Kisah Ki Anda, bekas tukang kebun Gedung Sate tinggal di gubuk reyot
Merdeka.com - Namanya Anda. Tubuhnya kurus kering. Napasnya terengah-engah. Saat orang yang pertama kali melihat, tentu akan membuat iba.
Anda sejak 2010 menghuni gubuk apa adanya yang ada di bantaran sungai. Gubuk berbahan dasar bilik itu berada di Kelurahan Babakan Surabaya, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung. Luasnya hanya sekitar 2X2 meter.
Kakek 80 tahun itu menyambut baik kehadiran beberapa awak media. Menyambut dengan napas yang berat, Anda mempersilakan beberapa peliput untuk masuk ke dalam rumah bututnya itu.
"Silakan masuk. Maaf rumahnya sempit, karena memang begini setiap hari," kata Anda dengan ramah, Sabtu (10/9).
Dia mengatakan, di gubuk bututnya itu berpenghuni lima orang. Rumah itu diisi anak, menantu dan dua cucunya. Ruangan sempit itu tidak bersekat. Semua aktivitas dilakukan di tempat serupa, kecuali kebutuhan mandi cuci kakus (MCK) yang berada terpisah.
"Kami di sini berdesak-desakan setiap hari, tidur di sini, ngapa-ngapain juga di sini," jelasnya.

Sebelum menghuni rumah biliknya, Anda berkisah bahwa saat itu memiliki rumah permanen yang tidak jauh lokasinya dari tempat saat ini. Tapi jeratan utang harus membawanya pada garis kemiskinan.
Derita Anda mulai hinggap saat istrinya, Kurnianingsih, terserang stroke pada 2009 lalu. Biaya berobat yang tidak sedikit membuat dirinya harus mencari biaya tidak sedikit. Akhirnya Anda menjual rumahnya Rp 70 juta. Tapi kemudian istrinya meninggal di tahun sama.
"Uangnya dulu saya pakai buat bayar utang, sisanya saya bagikan pada anak-anak saya," kisah Anda. Sisa uang hasil jual rumah itu kemudian dia sisihkan untuk mengontrak rumah. Hanya saja uang yang terkuras membuat dia tidak mampu membayar sewa.
Adapun uang pada anak-anaknya katanya, dilakukan untuk membeli sawah. Tapi saat ini belum juga membuahkan hasil dari pembelian sawah tersebut. Uang hasil jual rumah, menurut Anda, ludes tanpa sisa.
Anda sadar dia harus berjuang hidup. Rumah pun harus dimiliki. Alhasil Anda mendirikan rumah bilik di tepian Sungai Cidurian, anak dari Sungai Cikapundung.
"Saat ini saya di sini sama menantu dan cucu saya," ujarnya. Sedangkan anak-anaknya ada yang mengadu nasib ke Malaysia, dan Garut untuk mencari peruntungan.
Dia mengaku, sejak tahun 1980-an pernah bekerja sebagai tukang kebun Gedung Sate tempat pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat. Anda ingat kali pertama bekerja di sana Gubernurnya adalah Raden Mohammad Yogie Suardi Memet.
Namun di era pemerintahan Dani Setiawan, kontrak kerjanya diputus. Dari situlah Anda mulai kesulitan mencari penghasilan. "Saya merasakan tiga kepemimpinan berbeda," jelasnya. Kini Anda di umur senjanya hanya mengandalkan anak bungsunya yang masih berusaha menghidupinya Aris Sutrisna yang bekerja di Sukabumi. (mdk/hhw)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya