Keributan Ormas di Depan Polres Bekasi Berawal dari Tagihan Rentenir

Wakil Kepala Kepolisian Resor (Wakapolres) Metro Bekasi Kota AKBP Alfian Nurrizal mengatakan, keributan dua massa organisasi masyarakat di depan kantornya dini hari tadi berawal dari tagihan rentenir di wilayah Rawalumbu, Kota Bekasi.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Keributan Ormas di Depan Polres Bekasi Berawal dari Tagihan Rentenir
kekerasan . ©2012 Merdeka.com

Wakil Kepala Kepolisian Resor (Wakapolres) Metro Bekasi Kota AKBP Alfian Nurrizal mengatakan, keributan dua massa organisasi masyarakat di depan kantornya dini hari tadi berawal dari tagihan rentenir di wilayah Rawalumbu, Kota Bekasi.

Alfian menuturkan, ada seorang perempuan berinisial I meminjam uang kepada koperasi. Namun koperasi itu perorangan atau biasa disebut rentenir. Pemberi pinjaman adalah anggota ormas Pemuda Batak Bersatu (PBB).

Nilai pinjaman Rp3,5 juta. Ketika pencairan, uang dipotong Rp 300 ribu. Adapun cicilannya Rp 700 ribu selama tujuh kali.

"Sehingga merasa kesulitan melunasi akhirnya dia minta bantuan dari Ormas Gempa (Gerakan Muslim Penyelamat Aqidah)," kata Alfian kepada wartawan, Rabu (9/6).

Sebelumnya pada siang hari di Rawalumbu, terjadi gesekan antara penagih yang merupakan anggota ormas PBB dengan ormas Gempa yang dimintai bantuan oleh peminjam uang. Mulai percekcokan sampai dengan saling dorong.

Malam harinya, Ormas Gempa ingin menyelesaikan masalah di Polres Bekasi dengan cara mediasi. Karena itu, mereka mendatangi kantor polisi yang ada di Jalan Pramuka, Bekasi Selatan.

Rupanya, massa dari Ormas PBB yang ingin melaporkan kasus dugaan penganiayaan oleh anggota ormas Gempa di Rawalumbu tiba lebih dulu.

"Ternyata di situ (Polres) sudah terjadi massa besar terjadilah kecekcokan salah paham," kata dia.

Keributan terjadi. Tiga anggota ormas PBB terluka, sementara 26 anggota ormas Gempa telah diamankan polisi dan sedang menjalani pemeriksaan.

Rekomendasi