Khofifah tersebut."Ada sekitar delapanan. (dari delapan nama itu) Hampir seluruh partai pengusung terwakili. Tetapi tahapannya, selesai kami memilih, Bu Khofifah mengoreksi," terang Kiai Asep.Pun begitu saat ditanya soal menguatnya nama Bupati Trenggalek, Emil Elestianto Dardak dan putra Ketua Umum DPP Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY): Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) masuk di antara delapan bakal Cawagub pilihan para kiai, Kiai Asep tetap enggan terbuka."Saya tidak bisa menyebutkan itu, karena begini, ada tahapan-tahapan yang harus kita lakukan," elaknya lagi.Tahapan-tahapan itu, lanjutnya, setelah para kiai menyepakati delapan nama (ada dari kalangan birokrat, akademisi, politikus, dan kepala daerah) tersebut, kemudian dilakukan survei selama satu minggu ke depan."Artinya beberapa nama kita usung, kemudian kita surveikan. Hasil surveinya kan akan tercatat. Ini sekian persen, ini sekian persen, ini sekian persen. Setelah itu kita bertemu. Para ulama ini bertemu dengan partai-partai pendukung dengan menyodorkan hasil survei dan seterusnya," sambungnya.Bagi yang hasil surveinya tertinggi, kata Kiai Asep, juga belum tentu terpilih. "Tetapi yang paling buncit juga tentu tidak. Artinya belum tentu yang hasil surveinya itu nomor satu yang akan dipilih. Misalnya yang nomor satu, nomor dua, yang nomor tiga ini masih mungkin (dipilih)," katanya.Ditegaskan Kiai Asep, penentuan nama pendamping Khofifah, selain harus berdasarkan survei, juga harus ada kesepakatan dari partai pengusung melalui pertemuan pasca-mendapatkan hasil survei. "Jadi begini, maaf ya, saya juga tidak bisa keluar dari koridor kiai, bahwa kita tidak bisa tergesa-gesa, juga tidak boleh berlambat-lambat," katanya."Semua yang tergesa-gesa itu syaitan hasilnya, tapi kalau berlambat-lambat itu juga tidak boleh. Di antara kedua itu (tegesa-gesa dan berlambat-lambat) kita akan, paling lama saya kira 10 hari sudah selesai semua," tandasnya.Kia Asep juga mengaku, pihaknya harus menempatkan posisi sebagai ulama yang mengedapankan istisyarah, dan ketika buntu baru melakukan istikharah."Istisyarah itu artinya pertimbangan-pertmbangan rasional yang dikedepankan, sehingga pada kesempatan ini kita membuat kriteria-kriteria (Cawagub), antara lain; punya kapabilitas, integritas, bisa kerja sama dengan Bu Khofifah, dan bisa mendulang suara. Itu," papar Kiai Asep.

Rekomendasi