Kasus positif Covid-19 di DKI Jakarta terus mengalami peningkatan setiap harinya. Berdasarkan data di situs covid19.go.id per 15 Agustus 2020, saat ini tidak ada wilayah zona hijau di DKI Jakarta. Bahkan ada 4 wilayah yang menjadi zona merah, yakni Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Jakarta Timur.
Di DKI Jakarta, kelurahan dengan jumlah kasus terbanyak ada di Kelurahan Lagoa, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Berdasarkan pantauan merdeka.com di situs corona.jakarta.go.id, pada hari ini, 20 Agustus 2020, tercatat kasus positif aktif Covid-19 di Lagoa mencapai 127 orang. Dengan rincian, jumlah pasien dirawat sebanyak 27 orang dan 99 orang sedang menjalani isolasi mandiri. Angka ini terus bertambah dari hari Rabu kemarin. Pada Rabu, 19 Agustus 2020, tercatat jumlah kasus positif aktif di Kelurahan Lagoa sebanyak 95 orang.
Lurah Lagoa, Mujakir, mengatakan bahwa dirinya selaku lurah juga tidak mengetahui dari mana sumber penularan terjadi. Pasalnya, ia tidak melihat adanya perkumpulan warga selama beberapa minggu terakhir. Setelah di tracing, hasilnya pun menunjukkan bahwa penambahan kasus baru setiap harinya tidak bersumber dari satu wilayah saja. Namun menyebar di 18 RW. Ia pun semakin bingung karena kelurahan Lagoa bukanlah kelurahan padat penduduk.
“Tidak, bukan kawasan padat penduduk. Kasusnya menyebar di beberapa RW bukan di satu RW saja. Makanya saya juga lagi cari tahu kenanya di mana. Apa di sekolah, di kantor, di mall, apa di mana,” ujar Mujakir saat dihubungi merdeka.com, Kamis (20/8).
Mujakir mengatakan bahwa sebenarnya belum ada sekolah di Kelurahan Lagoa yang sudah dibuka. Semua sekolah masih memberlakukan pembelajaran dari rumah. Ia juga menambahkan bahwa ia telah mengimbau warganya untuk tetap di rumah. Menurutnya, tidak ada warganya yang pergi mudik maupun liburan ke luar kota, saat libur panjang hari kemerdekaan lalu maupun saat Iduladha. Selain itu, mayoritas warga Lagoa juga merupakan penduduk asli Jakarta, bukan pendatang.
“Orang asli sini semua kebanyakan. Libur panjang kemarin tidak ada yang mudik. Lagipula mana berani mereka mudik, orang kondisi begini. Saya memang tidak kasih surat edaran tapi kan kita imbau. Jangan berpergian, jangan ke luar rumah,” ujar Mujakir.
Mujakir pun semakin merasa bingung, dari mana sumber penularan di wilayahnya itu. Lantaran dalam satu bulan terakhir ini, ia melihat adanya peningkatan kedisiplinan warga dalam memakai masker. Hal ini berdasarkan data dari jumlah pelanggaran yang didapati. Dalam data yang ia himpun, ada pengurangan jumlah pelanggaran protokol kesehatan. Ia mengatakan, sanksi yang ditetapkan oleh Pemprov DKI Jakarta sudah cukup membuat warganya jera.
“Kalau jumlah total pelanggaran dari awal aturan diterapkan, waduh banyak sekali. Tidak bisa dihitung. Ada datanya di kantor, saya lupa. Kurang lebih sudah ratusan pelanggaran. Kalau sekarang sudah berkurang. Soalnya warga semakin mengerti dan semakin takut,” ujarnya.
Dia pun menambahkan, nominal denda yang ditetapkan oleh Pemprov DKI Jakarta merupakan nominal yang cukup tinggi bagi warganya. Meskipun warganya tidak hanya terdiri dari kalangan menengah ke bawah, namun nominal denda tersebut ia nilai cukup berhasil mengurangi jumlah pelanggaran protokol kesehatan.
“Soalnya kalau melanggar ada dendanya kan Rp250 ribu atau bersih-bersih. Jadi warga mikir, nah alhamdulillah sekarang tidak ada ada kerumunan orang. Tidak ada hajatan, kemarin 17-an juga tidak ada. Pada pakai masker juga,” tegas Mujakir
Oleh karena itu, ia akan terus melakukan tracing sampai sumber penularan di wilayahnya bisa ditemukan.
“Saya juga bingung. Ini kami tracing terus, jalanan juga saya tutup ini. Pokoknya kalau ada yang positif, saya lakukan langkah-langkah seperti penyemportan dan segala macam,” ujar Mujakir.